Twinflame

Twinflame
30. Takut


__ADS_3

Bunga tampak membuka kedua matanya, pelahan tangannya mengambil sapu tangan yang ada di atas keningnya,


Demam di tubuhnya kini sudah benar-benar turun, dan pusing di kepalanya pun telah mereda,


Bunga kemudian meletakkan sapu tangan di atas kursi yang ada di dekat tempat tidur di mana Bunga terbaring,


Sapu tangan berbahan kain seperti handuk itu tadinya digunakan Nathan untuk mengompres kening Bunga saat demam sedang tinggi-tingginya,


Bunga matanya mengerjap-ngerjap, ditatapnya seluruh ruangan kamar yang kini sepi,


Jarum jam dinding bergerak mendekati angka empat sore,


Gadis itu baru akan bangun, ketika derit pintu kamarnya terdengar, dan ketika Bunga melihat ke arah pintu, Mbok Siti tampak masuk ke dalam kamar,


Mbok Siti terlihat membawa nampan yang di atasnya terdapat bubur dan segelas air putih hangat,


"Lho, sudah bangun Mbak Bunga, baru mau Mbok bangunkan biar makan,"


Kata Mbok Siti sambil menghampiri posisi Bunga yang masih di atas tempat tidur,


"Hujan ya Mbok?"


Tanya Bunga,


Mbok Siti mengangguk, lalu meletakkan nampan yang di atasnya terdapat satu mangkuk bubur dan juga air hangat.


"Hujan dari jam tiga Mbak, tapi tidak sederas kemarin,"


Kata Mbok Siti kemudian,


Bunga kini tampak berusaha bangun dari posisi ia berbaring, duduk di atas tempat tidur sambil bersandar di sandaran tempat tidur,


Mbok Siti mengambilkan gelas air hangat yang ia bawakan, untuk kemudian diberikan nya pada Bunga,


"Eyang ke mana Mbok?"


Tanya Bunga sambil menerima segelas air hangat dari tangan Mbok Siti,

__ADS_1


"Eyang sedang ada acara di rumah Bu Tumirah, paling jam lima sudah pulang Mbak,"


Ujar Mbok Siti yang kemudian duduk di tepi ranjang dan kali ini mengambilkan semangkuk bubur ayam,


"Tadi kata Eyang, kalau bubur ayamnya Pak Wardiman lewat, disuruh beli, soalnya Mbak Bunga kan suka sekali bubur ayam Park Wardiman kalau sedang malas makan nasi,"


Tutur Mbok Siti pula,


Bunga terlihat menatap mangkuk bubur ayam yang disodorkan Mbok Siti padanya,


"Pengin ke kamar mandi Mbok, pengin cuci muka,"


Kata Bunga lirih, lalu meletakkan gelas air minumnya di atas nampan yang ada di kursi dekat tempat tidur,


"Waduh, jangan dulu Mbak, nanti saja kalau Mas Nathan sudah pulang, ini tadi Pak Darso telfon katanya baru pulang besok pagi soalnya,"


Mbok Siti terlihat panik gara-gara mendengar keinginan Bunga,


Tak terbayang pastinya jika Mbok Siti harus membiarkan saja Bunga keluar kamar menuju kamar mandi lalu terjadi hal seperti tadi pagi di mana tiba-tiba Bunga jatuh tak sadarkan diri, sedangkan mereka saat ini hanya berdua saja,


"Apa hubungannya dengan Mas Nathan?"


"Lah, Mbak Bunga tidak merasa to? Kalau yang angkat Mbak Bunga ke kamar itu kan Mas Nathan, wong Mbak Bunga tidak sadarkan diri begitu, saya sama Eyang panik sekali to Mbak Bunga,"


Kata Mbok Siti,


Bunga menatap Mbok Siti, seolah puzzle ingatannya yang sempat berantakan kini ia coba susun ulang,


Tapi, nyatanya ia memang sama sekali tak ingat apapun soal kejadian setelah ia jatuh di dekat dapur saat akan ke kamar mandi pagi tadi,


Sempat sadar ketika dokter Imam baru memeriksa, lalu setelah itu Bunga tertidur lagi hingga akhirnya bangun setelah sore hari,


Mbok Siti terlihat memberikan mangkuk bubur ayam milik Bunga ke arah gadis itu,


"Yang mengompres juga Mas Nathan tadi,"


Kata Mbok Siti menambahkan,

__ADS_1


Bunga meraih mangkuk bubur ayamnya, matanya kini menatap bubur ayam di depannya, tapi pikirannya langsung kembali berusaha mengingat soal Nathan yang mengompres dirinya,


Benarkah Mas Nathan sampai melakukannya?


Batin Bunga,


"Oh, tadi Mas Fandi telfon, Mbak, tapi sudah diangkat Eyang,"


Kata Mbok Siti,


Bunga pun yang semula sedang sibuk mencoba mengingat kejadian pagi tadi langsung saja semuanya menjadi buyar manakala mendengar Mbok Siti menyinggung soal Fandi,


"Mas... Fandi?"


Bunga seolah sedang memastikan,


Mbok Siti mengangguk.


Tampak Bunga menghela nafasnya,


"Apa yang terjadi Mbok? Apa ada masalah? Apa terjadi sesuatu?"


Tanya Bunga terlihat gugup dan tangannya yang memegangi mangkuk bubur ayam tergetar,


Mbok Siti pun cepat berdiri untuk mengambil lagi mangkuk bubur ayam yang dipegangi Bunga karena tangan Bunga gemetaran luar biasa,


"Tidak ada apa-apa kok Mbak,"


Lirih Mbok Siti lirih saat mengambil mangkuk bubur ayamnya Bunga,


Bunga tapi sepertinya tak percaya, ia tetap gemetaran karena langsung membayangkan Fandi akan segera memarahinya,


Bunga takut jika Fandi tadi menelfon dan Eyangnya akhirnya malah balik memarahi Fandi,


Jika hal itu terjadi, bagaimana jika Fandi akhirnya memutuskan mengakhiri hubungan dengan Bunga...


Bagaimana nanti Bunga bisa meneruskan hidup jika Fandi tidak lagi bersamanya sedangkan Eyang nantinya juga pasti tiada.

__ADS_1


**--------------**


__ADS_2