
Di mana kamu?
Kenapa sekarang tidak sering chat?
Sudah ke rumah Ibuku?
Angkat telfonnya!!
Kamu di mana sebetulnya?
Kamu mengabaikanku?
Kamu sengaja kan?
Begitu banyak pesan masuk dari Fandi membuat Bunga harus berulangkali menghela nafas,
Bagaimana tidak?
Semua pesan yang dikirimkan Fandi begitu menyesakkan dada, seperti pesan tuduhan yang bukannya membuat hati pasangan merasa senang di kirimi pesan, tapi malah sebaliknya,
Enggan nanti jadi semakin panjang Fandi mengomel lewat pesan, Bunga pun memilih tak membalas sama sekali, bahkan ia pun membaca pesannya hanya dari tangkapan di layar depan,
Ya...
Dulu rasanya Bunga cukup nyaman dengan Fandi, dia seperti kakak laki-laki yang melindungi, menjaga dan sekaligus juga sahabat yang bisa selalu mengerti.
Bagi Bunga saat memutuskan menerima cinta Fandi tentu adalah karena ia berpikir bahwa sosok Fandi lah yang ia butuhkan.
Ia tak perlu cinta ataupun perasaan semacam itu untuk menjalin hubungan, karena toh nantinya, semua akan berlalu ketika ujungnya menikah.
Ya...
Apa memangnya ujung dari satu hubungan jika bukan pernikahan?
Maka dari itulah, Bunga merasa bahwa menjalin hubungan cukuplah dengan melihat sosok itu bisa memenuhi apa yang ia butuhkan atau tidak, dan...
__ADS_1
Saat itu, Bunga merasa Fandi bisa melakukan semuanya.
Tapi...
Itu dulu.
Beberapa tahun lalu sebelum belakangan ini Bunga merasa Fandi menjadi sangat posesif.
Bunga semakin lama seperti berada di dalam jeratan Fandi, yang ke mana saja, di mana saja, apa saja yang Bunga lakukan, bersama siapa saja, Bunga harus laporkan kepada Fandi,
Selain itu, Bunga juga diharuskan ke tempat Ibunya Fandi, harus belajar apa saja di sana, memasak, membuat kue, menjahit, menyulam, dan juga mendengarkan nasehat calon mertuanya yang bisa dibilang selalu berulang-ulang.
"Isteri itu harus manut apa kata suami, karena surga isteri itu ada pada kaki suami."
"Kalau suami meminta apapun, isteri wajib memberikan dan melakukannya,"
"Orangtua suami adalah wajib isteri juga berbakti dan mengurus, jika suami memberikan uang lebih banyak pada Ibunya pun isteri tidak boleh protes atau merasa suami tidak adil. Harus legowo, harus ikhlas. Karena bagaimanapun suami bisa sampai sukses itu kan karena Ibunya."
Begitulah kira-kira nasehat yang terus berulang-ulang,
Itu juga kalimat yang selalu Bunga dengar ketika berkunjung ke rumah Fandi,
Bunga menghela nafas, berjalan menyusuri area kampus dengan wajah muram karena di awal hari seperti ini sudah dapat serentetan pesan dari Fandi hingga harus mengingat semua yang makin ke sini makin menyebalkan dari hubungan mereka.
"Hey! Kenapa melamun pagi-pagi."
Tiba-tiba seorang teman merangkul Bunga, membuat Bunga nyaris terlonjak,
"Ah kamu ta Lia, hampir saja aku jantungan,"
Kata Bunga pura-pura menggerutu,
"Nga, buatkan kue ultah dong minggu ini,"
Pinta Lia,
__ADS_1
Bunga menatap Lia,
"Buat cowokku,"
Kata Lia pula,
"Minggu ini?"
Tanya Bunga,
Lia mantuk-mantuk,
"Kue saja kan?"
Tanya Bunga pula,
"Iya, kue saja, yang seperti tahun kemarin."
Ujar Lia,
"Oh, ya, oke..."
Sahut Bunga.
Lia pun tersenyum senang,
Bunga menatap Lia do sampingnya yang masih merangkul Bunga,
Gadis cantik itu terdengar sibuk menceritakan sosok pacar kebanggaannya yang pengertian dan selalu bisa meredakan amarah Lia jika sedang emosi.
"Dia cowok yang sangat lembut dalam segala hal, aku benar-benar ingin hubungan kami bisa sampai menikah. Ya, nanti setelah wisuda, kami mungkin akan langsung menikah Nga, toh kata dia, tidak masalah jika aku nantinya ingin bekerja."
Mendengarnya Bunga pun menghela nafas,
Sayang sekali, meski Bunga juga rencananya akan menikah setelah wisuda, tapi ia tak sebahagia Lia sekarang.
__ADS_1
**--------------**