Twinflame

Twinflame
43. Calon Mertua


__ADS_3

"Chat saja atau telfon kalau mau pulang dik, Mas berangkat dulu, mari Bu,"


Pamit Nathan pada Ibunya Fandi yang terlihat keluar dari pagar rumah untuk kemudian berdiri di samping Bunga,


Wajah Ibunya Fandi memperlihatkan dengan jelas jika ia tidak suka melihat kehadiran Nathan di sana.


Ibunya Fandi sekilas melirik Bunga di sampingnya, yang kini Bunga terlihat gugup seolah tak tahu harus bagaimana,


Bunga hanya mengangguk kecil saja dan mencoba menyunggingkan senyuman pada Nathan,


Mengantar laki-laki muda tampan itu masuk lagi ke dalam mobil, hingga kemudian mobil itu dibawanya berbelok arah untuk kembali menuju jalan raya utama,


"Siapa dia?"


Tentu saja, pertanyaan yang pastinya akan langsung Bunga dengar dari Ibunya Fandi, tatkala Nathan telah pergi dan tinggallah mereka berdua saja.


Bunga sejenak meraih tangan Ibunya Fandi untuk bersalaman dan mencium punggung tangannya,

__ADS_1


"Kenapa kamu bisa-bisanya pergi diantar laki-laki asing? Apa Fandi tahu kelakuanmu yang seperti ini? Ckckck... Bunga, perempuan itu harus tahu menjaga harga dan martabat diri, jangan murahan, gampang diantar laki-laki sembarangan, perempuan itu tidak punya apapun selain harga diri, kamu mau jadi tidak berharga karena gampang diajak laki-laki, diantar laki-laki, kamu pikir itu prestasi? Bukan? Perempuan yang tidak gampanganlah yang berprestasi, perempuan bukan dagangan yang makin banyak orang tertarik berarti laris,"


Ibunya Fandi terus bicara tanpa jeda sampai Bunga bahkan tidak tahu caranya menyela dan menjelaskan jika Nathan adalah teman Kakak sepupunya, dan dia sudah dianggap saudara sendiri oleh Eyang,


"Apalagi kamu itu calon isteri Fandi, kamu tahu kan? Fandi itu biasa dipandang baik oleh banyak orang, jangankan keluarga sendiri, teman, sahabat, tetangga, semua mengagumi sosok Fandi, kamu kan juga tahu, dulu saat sekolah seperti apa jika tidak ada Fandi yang melindungimu di saat kamu tidak punya siapa-siapa selain Eyang yang sudah sepuh dan hanya di rumah saja,"


Ibunya Fandi masih terus bicara, sambil berjalan masuk ke dalam rumah, dengan diikuti Bunga di belakangnya,


Bunga yang berjalan pelan di belakang Ibunya Fandi terlihat menghela nafas,


Pusing sebetulnya mendengar calon mertuanya itu terus bicara ke sana ke mari seperti tak mau berhenti,


Ibunya Fandi tampak kemudian duduk di sofa ruangan tengah rumahnya,


Bunga menyusul duduk, melepaskan tas selempang kecil untuk ia letakkan di atas sofa di samping ia duduk,


Ibunya Fandi menatap Bunga,

__ADS_1


"Kamu kenapa baru ke sini? Katanya kamu sakit? Ah paling masuk angin kan? Jangan dibiasakan manja, nanti jadi terbawa sampai menikah,"


Ibunya Fandi kembali bicara,


Bunga tampak menghela nafas lagi,


"Kalau sudah menikah, perempuan itu tidak boleh manja, tidak boleh banyak mengeluh, apalagi cuma sakit sedikit saja sudah cengeng tidak mau apa-apa,"


Tambah Ibunya Fandi,


"Ngg, Bunga tidak akan begitu Bu, kalau hanya masuk angin sih Bunga juga sekarang tetap kuliah kok Bu,"


Ujar Bunga,


Ibunya Fandi terlihat hanya menarik ujung bibirnya sedikit untuk menanggapi kalimat Bunga,


"Ya pokoknya Ibu sih sudah kasih tahu, sudah kasih nasehat, soalnya kalau sudah jadi isteri ya jangan apa-apa bergantung pada suamilah, biar suami cari uang saja, jangan sampai dia malah jadi ikut mikirin hal lain,"

__ADS_1


Kata Ibunya Fandi sambil menatap Bunga yang terlihat mengangguk saja tak berani menyanggah lagi,


**-------------**


__ADS_2