
Sepanjang hari di kantor, Nathan terlihat gelisah, meski ia tahu dan sadar jika hari ini adalah hari pertamanya bekerja, tetap saja Nathan tak bisa sepenuhnya berkonsentrasi.
Bukan hanya karena ia memikirkan kondisi Bunga di rumah, namun juga karena dalam waktu yang sama hatinya merasa tak tenang karena pembicaraannya dengan dokter Imam saat perjalanan berangkat ke kantor.
Nathan terlihat mengurut kening di depan meja di dalam ruangannya, di depannya berkas terlihat menumpuk dan menuntut di garap secepatnya,
Aku ini kenapa?
Batin Nathan seolah bertanya pada dirinya sendiri,
Di luar ruangan, beberapa karyawan perempuan tak disadari Nathan mencuri pandang ke arahnya,
Dari dinding kaca ruangan, tentu Nathan bisa dilihat dengan jelas dari posisi karyawan lain yang ada di sekitar ruangan Nathan bekerja.
Nathan memang tampan, sudah jelas pastinya ia mencuri perhatian kaum hawa,
"Tapi kabarnya ia telah menikah,"
Seorang karyawan perempuan berbisik pada teman perempuan lainnya,
"Ah, benarkah?"
Kata temannya kecewa,
Si karyawan perempuan yang memberitahu informasi Nathan telah menikah tampak mengangguk kecil,
__ADS_1
"Aku dengar dari teman di HRD,"
Ujarnya,
"Sayang sekali, padahal aku sudah mulai semangat berangkat kerja lagi karena manager baru kita tampan,"
Seloroh si teman, yang lantas kemudian keduanya cekikikan,
Sementara itu, di Jakarta, Citra di kantor juga tengah sama tak tenangnya,
Sejak pagi, ia hanya duduk di depan meja kerjanya,
Tumpukan berkas yang biasanya sudah ia selesaikan dalam waktu sebentar saja terlihat masih menggunung,
Suara Tante Imel seolah kembali terngiang,
Tante adik dari Ibu itu memang kerap menjadi orang pertama yang selalu Citra datangi kala merasa memiliki permasalahan yang mulai tak sanggup ia pikul sendiri.
"Menikah itu untuk bahagia Citra, kalau tidak bahagia untuk apa? Tante sudah wanti-wanti sejak kalian pacaran, Tante pesimis Nathan bisa mengimbangi kamu yang cerdas dan memiliki kemauan tinggi."
"Aku hanya ingin ia juga maju di karirnya, aku ingin ia punya penghasilan lebih, tapi dia sepertinya merasa aku menuntutnya, dia seperti menuduh aku tidak mengerti peranku sebagai perempuan, sebagai isteri, ini sangat menyakitkan."
Keluh Citra sambil menahan air mata,
Tentu saja, Citra sejak kecil dididik orangtuanya untuk selalu kuat dan tegar, tak boleh manja dan tak boleh cengeng.
__ADS_1
Tante Imel menghela nafas menatap Citra, ia merasa bahwa keponakannya sebetulnya sangat mencintai suaminya,
"Kamu sangat mencintainya bukan?"
Tante Imel menatap Citra yang terlihat langsung mencoba mengalihkan tatapan matanya ke arah lain agar tidak sampai meneteskan air mata,
Namun...
Citra mengambil satu lembar tisu dari wadah yang ada di mejanya, mengusap air mata yang kini pada akhirnya tak bisa ia tahan lagi sejak ia meninggalkan rumah Tante Imel dan pergi ke kantor.
Mungkin memang benar jika sesungguhnya Citra sangat mencintai Nathan,
Tapi apakah benar juga jika pernikahan nyatanya tidak cukup hanya saling mencintai? Apalagi jika cinta itu lebih besar pada satu pihak saja.
Citra menghela nafas, kala tatap matanya tanpa sengaja melihat ke arah bingkai foto di samping monitor komputer di atas mejanya,
Foto pernikahannya dengan Nathan, foto saat keduanya masih terlihat begitu saling mencintai,
Pernikahan yang baru seumur jagung ini, kenapa sudah terasa begitu hambar?
Batin Citra,
Sama halnya dengan Nathan di kantornya yang juga merasa demikian.
**------------**
__ADS_1