Twinflame

Twinflame
46. Khawatir


__ADS_3

"Kenapa ini?"


Eyang memandangi Bunga yang pulang dalam keadaan basah kuyup padahal ia pulang bersama Nathan,


Nathan yang mengantar pulang pun jadi tak enak hati, ia baru akan menjelaskan, namun Bunga tampak menahan,


"Ini salah Bunga, Eyang, nanti Bunga akan jelaskan,"


Kata Bunga,


Eyang menatap Nathan yang terlihat bingung harus bereaksi apa,


Tapi sebagai orangtua yang bijak, Eyang pun akhirnya menganggukkan kepalanya,


"Pergilah mandi air hangat, lalu ganti dengan baju yang tebal, Eyang akan minta Mbok buatkan teh panas, Nak Nathan juga, lebih baik segera mandi air hangat, nanti masuk angin,"


Kata Eyang pada Bunga dan Nathan,


Keduanya terlihat mengangguk, lantas Bunga pamit ke arah Nathan untuk masuk ke dalam rumah lebih dulu, tak lupa ia mengucap terimakasih, karena bagaimanapun Nathan telah begitu peduli padanya,


Tak terbayang jika tadi Nathan tak menjemputnya lagi ke rumah calon mertuanya, mungkin Bunga yang sedang terlalu sedih akan rela hujan-hujanan sambil berjalan menuju pulang,


Setelah Bunga masuk ke dalam rumah, Nathan pun ikut pamit kepada Eyang, namun sejenak Eyang menahan Nathan agar tidak pergi dulu,

__ADS_1


"Ada sesuatu yang terjadi bukan nak? Apa Nak Nathan tahu apa?"


Tanya Eyang dengan suara seperti berbisik takut Bunga bisa mendengar dari dalam rumah,


Nathan sekilas melihat ke arah ruangan dalam rumah Eyang, lalu ia menggelengkan kepalanya,


"Saya tidak tahu Eyang, tadi saya menjemput dik Bunga ke rumah calon mertuanya, namun ia sudah di jalan untuk pulang,"


Tutur Nathan,


"Ja... Jadi maksudnya, Bunga dibiarkan pulang begitu saja dalam keadaan hujan oleh calon mertuanya? Benar-benar orang itu!"


Eyang tampak geram,


"Mungkin dik Bunga keluar dari rumah calon mertuanya saat hujan belum turun Eyang,"


Nathan mencoba menenangkan, meski sebetulnya ia tahu persis Bunga pulang dalam keadaan sudah mulai hujan,


"Eyang sudah bolak balik meminta Bunga memikirkan lagi hubungannya dengan calonnya, bukan apa-apa nak Nathan, Eyang tidak suka mereka sepertinya memanfaatkan kelemahan Bunga, Eyang sampai capek rasanya mengingatkan, tolong... tolong Nak Nathan bantu bicara dengan Bunga, masih banyak laki-laki lain, kenapa harus si Fandi itu, Eyang tidak rela cucu Eyang nantinya hidupnya susah karena berada di tengah orang-orang yang tidak menyayanginya dengan tulus, Eyang tidak rela..."


Nathan menatap Eyang yang kedua matanya sampai tampak berkaca-kaca, Eyang juga sampai harus mengelus-elus dadanya yang pasti terasa begitu sesak menahan air mata,


"Sabar Eyang, dik Bunga pasti akan mampu membuat keputusan yang terbaik, dia sudah dewasa,"

__ADS_1


Kata Nathan terus menenangkan Eyang, namun Eyang terlihat hanya bisa menghela nafas,


Nathan yang jadi serba salah akhirnya memilih untuk pamit pulang lagi saja,


"Saya pamit dulu Eyang, kali lain saya akan coba bicara dengan Dik Bunga soal keinginan Eyang,"


Ujar Nathan pula,


Eyang pun lantas mengangguk, ia terlihat lebih tenang begitu mendengar Nathan berkata demikian,


"Demi kebaikan Bunga, nak, sebelum terlambat, pernikahan bukan hal yang patut dicoba-coba, bukan mainan yang nantinya kapan saja bisa diakhiri saat telah bosan,"


Nathan mengangguk sependapat,


Ya, tentu saja,


Pernikahan nyatanya memang benar bukan sesuatu yang untuk dicoba-coba, pernikahan seharusnya hanya perlu dilakukan satu kali seumur hidup,


Maka, memilih pasangan dengan hati-hati tentu adalah mutlak adanya.


Sayangnya...


Banyak manusia baru menyadari ketika semua terlambat, mungkin juga termasuk Nathan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2