Twinflame

Twinflame
23. Memaksa


__ADS_3

"Aku bukan tidak ada niat Mas,"


Bunga suaranya tergetar, terdengar di seberang sana kemudian Fandi mendengus seperti orang kesal,


"Aku minta maaf, aku hanya belum sempat ke tempat Ibu tadi, belum sempat juga menelfon memberitahu jika aku tidak jadi mampir karena hujan."


Kata Bunga lagi,


"Ibu sudah masak lebih karena tahunya kamu akan mampir ke rumah hari ini sepulang dari kampus, kamu mengerjai orang tua namanya karena sama sekali tidak menyempatkan diri memberi kabar,"


"Aku sungguh tidak berniat begitu,"


Kata Bunga,


"Berniat atau tidak hasilnya sama-sama Ibu merasa dikerjai,"


Kata Fandi dengan nada yang benar-benar kesal,


Bunga menghela nafas,


Sulit baginya jika sudah ditempatkan dalam posisi seperti sekarang, di mana dijelaskan seperti apapun rasanya jadi apapun tetap terkesan salah,


"Aku kurang apa sama kamu Nga? Ibuku juga kurang apa sama kamu selama ini? Kami menerima kamu sejak dulu dan tak pernah membiarkanmu sendirian, apa kamu lupa itu?"


Tanya Fandi,


Bunga kembali menghela nafas,


Kalimat itu, adalah kalimat yang akan selalu dikatakan Fandi manakala mereka ribut dan ujungnya Bunga memang tak akan pernah bisa menjawab apapun lagi,


Saat di mana ia yang hanya seorang anak yatim piatu,

__ADS_1


Saat di mana dulu dia di sekolah merasa cukup beruntung karena ada Fandi dan Ibunya saat masih dinas,


Untuk sekian lama Bunga memang sangat terlindungi dengan adanya Fandi, karena dia Bunga bukan hanya tak kesepian sebagai anak yatim piatu di lingkungan luar rumahnya,


Tapi...


"Apa hujan sangat deras?"


Suara Fandi terdengar lagi,


Bunga menoleh ke arah jendela kamar, dari posisinya di atas tempat tidur ia bisa melihat air hujan masih tampak turun mengguyur,


"Masih Mas, kenapa?"


Tanya Bunga,


"Kalau sudah tak begitu deras, kamu pergilah sebentar ke rumah,"


Kata Fandi,


"Mas, tapi ini sudah hampir maghrib, Eyang Putri pasti tidak akan mengijinkan,"


Kata Bunga,


"Kamu harus bisa jelasin dong Bunga, bilang sama Eyang putri kalau kamu harus ke rumahku karena Ibu terlanjur masak banyak."


Kesal Fandi,


Bunga tak bisa berkata-kata, ia terlalu kesal tapi tak berani bicara kasar pada Fandi,


Ia yang hanya anak yatim piatu, ia yang tak akan bisa diterima semudah itu di sekolah barunya dulu jika tak ada Fandi,

__ADS_1


Ia yang nyaris jadi korban bully jika saja Fandi tidak melindunginya,


"Perlu aku yang telfon Eyang?"


Fandi suaranya sedikit tinggi,


"I... iya Mas, nanti aku ke sana, jangan marah lagi, jangan marah lagi,"


Kata Bunga dengan suaranya yang masih tergetar,


Fandi menghela nafas, lalu terdengar suaranya bicara lagi,


"Ya baiklah, aku akan telfon Ibu,"


Setelah itu panggilan diakhiri sepihak,


Bunga sejenak menatap layar hp nya.


Wallpaper hp Bunga yang di mana ada foto Fandi ditatapnya lekat-lekat,


Sorot mata tajam itu, terlihat mewakili seluruh sosok Fandi yang seutuhnya,


Seberapa keras watak laki-laki itu, seberapa dominan posisi laki-laki itu, seberapa besar pengaruh sosok laki-laki itu,


Semuanya... Semuanya... Seolah semua benar-benar terlihat jelas hanya dari sorot matanya.


Bunga lantas meletakkan hp nya, langit senja sudah mulai memerah, sementara hujan masih turun deras,


Terbayang langsung oleh Bunga bagaimana dingin nanti diperjalanan jika Bunga nekat menerobos hujan demi ke tempat Ibunya Fandi.


Tapi...

__ADS_1


Bunga tak berani menolak. Itu masalahnya.


**-------------**


__ADS_2