
Hari ini Nathan akhirnya memutuskan untuk mulai menggunakan mobil kantor untuk selama ia bekerja di kota ini,
Bukan mobil yang istimewa, hanya mobil minibus seribu umat berwarna silver,
Nathan terlihat masih berada di dalam mobil saat perjalanan pulang, ketika hujan turun kembali sore ini,
Nathan menatap jalanan yang lumayan padat, meski jelas tak sepadat Jakarta.
Masih ada cukup waktu untuk Nathan yang ingin pergi ke toko kue sebentar.
Ia ingin membeli kue untuk Bunga yang sedang sakit di rumah.
"Salah satu toko kue yang rasanya bisa dipastikan enak itu ada di sebelah kiri jalan jika nanti Pak Nathan dalam perjalanan pulang. Toko Monalisa bakery, coba saja diperhatikan bagian sisi kiri jalan,"
Kata sekretaris kantor ketika Nathan bertanya,
Dan...
Nathan pun mencari nama toko kue itu sambil mengemudikan sendiri mobilnya,
Hingga kemudian, Nathan pun melihat sebuah papan nama toko kue berukuran cukup besar dekat sebuah showroom mobil,
Nathan pelahan membawa mobilnya mendekati toko Monalisa bakery yang telah ia cari-cari.
Sampai di depan pelataran toko kue tersebut, Nathan pun lantas memarkirkan mobilnya,
Tampak laki-laki muda berwajah tampan itupun turun dari mobilnya, sedikit berlari menuju toko untuk menghindari guyuran hujan,
Di depan toko kue, Nathan sejenak menyempatkan diri mengusap kemejanya yang sedikit basah.
Tak lama kemudian Nathan berjalan masuk ke dalan toko kue, pelayan menyambut ramah kedatangannya,
Nathan yang berencana akan membeli cheese cake saja langsung meminta pelayan yang menyambutnya itu agar menunjukkan tempatnya,
Gadis pelayan toko Monalisa bakery itupun dengan senang hati langsung menunjukkan ke bagian cheese cake dan juga beberapa model tart.
Nathan memilih beberapa cake, setelah dibungkus iapun membayar dan pulang.
Senja telah menyelimuti seluruh langit kota, hujan pun mulai sedikit reda,
Udara terasa benar-benar lembab setelah sejak siang hari hujan mengguyur hampir tak ada henti.
Mobil Nathan bergerak pelahan meninggalkan area parkir Monalisa bakery, dan kemudian melesat di jalanan kota menuju pulang.
Entahlah...
Nathan yang seharian di kantor begitu gelisah karena menyesali ketidak jujurannya ketika dokter Imam menanyakan statusnya, kini ia kembali merasa harus gelisah karena hatinya begitu ingin cepat pulang ke rumah kontrakan dan tahu bagaimana kondisi Bunga saat ini.
Gadis dengan tatapan, senyuman dan suara lembut itu, membuat Nathan seperti pelahan hatinya benar-benar tercuri.
Ah, tidak!
Nathan berusaha menyanggah,
Tidak, aku bukan sedang jatuh cinta. Aku hanya merasa Bunga seperti adik Perempuanku saja, sungguh.
Begitulah hati Nathan berusaha meyakinkan dirinya sendiri ketika ada satu sisi hatinya yang lain seolah berusaha membuat Nathan tak sampai tenggelam dalam perasaannya kepada Bunga.
__ADS_1
Nathan mempercepat laju mobilnya,
Untunglah jalanan kota kecil ini mudah sekali dihafal, hingga untuk Nathan tak susah rasanya langsung membawa kendaraan sendiri.
**------------**
"Ya, Eyang tadi bicara dengan Fandi."
Kata Eyang pada Bunga.
Eyang baru saja pulang dan langsung ke kamar Bunga untuk melihat keadaan cucunya.
Namun sampai di kamar Bunga, Eyang malah justeru mendapati Bunga sedang menangis seraya memegangi hp nya.
Eyang yang tak mau Bunga sakit lagi tentu saja langsung mengambil hp Bunga, dan menanyakan apa yang terjadi.
Dan...
Bunga menanyakan soal kebenaran cerita Mbok Siti dan Fandi soal Eyang bicara banyak hal dengan Fandi.
"Kenapa Eyang memarahi Mas Fandi? Ini salah Bunga karena tidak menyempatkan diri ke rumah Ibunya, memang ini salah Bunga, Eyang."
Kata Bunga menatap Eyangnya,
Tampak Eyang menghela nafas,
"Kamu salahnya di mana? Kamu tidak datang karena hujan, lagipula hak Fandi itu apa menyuruhmu selalu datang ke rumah Ibunya? Kalian ini belum menikah, belum ada kewajiban atasmu berbakti pada Ibunya Fandi. Menghormati ya, tapi tidak dengan berbakti."
