
Selepas maghrib, Bunga baru selesai mandi sore, kebiasaan yang sebetulnya selalu dimarahi Eyangnya.
Tapi berhubung Eyang hari ini ke rumah Paman dengan diantar Pak Darso, yang kemungkinan akan pulang malam nanti, Bunga pun aman dari omelan.
"Mbok, aku lagi pengin dadar telur,"
Kata Bunga pada Mbok Siti yang sedang menyetrika di ruang setrika.
"Oh nggih nanti Mbok buatkan,"
Kata Mbok Siti,
"Bahan untuk bikin kue punya Bunga dipindah ke mana ya Mbok?"
Tanya Bunga kemudian.
"Bahan kue?"
Mbok Siti meletakkan setrikanya di tatakan, lantas mencabut kabel setrika dari colokan.
Mbok Siti keluar dari ruang setrika untuk kemudian menuju ke dapur, ia tak begitu ingat waktu beres-beres karena yang memindahkan semuanya juga bukan Mbok Siti sendiri, tapi Pak Darso.
"Gara-gara kemasukan tikus satu ini."
Kata Mbok Siti, membuat Bunga tertawa kecil.
Bersamaan dengan itu, tiba-tiba terdengar suara ketukan di luar rumah, melihat Mbok Siti sibuk mencarikan bahan kue, membuat Bunga akhirnya yang menuju ruang depan untuk membukakan pintu.
Biasanya, yang suka bertamu di jam seperti ini adalah Pak RT atau kadang juga marboth masjid yang memang sering diminta datang oleh Eyang untuk diberikan santunan.
Bunga bergegas menuju pintu ruang depan, pintu yang setengahnya juga terbuat dari kaca dan ditutup tirai putih khas pintu rumah jaman dulu.
__ADS_1
Dari balik tirai itu, Bunga bisa melihat sosok yang berdiri di depan sana bukanlah Pak RT ataupun Marboth masjid yang biasa bertamu untuk bertemu Eyang, melainkan Nathan.
Bunga membuka pintu rumahnya, dan benarlah tampak Nathan berdiri di sana.
"Oh Dik Bunga, maaf mengganggu."
Ucap Nathan,
Bunga tersenyum sambil mengangguk kecil,
"Tidak apa-apa Mas, ada apa?"
Tanya Bunga,
"Ini..."
Nathan mengambil nampan dengan setumpuk piring yang sudah bersih dicuci.
Bunga menerima nampan dengan setumpuk piring yang diberikan Nathan.
"Saya sudah biasa kok nyuci sendiri, tidak apa, meringankan pekerjaan Mbok Siti."
Kata Nathan.
Bunga hanya bisa tersenyum, rasanya sulit dipercaya laki-laki muda yang bekerja kantoran dan berasal dari Ibu kota bisa mencuci piring sendiri, bahkan Fandi saja rasanya belum pernah Bunga melihat melakukannya.
"Ya sudah dik Bunga, saya permisi ya..."
Nathan berpamitan, Bunga menganggukkan kepalanya,
"Iya Mas, monggo,"
__ADS_1
Nathan kemudian pergi meninggalkan teras rumah Eyang, Bunga sendiri masuk kembali ke dalam rumah dan menutup pintu, saat kemudian Bunga tanpa sengaja melihat keluar dari balik kaca yang terhalang tirai putih tipis Nathan menoleh ke arah pintu di mana Bunga masih berdiri di baliknya.
Detak jantung yang tak biasa itu terasa kembali.
Entah kenapa, Bunga pun tak tahu.
Bunga cepat menjauh dari pintu, dan membawa nampan dengan tumpukan piring yang telah bersih.
Di dapur Mbok Siti begitu Bunga muncul langsung menunjukkan wadah tempat bahan-bahan kue milik Bunga.
"Bahan kuenya dimasukkan wadah lagi sama Pak Darso sebelum disimpan di lemari, sepertinya supaya lebih aman."
Tutur Mbok Siti,
"Oh pantas aku tidak bisa menemukannya."
Kata Bunga seraya meletakkan nampan berisi tumpukan piring ke atas meja dapur.
"Mas Nathan?"
Tanya Mbok Siti pada Bunga saat melihat nampan yang diletakkan Bunga.
Jelas saja Mbok Siti tahu karena siang tadi dia yang mengantarkan makanan.
"Iya Mbok, sudah dicuci bersih."
Kata Bunga.
"Wah wah... sudah ganteng rajin kerjanya enak di kantor, ini calon suami yang baik."
Kata Mbok Siti, membuat Bunga hanya bisa tersenyum saja.
__ADS_1
**-------------**