
Mobil Nathan tampak melaju pelahan keluar dari halaman rumah Eyang,
Mbok Siti terlihat masih mengawasi sampai mobil itu benar-benar tak tampak lagi dari pandangan.
Tampak Mbok Siti menghela nafas, ada senyum kecil di sudut bibirnya,
Ya...
Ia yang telah ikut mendampingi Bunga tumbuh di rumah Eyang,
Ia yang telah melihat begitu banyak hari-hari berat dan menyedihkan untuk Bunga sejak kecil karena terpaksa menjadi yatim piatu,
Tentu...
Mbok Siti sebagai abdi setia Eyang, yang merasa menyayangi Bunga dan mengasihi Bunga dengan tulus sebagaimana anak sendiri, pastinya adalah ingin melihat Bunga bahagia.
Dan bahagia itu mustahil dicapai pastinya, jikalau Bunga salah mendapatkan pasangan,
Bunga...
Gadis itu telah melewati hari-hari yang berat, bagaimana mungkin jika semua yang sayang kepada Bunga dan termasuk Mbok Siti akan membiarkan Bunga mendapatkan pasangan yang bukannya dapat membahagiakan Bunga, tapi malah membuat Bunga sering tambah sedih bahkan sampai sakit,
Mbok Siti baru akan masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang, saat tiba-tiba ia melihat Eyang ternyata berdiri di sana,
Mbok Siti tampak cengar-cengir karena dipandangi Eyang,
"Ngopo cengar-cengir?"
Tanya Eyang sambil mesem tipis lalu berbalik arah untuk mendahului Mbok Siti masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Mbok Siti yang tampak mengikuti Eyang dari belakang jadi bertanya-tanya, apa gerangan Eyang sebetulnya sejak tadi ada di sana?
Mengawasi?
Atau justeru sama-sama menikmati semua yang baru saja terjadi antara Bunga dan Nathan?
Ah iya, tentu saja, Mbok Siti meskipun hanya seorang asisten rumah tangga biasa, tapi nyatanya mengabdi bukan dalam hitungan yang baru berapa tahun membuat Mbok Siti paham sekali bagaimana saat Eyang menyukai seseorang, cocok pada seseorang,
Dan Nathan, adalah salah satu orang yang jelas sekali Mbok Siti yakini, jika Eyang menyukai pemuda itu,
Dari pengamatan Mbok Siti, sikap dan cara Eyang mengajak berkomunikasi Nathan sangat berbeda dengan sikap Eyang dan cara mengajak bicara Fandi,
"Pak Darso kemana?"
Tanya Eyang ketika keduanya akhirnya sampai di ruang makan dekat dapur,
"Oh itu Eyang, lagi ada kepentingan, tapi Mbak Bunga sudah diantar Mas Nathan kok, jadi jangan khawatir,"
Kata Mbok Siti,
"Kamu ini merepotkan Nathan saja, kasihan dia kan mau berangkat kerja,"
Kata Eyang sambil duduk di kursi yang ia duduki sebelumnya,
Mbok Siti terlihat cengar-cengir lagi sambil berjalan mendekati Eyang yang kini membuka tutup gelas wedang teh nya untuk kemudian menyeruputnya,
"Kamu ini dari tadi cengar-cengir kenapa? Mau ngebon lagi?"
Tanya Eyang membuat Mbok Siti jadi terkekeh,
__ADS_1
"Waduh Eyang ini kok sampainya ngebon,"
Kata Mbok Siti sembari terkekeh,
"Lha terus kenapa cengar-cengir begitu? Wong tidak ada yang lucu kok cengar-cengir terus,"
Ujar Eyang,
Mbok Siti tampak langsung menutupi mulutnya, karena merasa tidak enak,
Lalu, seolah orang yang tengah berusaha mencoba menenangkan diri, tampak Mbok Siti kemudian menarik nafas, baru kemudian berkata,
"Ngg itu Mbak Bunga,"
Kata Mbok Siti sambil semakin mendekatkan diri pada Eyang,
"Kenapa Bunga?"
Tanya Eyang pula,
"Itu, Mbak Bunga... Saya kok merasanya Mbak Bunga itu lebih cocok kalau dengan Mas Nathan lho Eyang, apa ya, sepertinya Mas Nathan itu orangnya penyabar, dewasa, ngemong, penyayang, ya pokoknya kalau sama Mbak Bunga sepertinya Mbak Bunga nantinya bahagia,"
Kata Mbok Siti,
Eyang putri terlihat mengulum senyum, tak mengiyakan namun juga tak berusaha menyanggah,
Perempuan yang telah sepuh namun masih terlihat garis-garis kecantikannya itu, dan pula keanggunannya, kini tampak menyeruput wedang teh nya kembali,
Bunga dan Nathan?
__ADS_1
Ya, akupun berharap demikian. Batin Eyang tanpa ingin mengungkapkannya. Seolah ia tetap ingin apa yang di dalam batinnya itu menjadi rahasia dirinya saja.
**-------------**