
"Lho, mau ke mana Nga?"
Eyang menghampiri Bunga yang sedang memakai jas hujan di dekat pintu,
"Oh Eyang, itu Yang, anu..."
Bunga kesulitan mencari alasan yang tepat untuk mengatakan harus segera ke rumah Ibunya Fandi,
Eyang menatap cucu perempuan kesayangannya,
"Masih hujan, kamu juga tadi pulang kehujanan, nanti sakit bagaimana? Sudah besok saja kalau ada perlu yang masih bisa ditunda,"
Ujar Eyang,
Bersamaan dengan itu, adzan Maghrib terdengar dari arah mushola dan masjid di sekitar wilayah tempat tinggal Eyang,
Bunga terlihat sangat gugup jadinya,
Eyang yang melihat bagaimana ekspresi cucunya akhirnya kembali bertanya,
"Sebetulnya mau ke mana?"
Ditanya demikian Bunga pun semakin gugup dan terlihat bingung,
Eyang menghela nafas,
Lalu...
"Fandi?"
Tanya Eyang akhirnya seolah menebak,
Tentu Eyang menebak begitu bukan karena Eyang sakti, tapi karena Eyang paham dan hafal betul saat Bunga terlihat gugup dan panik adalah karena biasanya Bunga sedang diminta Fandi melakukan sesuatu.
Bunga yang tak biasa berbohong pun terlihat semakin bingung harus menjawab apa, membuat Eyang menggelengkan kepalanya,
Eyang menutup pintu rumah yang semula sudah dibuka oleh Bunga,
"Telfon Fandi nya, biar Eyang yang akan bicara padanya,"
__ADS_1
Kata Eyang kemudian,
Ditatapnya Bunga yang berdiri mematung di tempatnya,
"Tapi Eyang..."
Tampak Eyang menggelengkan kepalanya, tangannya merangkul Bunga agar mengurungkan niat untuk sampai rela menembus hujan hanya untuk menuruti permintaan Fandi,
"Lepas jas hujannya, kalau Fandi marah bilang Eyang yang tidak mengijinkan,"
Ujar Eyang lagi,
Bunga menghela nafas, ia langsung terbayang apa yang akan dihadapinya nanti ketika Fandi tahu jika Bunga tak jadi pergi ke rumah Ibunya Fandi lagi,
Eyang tampak berjalan ke arah ruang dalam seraya memanggil Mbok Siti,
Bunga menatap jam di dinding yang telah meninggalkan pukul enam petang, waktu yang jelas tak biasa untuk Bunga bepergian,
Bunga akhirnya melepas jas hujannya menuruti Eyang,
Setelah dilepas, Bunga pun menggantung jas hujannya di dekat pintu utama.
"Fandi itu bagaimana jadi laki-laki, hari sudah petang minta Bunga pergi ke mana tidak tahu,"
Eyang di ruang dalam terdengar menggerutu, Mbok Siti pun memandangi Eyang sambil kebingungan,
"Eyang, ini jadi mau buat dadar telur?"
Tanya Mbok Siti,
Eyang mengangguk sambil duduk di depan meja makan,
"Buatkan teh dulu Mbok Siti,"
Kata Eyang,
"Nggih Eyang,"
Sahut Mbok Siti cepat,
__ADS_1
Eyang yang telah duduk di depan meja makan terlihat memandangi wadah buah di tengah meja makan,
Tak lama Mbok Siti muncul membawakan segelas wedang teh ke arah Eyang,
"Mau dibawakan apalagi Eyang?"
Tanya mbok Siti saat meletakkan segelas wedang teh di depan Eyang.
"Tidak usah Mbok,"
Eyang menggeleng, lalu...
"Mbok,"
Panggil Eyang,
"Ya Eyang, bagaimana?"
Tanya Mbok Siti,
Eyang terlihat menghela nafas, lalu..
"Mbok Siti, aku kok lama-lama makin tidak suka dengan si Fandi itu ya?"
lirih Eyang,
Mbok Siti mengerutkan kening, sambil menatap Eyang Putri,
Mbok Siti tentu saja tidak berani mengatakan sesuatu untuk menanggapi kata-kata Eyang,
"Sudah tahu sudah mulai gelap, hujan juga, masih tega minta Bunga keluar, tidak tahu dia mau ke mana itu,"
Eyang kembali menggerutu,
Sementara itu, Bunga yang semula akan masuk ruang dalam akhirnya mengurungkan niatnya begitu mendengar tak sengaja Eyang menggerutu di depan Mbok Siti,
Bunga berdiri di dekat pintu saja, di samping tirai pintu yang membatasi antara ruang depan dan ruang tengah.
**----------**
__ADS_1