
Citra pagi itu terbangun dengan kepala yang terasa berat dan perut tidak enak,
Tampak ia menatap jam dinding kamar yang menunjukkan pukul enam pagi.
Perempuan cantik itu tampak pelahan menyibakkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya, membiarkan tubuhnya yang hanya dibalut gaun tidur tipis itu merasakan dinginnya AC kamarnya,
Ah dingin,
Kini Citra pelahan mulai kembali teringat betapa dinginnya rumah tangganya sekarang,
Sejak ia dan Nathan mulai sering beda pendapat tentang rencana punya anak, tentang karir Citra dan juga ada beberapa kali tentang Nathan yang ingin mereka tinggal terpisah dari orang tua Citra, membuat hubungan keduanya pelahan mengalami kerenggangan lalu akhirnya lama-lama menjadikan kehangatan antara keduanya pun memudar.
Nathan yang semula sebetulnya sebagai laki-laki bisa dibilang cukup romantis, tiba-tiba saja menjadi seperti cuek,
Saat akan tidur yang sebelumnya Nathan selalu mengucapkan selamat malam, atau sekedar mengecup kening, atau bahkan jika Citra sudah lebih dulu tidur maka Nathan akan memeluk dari belakang sepanjang malam, tiba-tiba sejak mereka sering bertengkar mulut, Nathan tak lagi melakukan semua itu.
Jangankan memeluk semalaman, atau mengecup kening, hanya mengucap selamat malam saja sepertinya Nathan sudah sama sekali tak ada keinginan untuk melakukannya,
Citra menghela nafas panjang,
Mengingat dan menyadari jika jarak antara dirinya dan Nathan yang kini seperti begitu jauh membuat hatinya sebetulnya begitu sakit,
Tapi...
Lagi-lagi Citra tak mampu berbuat apa-apa ketika pilihan yang dihadapannya adalah karirnya,
Mengorbankan karir sama saja membunuh sebagian dirinya,
__ADS_1
Karir yang ia bangun dengan susah payah, karir yang merupakan impiannya sejak dulu dan juga sesuatu yang selalu bisa dibanggakan kedua orangtuanya, bagaimana mungkin Citra harus melepaskan begitu saja?
Anak...
Ya anak,
Tentu saja Citra juga ingin memilikinya,
Tapi itu bisa nanti.
Setelah karir Citra aman, setelah karir Nathan juga bagus.
Bukankah anak butuh jaminan masa depan yang baik?
Anak bukan hanya cukup diberi makan dan pakaian.
Bukan hanya itu,
Mereka juga harus memiliki orangtua yang bisa dibanggakan, yang bisa membuat mereka tidak sampai rendah diri.
"Tapi menunda terlalu lama akan membuat kehamilan mu berisiko jika sudah lebih dari tiga puluh tahun,"
Begitu Nathan sempat bicara pada Citra ketika mereka ribut beda pendapat soal anak pada awal-awal nya,
Citra menggeleng keras,
"Tidak ada risiko yang berarti jika kita sudah punya uang cukup untuk memilih rumah sakit mana yang paling mahal dengan perawatan maksimal,"
__ADS_1
Ujar Citra,
Nathan hari itu kemudian hanya membanting botol parfum ke atas karpet lantai, lalu memilih bungkam dan pergi ke rumah Ibunya.
Dan jika sudah demikian, maka Citra merasa Nathan pasti akan mendapatkan masukan dari sang Ibu yang intinya pasti akan semakin menyalahkan Citra,
Tentu saja, Citra bukan tidak tahu jika Ibu mertuanya sejatinya tidak menyukai dirinya,
Jika Citra berkunjung, selalu saja Ibu mertuanya itu akan membahas soal betapa ia sangat menyukai perempuan muda yang pandai memasak, pandai mengurus rumah dan suami,
Semua hal yang sebetulnya menurut Citra sudah lumrah bisa dilakukan kebanyakan perempuan, sementara Citra adalah sebaliknya.
Ia mungkin tidak bisa memasak, mengurus rumah dan suami dengan kedua tangannya sendiri,
Tapi...
Citra memiliki karir yang sangat cemerlang, yang jika ia mau, tentu ia sudah bisa menarik Nathan masuk ke perusahaannya,
Sayangnya, Nathan terlalu gengsi melakukannya, dan ia lebih memilih bekerja di tempat lain, hingga karir pun seolah jalan di tempat saja.
Citra tampak meraih hp nya yang kini ada di atas kasur, terlihat banyak panggilan tak terjawab dari Nathan dan juga pesan dari Nathan juga,
Kenapa heboh sekali?
Batin Citra heran sambil bersiap membuka pesan di hp yang masuk.
Hingga ...
__ADS_1
**------------**