Eyang rasanya jadi kesal.
Lirih Bunga dengan suara tergetar, ia baru saja dimarahi Fandi karena merasa Bunga sekarang semakin tidak dewasa dengan menyeret Eyang ikut campur masalah mereka.
Ya...
Bunga akui kata-kata Eyang mungkin memang ada benarnya, jika sebetulnya Bunga memang belum ada kewajiban berbakti pada Ibunya Fandi,
Bunga juga tahu betul dan sadar betul, bahwa dirinya sekarang semakin malas datang ke tempat Ibunya Fandi salah satunya adalah karena mulai jenuh dengan nasehat yang selalu akhirnya melebar ke mana-mana.
Tapi...
Eyang menatap Bunga dengan tatapan mata tajam, lalu...
"Eyang sudah minta Fandi datang ke rumah kalau dia pulang, katanya dia pulang pekan depan, Eyang ingin kalian duduk bersama Eyang, supaya Eyang bisa bicara banyak. Percuma jika Eyang hanya bicara denganmu saat ini, apalagi kamu baru saja membaik, Eyang tidak mau melihatmu sakit lagi."
Eyang sejenak berhenti, nafasnya sedikit sesak karena menahan kesal melihat Bunga yang seperti mau saja selalu disuruh ini itu oleh Fandi.
Eyang bukannya tidak merestui hubungan Bunga dan Fandi, Eyang juga mengakui jika Eyang pun sering menasehati Bunga agar baik dan nurut pada Ibunya Fandi, karena selain Ibunya Fandi adalah calon mertua, Ibunya Fandi juga dulu adalah Guru di sekolah Bunga dan ia sangat baik pada Bunga.
Tapi belakangan entah kenapa makin ke sini Eyang merasa Bunga seperti diperlakukan berlebihan, seperti dituntut melakukan yang belum menjadi kewajibannya.
"Eyang..."
Bunga ingin mengatakan sesuatu, namun Eyang tampak menggeleng,
"Tidak, kita tidak usah membahas apapun lagi, dokter Imam ingin Eyang memastikanmu istirahat cukup dan jangan terlalu stres, jadi Eyang tak mau membahas apapun lagi."
Kata Eyang, lalu...
__ADS_1
"Nanti, setelah kamu sehat dan Fandi pulang menghadap Eyang, kita akan bahas semuanya."
Tambah Eyang lagi.
Bunga yang melihat Eyang kali ini begitu serius tentu saja tak bisa berkata apa-apa lagi.
Ia tahu betul jika Eyang sejak dulu tak suka dibantah.
Sementara itu, di luar rumah, terdengar suara mobil memasuki halaman depan.
Yang tak berapa lama kemudian, terdengar pula suara Mbok Siti yang sepertinya sedang ada di teras rumah mengepel air hujan yang membasahi lantai teras bersuara,
"Mas Nathan, Mbok kira siapa."
Mbok Siti memandangi Nathan yang turun dari mobil dan kemudian menenteng dua tas plastik berisi dus kue.
Mbok Siti menyambut ketika Nathan berjalan menuju teras rumah Eyang,
"Eyang ada Mbok?"
Tanya Nathan,
Mbok Siti tampak tersenyum,
"Eyang ada, Mbak Bunga juga sudah bangun."
Ujar Mbok Siti yang seperti mampu membaca keinginan Nathan yang sebenarnya.
Pura-pura mencari Eyang, padahal karena ingin bertemu cucunya.
"Oh dik Bunga sudah bangun? Syukurlah."
Kata Nathan lega,
"Monggo Mas Nathan, monggo masuk..."
Mbok Siti pun mempersilahkan,
Nathan memasuki rumah mengikuti langkah Mbok Siti menuju kamar Bunga yang memang terletak di ruang depan,
"Eyang sedang menemani Mbak Bunga,"
Kata Mbok Siti sambil sedikit menoleh ke arah Nathan yang berjalan mengikutinya.
Nathan hanya mengangguk sekilas,
Sampai di depan kamar Bunga yang pintunya terbuka, Mbok Siti tetap mengetuk daun pintu kamar itu.
Eyang yang duduk di tepi tempat tidur dan juga Bunga yang masih duduk bersandar di tempat tidur pun menoleh ke arah pintu kamar,
Mbok Siti berdiri di sana tersenyum, sementara di sampingnya Nathan juga berdiri menatap ke arah Bunga.
"Eyang, ini Mas Nathan mau jenguk Mbak Bunga."
Kata Mbok Siti malah memberitahu Eyang, membuat Nathan menjadi gugup dan salah tingkah.
**------------**
__ADS_1