Twinflame

Twinflame
50. Bimbang


__ADS_3

Malam berangsur semakin larut, Bunga di kamarnya tampak masih belum juga mampu memejamkan matanya,


Bayangan atas apa yang ia baru saja alami bersama Nathan membuat Bunga perasaannya menjadi tak karuan,


Rasa bersalah karena mengkhianati tunangannya, namun di sisi lain juga ia pun sadar jika hatinya sudah mulai berpaling sedikit demi sedikit kepada Nathan,


Apa yang harus aku lakukan? Apa ini tidak apa-apa?


Bunga tampak begitu gelisah, ia berulangkali berganti posisi ke kanan dan ke kiri menimbang rasa yang ia miliki lebih berat ke mana,


Hingga kemudian ia mulai teringat lagi apa yang ia alami saat ia di rumah calon mertuanya,


Hinaan calon mertuanya itu, perlakuan calon mertuanya yang seakan selalu merendahkan itu, kata-kata calon mertuanya yang selalu saja menyakitkan itu,


Bunga pun tanpa terasa menitikkan air mata lagi,


Mungkinkah hubungan pertunangannya lebih baik ia akhiri?


Lagipula, Eyang sepertinya semakin memperlihatkan betapa sesungguhnya ia keberatan untuk merestui pertunangan Bunga selama ini,


Bunga menghela nafasnya, pelahan ia pun mengusap air mata yang membasahi pipinya,


Perasaannya kini benar-benar dibuat kacau karena Nathan,


Ya Nathan,


Laki-laki berparas tampan yang pandai membawa diri, yang selalu bertutur kata santun, bersikap sopan, serta terlihat begitu tenang,

__ADS_1


Meskipun...


Bunga mengusap bibirnya sejenak, tampak matanya pun terpejam seolah kembali merasakan Nathan ada di sana,


Detak jantung Bunga pun rasanya langsung menjadi lebih kencang dari sebelumnya,


"Maaf,"


Suara itupun seolah kembali terdengar di telinga Bunga, mengiring ingatannya akan peristiwa tadi di tempat kontrakan di mana Nathan tinggal,


Suara lembut pertama yang Bunga mampu dengar setelah Nathan melepaskannya,


Kedua mata mereka lantas bertemu, saling menatap satu sama lain seolah mencari sesuatu di sana,


"Aku... aku..."


Bunga tampak menunduk, ia pun merasakan kegugupan yang sama dengan Nathan,


"Ngg... Bunga pulang saja,"


Kata Bunga yang lantas cepat berbalik dan setengah berlari menuju pintu,


Nathan yang semula akan mengejar, tiba-tiba mendengar hp nya berdering memperlihatkan ada panggilan masuk dari hany,


Bunga sendiri, yang tak lagi bisa mengingat apa saja yang harusnya ia bawa kini terus berlari menuju ke bangunan utama rumah Eyangnya.


Tampak Eyang bahkan sampai kaget karena Bunga masuk ke dalam rumah Eyang dengan begitu tergesa hingga menabrak pintu depan yang sebagiannya ada kaca patri yang berwarna-warni.

__ADS_1


Dan, ingatan Bunga pun berakhir.


Bunga duduk dari posisi berbaringnya, lalu bersandar pada tumpukan bantal,


Jam di dinding kamar saat ini sudah mulai bergerak meninggalkan angka sebelas, menunjukkan jika malam memang sudah benar-benar larut,


Bunga menghela nafas panjang, rasanya mustahil ia bisa tidur malam ini dengan perasaan yang begitu kacau seperti sekarang.


...****************...


Jakarta,


"Tidak diangkat?"


Tanya Winda pada Citra yang sejak tadi berusaha menghubungi Nathan namun tak juga diangkat,


Tampak Citra menggelengkan kepalanya dengan lemah,


"Sepertinya hubungan kalian sungguh tak baik-baik saja sekarang, lebih baik kamu datang saja ke sana,"


Kata Winda yang semakin iba dengan keadaan Citra yang mulai tampak kurusan,


Citra tampak matanya berkaca-kaca,


Dadanya terasa terbakar sekaligus juga merasa terluka.


Mungkin memang ada baiknya Citra datang saja ke tempat Nathan, lalu membicarakan semuanya agar hubungan mereka bisa kembali menjadi jelas.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2