Twinflame

Twinflame
7. Terpesona


__ADS_3

"Kenapa Cit?"


Vina, teman baik Citra bertanya dari tempat duduknya yang berada di seberang meja Citra.


Keduanya tengah berada di cafe dekat kantor, kebiasaan mereka setiap kali lelah selesai mengikuti rapat.


Citra tampak menghela nafas, wajahnya ditekuk dan tentu saja terlihat masam.


Dilemparnya hp nya ke atas sofa di sebelah ia duduk.


"Suamiku, dari tadi belum kasih kabar sama sekali, bukankah seharusnya jam segini dia sudah sampai?"


Citra menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, ia terlihat galau.


"Mungkin belum sempat, bukannya kamu cerita dia akan tinggal di rumah kontrakan nenek temannya saat kuliah?"


Ujar Vina seperti mengingatkan,


Tampak Citra menghela nafas, ia menyorongkan tubuhnya ke depan untuk kemudian mengambil gelas minumannya,


"Ya dia bilangnya begjtu,"


Setelah mengatakannya, tampak Citra kemudian menyeruput minumannya dari sedotan.


Vina melihat ke arah luar cafe dari kaca jendela di sebelah mereka duduk, tampak di sana dua orang laki-laki yang tak asing terlihat lewat dan sempat tersenyum ke arah Vina.


Tapi...


Ada yang membuat Vina kemudian terpaksa membuka kode pada Citra dengan tendangan kecil di kaki Citra yang ada di kolong meja.


"Apa?"


Tanya Citra yang kakinya ditendang kecil oleh Vina.


"Erwin, manajer baru Bank depan,"


Kata Vina sembari memberi isyarat dengan matanya seolah dengan memandang ke arah pintu masuk cafe yang letaknya tak jauh di belakang tempat Citra kini duduk.


"Erwin?"


Tanya Citra dengan mengerutkan kening, tapi Vina tentu saja tak sempat menjelaskan lagi, karena kini sosok tersebut kini menghampiri keduanya.


"Hai,"


Sapa sosok laki-laki muda tampan dengan setelan rapi,


Bibirnya tampak mengulas senyuman ke arah Vina, lalu setelah itu barulah ke arah Citra.


Citra terlihat tersenyum ala kadarnya, bagaimanapun tentu saja ia adalah perempuan yang telah bersuami, jadi diajak senyum laki-laki lain dengan wajah setampan apapun tentu saja tidaklah pantas jika terlalu menanggapi.


"Boleh bergabung tidak nih?"

__ADS_1


Tanya laki-laki muda tampan yang benar memang bernama Erwin itu.


Ia adalah seorang manajer Bank yang bisa dibilang usianya masih sangat muda.


Vina baru akan menggeser duduknya dan akan langsung mempersilahkan, saat tiba-tiba saja Citra berdiri dari duduknya,


"Ngg... Silahkan Pak Erwin, barangkali ingin duduk di sini, saya kebetulan mau kembali ke kantor."


Kata Citra mendahului Vina yang tentu saja langsung menatap protes ke arah Citra.


Ya pastinya...


Untuk Vina, tentu ini adalah kesempatan kedua untuk bisa saling kenal lebih dekat setelah beberapa waktu lalu mereka dipertemukan dalam satu seminar.


Meskipun, jelas sekali dari sikapnya, sang manajer muda itu tertarik dengan sosok Citra sejak awal pertemuan mereka.


Ah ya, tentu saja...


Citra memang perempuan yang cantik, bahkan sangat cantik.


Rambutnya panjang, tubuhnya tinggi semampai dengan berat badan proporsional, kulit tubuh kuning langsat, dan selalu pandai memadu padankan apapun yang ia pakai membuatnya terlihat selalu kece.


Tak heran makanya, meski ia telah menikah, namun pesonanya masih cukup memikat.


"Oh, kami pikir kalian masih akan duduk lama."


Tampak Erwin seperti kecewa, matanya menatap Citra dengan tatapan yang tak biasa.


Citra cepat mengalihkan pandangan ke arah lain, sebelum kemudian memandang ke arah Vina untuk memberikan isyarat pada temannya itu untuk cepat berdiri keluar dari cafe tersebut.


Vina lagi-lagi tak sempat bicara karena Citra lebih dulu meraih tangan Vina agar cepat berdiri.


