
"Citra, kamu tidak pulang?"
Tanya teman sekantor Citra, begitu melihat Citra masih ada di ruangannya,
Teman Citra yang bagian keuangan itu tampak membuka pintu ruangan Citra sedikit dan berdiri menyandar pada kusen pintu sambil menatap Citra yang terlihat lusuh di belakang mejanya,
Yolanda, teman Citra di bagian keuangan itu tampak menghela nafas, melihat reaksi Citra yang seperti orang lemas tak bersemangat,
Perempuan itu akhirnya memutuskan masuk saja ke ruangan Citra dan menghampiri tempat di mana Citra kini duduk,
"Citra... Citra...Ayolah, sejak kapan kamu jadi pemurung begini, tidak cocok Cit kamu jadi orang yang cuma diam membisu begitu,"
Seloroh Yolanda,
Citra mengusap wajahnya, ditatapnya Yolanda yang kini duduk di kursi depan mejanya,
Yolanda tampak meletakan tas bermerk nya di atas meja kerja Citra, lantas tangannya meraih bingkai kecil yang berisi foto Citra dan Nathan,
"Aku pikir setelah menikah dengan si tampan, kamu akan ceria terus,"
Ujar Yolanda seraya meletakkan kembali bingkai foto Citra dan Nathan di atas meja kerja Citra,
Tampak Citra menatap Yolanda, teman yang juga masih termasuk keluarga jauh Ayah Citra,
"Apa ada yang salah menjadi perempuan yang berkarir macam aku?"
Tanya Citra pada Yolanda dengan suara tergetar,
Yolanda terlihat menggelengkan kepalanya seraya menghela nafas,
"Nathan?"
__ADS_1
Tanya Yolanda,
Citra tak menjawab, tak juga mengiyakan dengan anggukan,
Tapi, raut wajah Citra yang menunjukkan kegelisahan tentu menjelaskan bahwa ini memang terkait dengan orang yang ia cintai,
Ya...
Tentu saja Yolanda tahu dan mengerti, jika menikah dengan pasangan yang tak direstui orang tua cenderung membuat kita jadi sulit untuk terbuka saat harus menghadapi masalah.
"Harusnya, setelah ngotot banget nikah dengan Nathan, kamu tuh hepi, ceria, biar orang lain yang pada menyayangkan kamu nikah sama Nathan jadi malu, bukannya malah sebaliknya."
Yolanda malah mengomel tak karuan,
Citra yang diomeli tak berani menjawab apapun, karena untuk saat ink ia sendiri juga seperti sudah mulai berpikir kalau ia salah pilih,
"Pulang saja yuk Cit, main ke mana kek, biar agak fresh pikiran,"
Citra sejenak terdiam, tak langsung setuju, tapi...
"Ayolah, mau sampai kapan kamu murung cuma karena omongan Nathan yang membuat tidak semangat,"
Kata Yolanda seraya berdiri lalu menghampiri Citra yang duduk di belakang mejanya.
"Kalau misalnya, Nathan sekarang apa-apa jadi masalah, mumpung belum punya anak, ya udah cerai saja,"
Tambah Yolanda pula sambil menarik Citra agar berdiri dari duduknya,
"Tidak bisa semudah itu lah Yo, pernikahan tidak semudah pacaran yang kapan saja bisa selesai,"
Keluh Citra,
__ADS_1
"Kamu sudah tahu pernikahan berbeda dengan pacaran, tapi nekat menikah dengan orang yang bukannya mendukung isterinya semakin maju malah membuat isteri jadi terpuruk begini,"
Yolanda kemudian meraih blazer milik Citra di sandaran kursi agar bisa dipakai perempuan itu,
Setelah Citra menerima blazernya, Yolanda pun menyambar tas kerja Citra dan tas nya sendiri, untuk kemudian ia bawa sambil merangkul lengan Citra keluar dari ruang kerja Citra,
"Hidup cuma sekali, kalo hanya digunakan untuk nangis-nangis kamu rugi lah Cit,"
Kata Yolanda pula,
"Mendingan kira shoping saja sekarang, trus makan enak, bila perlu nonton ke bioskop, atau mau clubbing?
Yolanda melirik Citra yang langsung menolak cepat,
"Kau gila apa? Aku sudah tidak mau,"
Kata Citra, membuat Yolanda tertawa,
"Kita ke cafe mantanmu saja Cit, yuk,"
Yolanda menarik Citra,
"Eh ngapain?"
Citra berusaha menolak, tapi Yolanda menariknya terus,
"Sudahlah, cuma duduk sambil makan, tidak apa kan?"
Kerling Yolanda.
**-------------**
__ADS_1