
Citra baru pulang dari kantor, wajahnya pucat, Ibunya yang tengah duduk di teras depan rumah pun langsung menghampiri sang putri kesayangan yang terlihat berjalan sedikit terhuyung dari arah mobilnya,
"Kamu kenapa nak?"
Tanya Ibu,
Citra menggeleng,
"Tidak apa Bu, hanya tidak enak badan', sepertinya flu,"
Jawab Citra,
Ibu menggandeng Citra takut anaknya itu jatuh atau kenapa-kenapa,
Sembari menggandeng Citra menuju kamar, Ibu memanggil asisten rumah tangganya,
"Mbak Surtiiii... Mbak Surtiiii..."
Panggil Ibu,
Tampak Mbak Surti pun tergopoh-gopoh muncul dari arah ruang dalam,
"Siap Bu,"
Kata Mbak Surti,
"Tolong buatkan teh panas untuk Citra, Mbak, bawakan ke kamar ya,"
"Siap laksanakan."
Kata Mbak Surti sigap,
"Di kasih irisan lemon Mbak,"
Pesan Ibu,
"Siap!"
__ADS_1
Mbak Surti sigap macam ajudan perwira, hihihi...
Ibu lantas kembali berjalan menuntut Citra menuju kamar,
"Kamu ini terlalu kecapean, dan juga terlalu stres, cobalah ambil cuti dan bawa liburan, manusia itu bukan mesin, ada masanya harus istirahat,"
Kata Ibu menasehati,
Citra membuka pintu kamar, lalu berjalan pelan menuju tempat tidurnya,
Tas branded nya diletakkannya di atas tempat tidur sembarangan saja, sama hal nya dengan sepatu kerjanya,
"Aku ingin bisa naik jabatan tahun ini Bu, mana bisa aku ambil cuti, aku juga sudah beberapa kali jadi pegawai teladan, tidak bisa aku bekerja seperti orang lain yang banyak ambil cuti dan mengabaikan pekerjaan seperti makan gaji buta."
Ujar Citra,
Ibu menghela nafas,
"Kamu sudah di posisi yang sekarang juga sudah bagus, tidak apa keinginanmu untuk nantinya jadi direktur ditunda tahun-tahun depan,"
Kata Ibu,
Ibu duduk di tepi tempat tidur di mana Citra berbaring, tampak Ibu menatap foto pernikahan Citra yang di gantung di dinding ruangan kamar,
"Nathan, apa kabar dia?"
Tanya Ibu lirih,
Mendengar pertanyaan Ibu, tampak Citra hanya menghela nafas, dadanya seketika terasa sesak,
Seharian ini ia mengirim pesan pada suaminya, tapi tak ada satupun yang dibalas,
Ia hanya membaca saja, tak lebih.
Ya...
Hanya membaca dan tak ada niat sama sekali pada diri Nathan untuk membalasnya, bahkan hingga sekarang Nathan telah pulang ke rumah kontrakannya,
__ADS_1
Nathan uang akhirnya pulang bersama Bunga berboncengan memakai motor Bunga setelah hujan reda kini tampak tengah duduk di kursi depan TV di rumah kontrakannya,
Hp nya tampak dipegangnya, ia baru mengulang membaca pesan-pesan dari Citra sang isteri,
Mas, ada lowongan untuk Manager di perusahaanku, sebaiknya kamu daftar, aku akan bantu agar kamu bisa masuk.
Mas, ini kesempatan bagus, setidaknya perusahaan tempatku bekerja jauh lebih menjanjikan secara karir dan keuangan,
Mas, balas dong, kamu baca kenapa tidak balas?
Mas, kamu sibuk?
Aku lebih sibuk saja masih sempat mengirim pesan.
Mas...
Mas kamu kenapa sih?
Lalu, panggilan tak terjawab sampai delapan kali,
Kenapa tidak jawab?
Kamu masih marah sama aku Mas?
Harusnya aku yang marah, kenapa malah kamu?
Mas!
Nathan menghela nafas, rasanya semakin hari pembicaraan Citra tak pernah jauh dari karir dan penghasilan,
Kalau toh bukan itu, maka ia akan cerita soal cita-cita yang ingin beli beberapa rumah untuk investasi, atau kemudian membuat usaha sampingan untuk nantinya bisa menjadi usahanya setelah tidak bekerja lagi,
Sungguh rasanya semakin hari rumah tangga mereka lebih mirip seperti partner kantor, bukan suami dan isteri.
"Suamimu itu tidak pandai bersyukur, sudah punya isteri cantik, cerdas, karir bagus, tapi malah lebih memilih bekerja di luar kota meninggalkanmu, padahal gajian juga paling berapa di perusahaannya yang sekarang. Masih bagus dulu bekerja di anak cabang perusahaanmu meski masih tenaga kontrak, harusnya coba masuk lagi, dan berusaha supaya bisa punya karir sebagus kamu."
Ibu Citra menggerutu, bersamaan dengan itu Mbak Surti mengetuk daun pintu kamar Citra dan membawakan segelas teh panas dengan irisan lemon seperti yang diminta sang Nyonya.
__ADS_1
**-----------**