**---------------**


Nathan baru selesai mandi, ia tampak melilitkan handuknya di pinggang dan membiarkan tubuhnya yang atletis bertelanjang dada.


Ia berjalan dari arah kamar mandi menuju kursi panjang ruang depan yang sekaligus juga tempat ia tidur karena di sana juga terdapat ranjang dan kasur yang telah rapi dipasangi seprei batik.


Nathan meraih tas nya, ia ingat belum memberi kabar pada sang isteri bahwa ia telah sampai dengan selamat.


Citra pasti akan khawatir dan uring-uringan jika sampai Nathan tidak cepat memberi kabar.


Dan benar saja, saat Nathan mengambil hp nya dari dalam tas, tampak panggilan tak terjawab dari Citra memenuhi layar, termasuk juga pesan teks dan pesan suara yang pastinya ia kirim karena tidak sabaran melihat mukenah..


Nathan pun cepat-cepat menghubungi nomor Citra, isterinya.


Ia tidak mau nantinya isterinya yang selalu mudah panik itu malah jadi uring-uringan dan melakukan hal-hal yang aneh.


Walaupun sebetulnya Nathan juga kadang seperti merasa sulit memahami kemauan Citra, yang di mana ia tak mau ikut ke manapun Nathan pergi, tapi ia sekaligus juga sama sekali tak melepaskan suaminya dari pengawasannya.


Nathan duduk di kursi panjang menatap layar hp nya, di mana tampak tulisan berdering.

__ADS_1


Namun...


Hingga kemudian, panggilan Nathan ke nomor Citra pun tak terjawab.


Ke mana dia?


Apa masih rapat?


Batin Nathan.


Dan bersamaan dengan itu, di luar pintu rumah kontrakan, terdengar suara ketukan disertai suara seorang perempuan.


"Permisi... Kulonuwuuun..."


Suara itu tepat di depan pintu rumah kontrakan, Nathan pun segera berdiri, meraih kaos yang ada di tumpukan paling atas di dalam tas pakaiannya.


Dipakainya kaos itu asal tidak bertelanjang dada, dan cepat Nathan menuju pintu rumah kontrakan.


"Kulonuwuuuun..."


Suara perempuan itu terdengar kembali,


Nathan membuka pintu kontrakannya, dan tampak perempuan paruh baya berdiri dengan nampan untuk membawa beberapa macam makanan.


"Untuk makan siang Mas, dari Eyang Putri."


Kata perempuan paruh baya yang tak lain adalah Mbok Siti.


"Waduh Bu, ini beneran saya malah disediakan makan siang."


Nathan tampak jadi tidak enak.


Belum juga membayar kontrakan, ia sudah bisa menikmati semua fasilitas istimewa di rumah kontrakan Eyang.


Ah Nathan jadi ingat belum mengubungi Singgih juga untuk mengucapkan banyak terimakasih.


"Kata Eyang jangan sungkan-sungkan, kalau mau makan ke tempat Eyang saja, atau bilang sama saya juga tidak apa-apa Mas, misal butuh dimasakkan apa."


Ujar Mbok Siti,


Tampak Nathan pun tersenyum seraya mengangguk.


"Terimakasih Bu... Terimakasih, sampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya pada Eyang, Bu."


Kata Nathan.


Mbok Siti mengangguk sopan, lantas ia pun permisi setelah Nathan menerima nampan dari Mbok Siti untuk membawa makan siang pemberian Eyang.


Tampak satu mangkuk sayur bening, satu piring kecil berisi sambal terasi dengan lalap petai goreng, tahu isi dan juga ayam goreng yang juga diletakkan di piring lauk kecil.


Nathan membawa makan siang pemberian Eyang masuk ke dalam, meletakkannya di atas meja bufet tempat TV ukuran 21inc, setelah itu ia kembali ke arah pintu untuk menutup pintu kontrakannya, ketika tanpa sengaja ia melihat ke arah jendela kayu besar di bangunan rumah Eyang.

__ADS_1


Bunga tampak duduk di sana, ia seperti sedang serius belajar atau apa di depan laptopnya, yang saking seriusnya gadis itupun tak menyadari ada sepasang mata yang menatapnya dari jauh.


**-----------**


__ADS_2