
Bunga tampak berjalan mendahului Nathan menuju rumah kontrakan milik Eyang putrinya yang letaknya ada di area halaman depan rumah.
Rumah kontrakan yang lurus berhadapan dengan kamar tidur Bunga itu di depannya ada pohon Mangga yang mulai terlihat berbunga.
Di musim angin seperti ini, memang biasanya dibarengi musim buah Mangga, dan pohon di halaman rumah Eyang Putri yang letaknya tepat di depan rumah kontrakan yang akan ditempati Nathan itu termasuk mangga yang paling dinantikan warga sekitar rumah Eyang.
Ya...
Eyang Putri memang selalu membagikan hasil panen Mangga dari pohon miliknya itu kepada para warga.
Semakin tahun mangga itupun berbuah semakin banyak, dan maka semakin banyak pula warga yang mendapat jatah.
Eyang Putri memang terkenal dengan kedermawaannya, itu baru mangga belum lagi jika sawahnya panen, atau ada banyak hasil dari pepohonan di kebun-kebun miliknya.
Bagi Eyang, hidup dari uang pensiunan Eyang Kakung, dan juga uang-uang pemberian anak cucunya saja sudah lebih dari cukup.
Bahkan bukan hanya untuk makan sendiri, tapi juga untuk penghidupannya bersama Bunga dan menggaji Pak Darso dan Mbok Siti.
Bunga sendiri kuliah adalah dari harta peninggalan orangtuanya, yang semuanya dipegang Eyang Putri pula untuk kepentingan Bunga hingga kelak lulus kuliah dan kemudian menikah.
"Sebelumnya ada yang menempati juga dik?"
Tanya Nathan pada Bunga,
Tentu ia memanggil Bunga dengan sebutan adik, karena Nathan hanya dengan melihatnya saja sudah terlihat jika beda usia mereka pasti sekitar lima atau tujuh tahunan.
Bunga terlihat mengangguk,
"Tapi bukan dikontrak Mas, hanya ditempati karyawan-karyawan Paman yang kerja di konveksi milik Paman."
Ujar Bunga menjawab pertanyaan Nathan.
__ADS_1
Bunga lantas naik ke teras rumah kontrakan yang keramiknya berwarna merah bata, dengan dinding rumah di cat warna kuning gading dan kusen-kusen pintu serta jendela warna putih.
Dua pot bunga diletakkan di depan jendela kaca rumah, pot bunga kamboja Jepang dan bunga kumis kucing mendampingi dua kursi kayu yang sengaja di letakkan di teras tersebut karena menghindari di dalam rumah terlalu banyak barang.
Bunga memutar kunci pintu rumah kontrakan, lalu mempersilahkan Nathan untuk masuk ke dalam rumah tersebut.
"Jendelanya agak susah dibuka, Mas kalau ingin setiap hari ada pergantian udara, paling pintunya saja yang bisa dibuka Mas, sama ada jendela kayu di dapur dekat kamar mandi."
Bunga memberikan informasi,
Nathan mengangguk sambil berjalan melewati Bunga yang kini berdiri di depan pintu rumah kontrakan tersebut.
"Nyaman."
Kata Nathan saat memasuki rumah kontrakan yang meskipun tak seberapa luas itu tapi memang terlihat sangat rapi dan bersih.
Tentu saja, semua berkat kerja Pak Darso dari pagi buta hingga menjelang tengah hari.
Bunga tampak tersenyum,
"Dapur dan kamar mandi monggo barangkali Mas mau lihat dulu, nanti kalau butuh apa mumpung saya masih di sini."
Kata Bunga.
Mendengarnya Nathan pun lantas berjalan menuju dapur dan kamar mandi.
Ia cukup terkejut juga melihat rumah dengan ukuran tak seberapa besar itu bisa ditata dengan rapi dan hampir semuanya bisa disiapkan dengan baik.
Kulkas kecil di sudut ruangan dapur, tempat cuci piring ukuran kecil di dapur, kompor satu tungku, rak piring yang juga di atas dapur dengan alat makan lengkap.
Tremos air panas, bahkan juga tong sampah yang sudah disiapkan dengan kresek sampahnya juga.
__ADS_1
Kamar mandi yang bersih dan wangi, yang meskipun hanya terdapat bak mandi dan gayung saja tanpa shower tapi Nathan tentu tak masalah dengan itu.
Di samping kamar mandi terdapat juga toilet yang terpisah. Toilet model jongkok berwarna biru itu tampak begitu bersih, sama seperti keramik lantai dan dindingnya yang juga sama bersihnya.
Nathan tentu saja merasa sangat lega mendapatkan tempat tinggal dengan harga murah meriah namun sangat nyaman ini.
Apalagi ditambah dengan pemiliknya adalah Eyang putrinya Singgih, teman baiknya saat masih kuliah dulu, rasanya sudah macam keberuntungan bertubi-tubi pastinya bagi Nathan.
"Bagaimana Mas? Ada yang kurang atau ada yang dikeluhkan?"
Tanya Bunga ketika Nathan muncul lagi dari arah pintu ke arah ruang belakang yang di sana ada dapur dan kamar mandi.
"Oh sudah Dik, ini bahkan lebih dari cukup, saya nyaman sekali, terimakasih... terimakasih banyak, sampaikan pada Eyang."
Kata Nathan.
Bunga mengangguk sembari tersenyum, meskipun matanya tak berani terlalu lama saling pandang dengan Nathan.
"Kalau begitu saya permisi Mas, monggo barangkali Mas nya mau mandi, dan mau istirahat, nanti makan siangnya Bunga antarkan kalau Mas sudah selesai mandi."
Kata Bunga,
Nathan pun mengangguk, rasanya mendapati perhatian dari perempuan di saat tubuhnya kini lelah luar biasa membuat hatinya terasa lebih hangat.
Bunga lantas pergi meninggalkan Nathan di rumah kontrakannya, Nathan menatap Bunga yang berjalan menjauh menuju bangunan utama rumah Eyang putri.
Nathan menghela nafas, lalu ia menutup pintu rumah kontrakan, dan berjalan menuju tas pakaiannya yang teronggok di atas kursi panjang.
Dibongkarnya isi tas pakaian tersebut untuk mencari handuk dan perlengkapan mandi, setelah itu barulah ia berjalan menuju kamar mandi.
Dan...
__ADS_1
Tanpa ia sadari, begitu Nathan masuk kamar mandi, hp di dalam tas ransel nya terdengar berdering menandakan ada sebuah panggilan masuk dari seseorang.
**-------------**