
Nathan masuk ke dalam rumah Eyang melalui pintu samping rumah mengikuti Mbok Siti,
Sampai di dekat dapur terlihat Eyang yang begitu melihat Nathan langsung meminta laki-laki muda itu agar segera membopong Bunga ke dalam kamar,
"Mbok Siti, kamu siapkanlah air hangat cepat... cepat..."
Kata Eyang yang terlihat begitu panik,
"Nomor Imam berapa ya mbok... Aduuh..."
Eyang berjalan menuju meja telfon rumah untuk menelfon salah satu saudaranya yang menjadi dokter,
Biasanya, ia tak akan keberatan jika Eyang minta datang ke rumah.
Nathan sendiri telah membopong Bunga, dan ia minta tolong Mbok Siti menunjukkan kamar Bunga,
Tubuh Bunga demam tinggi, ia mulai setengah sadar namun terus mengigau tak jelas,
"Maaf... Maaf... Iya... Maaf..."
Begitu lamat-lamat Nathan mendengarnya,
"Sini Mas... sini..."
Kata Mbok Siti menunjukkan kamar Bunga,
Nathan pun cepat membopong Bunga ke sana, di mana kini Mbok Siti telah membukakan pintu kamar agar Nathan bisa langsung membawa Bunga masuk.
Kamar Bunga terlihat rapi, meski perabotannya serba model lama tapi tetap terlihat manis,
Ruangannya beraroma wangi jeruk dari pengharum ruangan,
"Punten Mbok Siti, jendelanya bisa dibukakan Mbok?"
__ADS_1
Tanya Nathan pada Mbok Siti sembari membaringkan Bunga di atas tempat tidur,
Mbok Siti pun tanpa menunggu lama dan diminta dua kali, tampak cepat berjalan ke arah jendela dan membuka daun jendela kamar Bunga lebar-lebar hingga membuat udara pagi yang segar berlarian masuk ke dalam kamar,
"Maaf... Iya... Aku mau ke sana... Maaf..."
Bunga terus mengigau,
Nathan yang begitu membaringkan Bunga di atas tempat tidur lalu mendengar igauan Bunga seperti itu jadi mengerutkan kening karena bertanya-tanya sebetulnya Bunga sedang memikirkan apa sampai dalam keadaan pingsan pun terus mengigau minta maaf,
"Butuh apalagi Mas Nathan?"
Tanya Mbok Siti tiba-tiba mengagetkan,
Nathan pun terkesiap, agak gugup takut dikira sedang apa oleh Mbok Siti karena ia menatap Bunga terus,
Nathan menghela nafas sejenak, lalu...
"Ambilkan air dingin saja Mbok sama saputangan atau handuk kecil, kalau ada minyak angin juga,"
Mbok Siti pun mengangguk dengan cepat,
"Mas jaga Mbak Bunga sebentar, Mbok ambilkan air dan minyak anginnya."
Kata Mbok Siti,
"Ngg Mbok... Tapi..."
Nathan tiba-tiba sadar jika Mbok Siti pergi berarti ia hanya berdua saja dengan Bunga di dalam kamar dan itu jelas membuatnya tak nyaman,
"Tolong Mas, sebentar jaga Mbak Bunga, jangan sampai kenapa-kenapa,"
Kata Mbok Siti,
__ADS_1
"Iya Mbok, tapi ini saya..."
Nathan belum menyelesaikan kalimatnya, tapi Mbok Siti malah sudah lebih dulu melarikan diri,
Nathan yang bingung akhirnya berpikir untuk duduk saja di kursi dekat meja belajar Bunga yang ada di depan jendela,
Namun, belum lagi Nathan beranjak menjauh, tiba-tiba Bunga meraih tangan Nathan,
"Maaf... Maaf..."
Nathan menatap Bunga, gadis itu masih memejamkan mata, sepertinya ia masih di bawah sadar,
Demam terlalu tinggi membuatnya mengigau,
"Jangan marah... jangan pergi... aku takut... aku sendirian nanti... aku takut..."
Suara Bunga lirih,
Nathan menatap lekat wajah gadis itu, di mana kini dari sudut matanya terlihat air mata menetes,
Dada Nathan seketika terasa berdetak lebih cepat, perasaannya sebagai laki-laki yang ingin melindungi seorang perempuan seolah membuncah melihat Bunga seperti tengah takut, sedih dan tertekan,
"Jangan pergi... Aku mohon... Maaf... Maaf... Kalau Eyang tidak ada, aku tidak mau sendirian, jangan pergi..."
Lirih Bunga lagi,
Nathan pun meraih tangan Bunga dengan tangan kirinya yang kini tengah memegangi tangan kanan Nathan,
Laki-laki muda itu gantian menggenggam tangan itu dengan erat dan lembut,
"Aku tidak akan ke mana-mana,"
Kata Nathan,
__ADS_1
**------------**