
Sreeeng...
Dari dapur terdengar suara orang menggoreng sesuatu, bersamaan dengan itu aroma khas telur digoreng pun langsung tercium.
Mbok Siti yang baru pulang dari membeli sawi sesuai permintaan Bunga tampak tergopoh-gopoh masuk dari pintu samping rumah yang langsung terhubung ke arah dapur.
"Beli ubi kukus Bu?"
Tanya Pak Darso, suami Mbok Siti, saat keduanya berpapasan di dekat pintu dapur di mana Pak Darso terlihat membawa satu gelas kopi hitam yang kebul-kebul.
"Oh iya ini Pak, ubi rebus sama getuk, nanti tek siapkan."
Ujar Mbok Siti.
Pak Darso mantuk-mantuk,
"Aku mau manasi mobil,"
Kata Pak Darso pula, yang lantas melanjutkan langkahnya keluar dari pintu samping rumah.
Bunga di depan penggorengan terlihat sudah sibuk memasukkan bumbu halus nasi goreng yang tadi ia minta tolong Pak Darso ulek menggantikan tugas Mbok Siti,
Mbok Siti mengeluarkan satu ikat sawi untuk ia cuci di wastafel,
"Ambil satu helai saja Mbok, lalu di iris kasar kayak biasa."
Kata Bunga pada Mbok Siti,
Tampak Mbok Siti cepat menyiapkan apa yang diminta Bunga, sementara Bunga sudah mulai mencampurkan nasi ke dalam bumbu yang ia tumis di penggorengan,
Bunga setiap hari memang bertugas membuat sarapan, sejak ia sekolah menengah tingkat pertama, Eyang memang mengajarkan Bunga untuk memasak bekal ke sekolah sendiri, lalu akhirnya lama-lama dibuatkan jadwal menyiapkan sarapan sekalian untuk di rumah.
__ADS_1
Bunga yang pada dasarnya suka semua hal yang berhubungan dengan urusan dapur tentu saja merasa senang-senang saja. Ia sama sekali tak merasa keberatan, bahkan malah ia bersyukur karena ada kemampuannya yang berguna dan cukup diapresiasi.
Kata Paman bahkan masakan Bunga sudah hampir menyamai masakan Eyang, yang itu berarti sudah bisa dibilang enak.
Itu sebabnya, tak heran jika Pamannya sering menawari Bunga untuk mulai bisnis makanan saja, Paman bahkan tidak keberatan jika memang harus meminjami Bunga untuk modal usaha.
Tapi...
Sayang disayang, Eyang tak mengijinkan Bunga terjun bisnis sebelum kuliahnya selesai. Untuk Eyang, sulit percaya rasanya jika ada anak muda yang bisa fokus menjalani lebih dari satu bidang kegiatan.
Maka, daripada nanti kuliah Bunga malah tidak jelas juntrungnya, walhasil lebih baik Bunga menunda keinginannya untuk merintis usaha kuliner sesuai keinginannya.
"Tapi kalau memulai bisnis sejak kuliah, kita jadi tidak usah khawatir tidak bisa kerja Eyang, bahkan kita mungkin bisa membuka lapangan kerja."
Begitu Bunga sempat mendebat keputusan Eyang,
"Kuliah itu bukan semata untuk mencari kerja, tapi lebih dari itu, kamu punya ilmu dan punya pengalaman. Kalau apa-apa kamu nilai dari uang, maka kelak berkerja pun kamu hanya menjadi budak uang. Semua kamu nilai dengan uang, bahkan saat kamu harusnya bekerja untuk Negara juga akhirnya sulit untuk tidak karena uang. Tidak apa-apa jika ada mahasiswa yang masih kuliah tapi mereka juga bisa memiliki bisnis yang maju, tapi tidak semuanya bisa seperti itu, dan Eyang hanya ingin kamu fokus satu persatu, tidak perlu terburu-buru, lakukan semuanya sesuai waktunya."
Akhirnya, karena itulah, Bunga tak berani mengambil risiko menentang keputusan Eyang, ia tetap menjadikan hobinya hanya sebatas hobi dan juga sebagai kegiatan rutin saja di rumah.
Hanya sesekali saja, jika ada temannya yang pernah merasakan masakannya, maka Bunga membuatkan sesuai pesanan.
Kadang ricebowl oseng mercon, kadang ricebowl cumi lombok ijo, kadang ricebowl chicken katsu, kadang juga ricebowl chicken lada hitam, pokoknya sesuai pesanan mereka saja.
"Hmm... Aromanya sudah mantap ini,"
Puji Mbok Siti seraya mengacungkan kedua ibu jarinya.
Ia terlihat sudah menyiapkan ubi kukus dan getuk di atas dua piring kecil.
Satu untuk Pak Darso, dan satunya untuk Nathan, sesuai pesan Eyang.
__ADS_1
"Waduh sudah matang ini nasi goreng spesialnya."
Eyang tampak masuk ke dapur seraya menggelung rambut,
"Hehe... Tidak ada ayam gorengnya Eyang."
Kata Bunga,
Eyang terkekeh,
"Telor ceplok saja, di tambahi bawang goreng diirisi cabe rawit."
Ujar Eyang pula.
Bunga mematikan kompor, lalu mengaduk nasi gorengnya lagi agar lebih rata.
"Saya mengantar ubi kukus dulu Eyang,"
Kata Mbok Siti,
Eyang mengangguk.
"Iya Ti, buat Nak Nathan jangan lupa."
Ujar Eyang,
"Nggih ini Eyang."
Kata Mbok Siti sambil menunjukkan dua piring kecil berisi ubi kukus dan kacang kukus yang akan ia antarkan untuk Pak Darso dan juga Nathan di rumah kontrakannya.
**-------------**
__ADS_1