Twinflame

Twinflame
12. Prasangka


__ADS_3

Malam ini adalah malam pertama Nathan berada di rantau orang, malam di mana harusnya ia istirahat penuh karena esok ia sudah harus mulai pengenalan diri di kantor barunya.


Sore tadi ia sudah mengabarkan pada pihak kantor jika ia juga telah sampai dan siap masuk besok pagi, tapi...


Nathan menatap plafon ruangan yang kini ia tempati, plafon yang diam membisu itu seolah balik menatap dirinya.


Tampak laki-laki muda itu meletakkan tangan kanannya ke atas dada atas kirinya, merasakan ada sesuatu yang aneh karena sejak tadi di sana terasa berdetak lebih cepat dari biasanya.


Bunga.


Gadis ayu itu tentu saja bukan gadis cantik pertama yang Nathan kenal.


Sebagai laki-laki yang tinggal di Ibu kota, melihat gadis cantik pastinya bukanlah hal asing, tapi di matanya Bunga seperti memiliki sesuatu yang tidak biasa.


Nathan menghela nafas,


Ah tidak!


Ini mungkin karena pengaruh ia tengah kesal dengan Citra sejak akan berangkat, sejak ia memberitahu bahwa ia ditempatkan di luar kota dan ia ingin Citra bisa ikut tapi dengan cepat ia menolak.


"Bagaimana dengan karirku sendiri? Kamu mau aku hancur karirnya? Aku tidak mau ngorbanin karirku sementara karir kamu juga belum jelas."

__ADS_1


Nathan rasanya selalu ingat setiap ucapan Citra yang selalu menyakitkan baginya, yang sudah jelas memang posisi Nathan tak lebih bagus dari sang isteri dari segi karir.


Nathan memejamkan matanya, ia mulai kembali mengingat saat almarhumah Ibunya sempat menasehati jika harusnya Nathan mencari isteri dari kalangan orang biasa saja, perempuan biasa saja, supaya nantinya bisa mendampinginya dalam susah dan senang.


Nathan pelahan makin ke sini makin merasa bahwa nasehat Ibunya memang benar pula adanya, bahwa menikah itu bukanlah tentang siapa dia, tapi bagaimana dia nantinya.


Malam terus beringsut semakin larut, mendekati tengah malam Nathan yang masih sibuk dengan rumit pikiran dan perasaannya tampak hanya bisa menghela nafas berulang-ulang.


Ia berusaha memejamkan matanya setelah matanya terasa mulai panas saat jam mulai mendekati pukul satu dini hari lebih.


**------------**


Dan...


Ia duduk di atas tempat tidurnya yang sepi, di depannya meja lipat laptop tampak membisu dengan laptop yang menyala.


Citra yang dadanya masih terasa sesak karena mengingat peristiwa sore tadi Nathan bersuara tinggi kini rasanya untuk memejamkan mata saja sulit luar biasa.


Hatinya terasa sakit karena baru saja belum satu hari Nathan pergi tapi sikapnya sudah seperti itu.


Memanglah sikap Nathan sudah cukup dingin sejak ia berusaha membujuk Citra agar ikut saja tinggal dengan Nathan di tempat barunya bekerja.

__ADS_1


Nathan berjanji bahwa semua kebutuhan rumahtangga mereka tak akan pernah kekurangan sekalipun Citra tak berkarir lagi.


Tapi...


Bagaimana mungkin Citra begitu saja meninggalkan karirnya? Citra sudah meraih S2 dengan susah payah, orangtua juga pasti ingin bangga melihat Citra mendapatkan kedudukan tinggi di tempat ia bekerja.


Citra tak bisa semudah itu melepaskan apapun yang telah ia susah payah raih, Citra sudah melangkah sejauh ini, kenapa harus Citra lepaskan hanya karena keinginan Nathan?


Begitulah Citra berpikir.


Tapi...


Nathan sepertinya memang tak mau memahami alasan apapun yang dilontarkan Citra.


Nathan merasa bahwa apa yang dilakukan Citra adalah bagian dari sikap perempuan jaman sekarang yang berambisi untuk sepadan dengan laki-laki.


Citra dirasa mencoba mengabaikan perannya sebagai isteri yang harusnya manut pada suami.


Citra menghela nafas,


Mungkin begini memang risiko menikah dengan pasangan yang tak direstui orang tua, rasanya semua jadi begitu berat di lalui.

__ADS_1


Citra tak terasa meneteskan air mata, rasanya untuknya masih sulit mengerti kenapa laki-laki selalu begitu egois, seolah berkarir adalah kesalahan besar, seolah menjadi perempuan yang bekerja adalah kesalahan.


**---------------**


__ADS_2