Twinflame

Twinflame
38. Salah Paham


__ADS_3

Berhentilah seakan mencari kesalahanku. Kalau memang sudah tak ingin bersama, tidak usah mencari masalah!!!


Nathan menatap layar ponselnya, ketika pesan masuk dari Citra itu buru-buru ia buka dan ternyata justeru membuat emosinya semakin ingin meluap di pagi hari,


Perempuan itu apa maunya sebetulnya!!


Kesal bukan main Nathan rasanya, karena ulah isterinya yang bukan hanya tak mau diatur namun juga sekarang benar-benar seenak sendiri,


Sungguh jelas ia melakukannya pasti karena merasa jika ia jauh lebih segalanya di atas Nathan,


Nathan tampak menghela nafas, dadanya bergemuruh, ingin memaki dan mengamuk karena pesan singkat Citra yang bukannya menenangkan malah semakin membuat amarah Nathan memuncak,


Nathan membanting hp nya, hingga hp itu pecah berantakan,


Tampak laki-laki muda itu lantas duduk di tepi tempat tidur seraya mencengkram rambut kepalanya,


Berasap rasa-rasanya isi kepalanya saat ini, bahkan mungkin nyaris meledak andai saja dibiarkan,


Tak berbeda dengan Nathan, di Jakarta Citra pun sama saja, ia menangis di atas tempat tidurnya,


Bahkan saking takutnya kedua orangtuanya tahu ia menangis, Citra harus membekap dirinya dengan bantal tidur agar suara tangisnya tak sampai keluar kamar,


Citra yang belum pernah menangis sekeras itu sepanjang hidupnya tentu akan sangat malu jika semua tahu bahwa ia menangis oleh orang yang ia perjuangkan sekuat tenaga agar bisa menikah,

__ADS_1


Sangat menyakitkan semua kata-kata Nathan di semua pesan yang ia kirimkan semalam dan baru sempat Citra baca pagi hari ini,


Pesan tulisan maupun suara yang lebih mengarah pada tuduhan tanpa dasar, seolah benar jika Citra telah bermain api dengan mantannya di belakang Nathan,


Sungguh tuduhan yang terlalu menyakitkan sampai tega Nathan mengatakan Citra seperti perempuan yang tak punya harga diri jika saat suami jauh malah justeru bertemu dengan mantannya,


Citra mengurut dadanya yang sakit dan pengap, kini ia mulai merasakan nikmatnya ujian rumah tangga,


Benarlah maka kata orang, jika manisnya rumah tangga hanyalah sehari dua hari, selebihnya adalah masa pahit untuk saling mengenal pribadi satu sama lain,


Masa di mana tak bisa lagi masing-masing memakai topeng dan berpura-pura,


Semuanya terbuka apa adanya, baik dan buruk seolah tersaji tanpa ada saringan lagi, di mana hal itu kemudian memaksa masing-masing untuk mau atau tidak menerima kekurangan dan kelebihan pasangan tanpa keluhan,


Sosok laki-laki tampan yang digilai banyak perempuan di masa bujangannya,


Dipacari Nathan tentu adalah hal yang lumayan membanggakan pastinya,


Selebihnya, Citra pikir dia adalah laki-laki yang akan bisa menjadi suami seperti di dalam dongeng atau drama korea,


Tapi nyatanya...


Citra kembali menangis, sama halnya Nathan di rumah kontrakannya yang sampai meneteskan air mata karena menahan rasa sakit dalam hatinya,

__ADS_1


Apa yang salah?


Ia hanya suami yang tengah berusaha menunjukkan bahwa ia juga mampu meniti karir tanpa harus ada bantuan sang isteri.


Kelak ia juga yakin akan meraih kesuksesan tanpa harus ada campur tangan isterinya yang sekalipun sudah lebih dulu berada di jenjang karir yang lebih baik.


Apa yang Nathan inginkan adalah hal yang sederhana saja,


Nathan ingin Citra bisa jadi isteri yang cantik dan baik di rumah dan hanya untuk dirinya saja,


Biarkan ia yang menanggung nafkah kebutuhan keluarga mereka, agar Citra tak perlu keluar rumah, bertemu laki-laki lain lalu akan membuka kesempatan ia jadi dekat dengan mereka.


Tapi...


Kini apa yang Citra katakan lewat pesan singkat yang ia kirimkan?


Menuduh Nathan ingin berpisah lalu mencari-cari masalah?


Apa dia sadar?


Apa dia tak berpikir saat menuliskannya?


Nathan sungguh hatinya sakit dan kecewa, bahkan ia merasa harga dirinya terinjak-injak sekarang.

__ADS_1


**------------**


__ADS_2