Twinflame

Twinflame
14. Sarapan


__ADS_3

Nathan tengah menyeduh teh di dapur kontrakannya. Ia baru saja selesai mandi.


Rencananya, sepulang ngantor nanti, ia akan ke supermarket untuk belanja beberapa kebutuhan, termasuk susu dan roti untuk ia sarapan.


Nathan membawa teh panasnya yang aroma melatinya cukup kuat itu ke meja depan TV.


Setelah meletakkan wedang teh nya, Nathan menuju lemari kecil di mana ia menyimpan baju-bajunya di sana.


Berganti pakaian, kemeja warna biru muda dengan celana kain hitam panjang.


Nathan baru akan memakai sabun di celananya, ketika ia mendengar suara ketukan di depan pintu kontrakan.


"Mas Nathan... Mas Nathan..."


Suara Mbok Siti, asisten rumah tangga Eyang Putri yang lantas menyusul terdengar, Nathan pun bergegas berjalan menuju pintu, membuka kunci lantas membuka pintunya,


"Buat teman ngeteh Mas."


Kata Mbok Siti seraya mengulurkan piring ukuran kecil berisi ubi kukus dan getuk, Nathan sejenak memandang piring di depannya...


"Tidak suka ya?"


Tanya Mbok Siti melihat ekspresi Nathan yang kelihatan sekali seperti asing saat menatap ubi kukus dan getuk di atas piring yang disodorkan Mbok Siti,


Nathan yang jadi tak enak hati akhirnya memutuskan tetap menerimanya, namun pat ketika tangannya terulur, Pak Darso datang dan duduk di tembok pendek depan teras kontrakan yang seperti berfungsi untuk pagar,


"Wong Mas Nathan ini orang kota Bu, aku wis ngomong mana mau makan begituan,"


Pak Darso menyalakan rokok kreteknya, menghirupnya dan dalam sekejap asapnya naik ke atas,

__ADS_1


"Lho, Bapak ini kok malah menuduh, ini kan Mas Nathan belum menolak."


Kata Mbok Siti.


"Lha susah jelas itu Mas Nathan orang Jakarta, kota besar, harusnya Mbok belikan roti."


Ujar Pak Darso.


Nathan yang mendengar kata-kata Pak Darso jadi tersenyum sambil sibuk menyanggah,


"Aduh bukan tidak mau Pak, maaf sekali, ini aduh... bagaimana ya, ini memang saya soalnya belum pernah sarapan ubi, tapi bukannya tidak mau."


Nathan sampai garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal saking salah tingkahnya,


Pak Darso sampai terkekeh melihat Nathan yang kesulitan menjelaskan,


"Tidak apa-apa Mbok, nanti saya makan tidak apa-apa,"


"Jangan Mas, itu nanti sepanjang hari panjenengan kentut terus di kantor."


Kata Pak Darso, yang otomatis membuat Nathan langsung kembali ragu.


"Betul itu Pak? Serius?"


Nathan jelas khawatir, meski memang ia pernah dengar orang bercanda soal ubi, tapi ia tidak yakin sebetulnya jika memang itu asli.


Pak Darso mengangguk sambil tersenyum,


"Tanya saja sama Mbok Siti, Mas,"

__ADS_1


Ujar Pak Darso seraya menunjuk ke arah Mbok Siti yang langsung nyengir ketika Nathan menatapnya,


"Tapi kalau cuma satu yo tidak Mas, malah kan daripada tidak sarapan sama sekali nanti perutnya kosong gampang masuk angin. Ubi kukus ini supaya perut tidak begah juga."


Kata Mbok Siti,


"Kalau sarapan memang saya jarang sarapan Mbok,"


Ujar Nathan kemudian,


"Yo biasa bujangan kan begitu, dulu saya juga waktu bujangan tidak pernah sarapan Mas, begitu menikah saja, isteri cerewet harus sarapan karena khawatir suaminya sakit."


Kata Pak Darso sembari menikmati rokok kreteknya dan memandangi pohon Mangga yang sudah mulai berbunga lebat.


Nathan terlihat tersenyum kecut,


Sejak menikah jadi sarapan?


Justeru Nathan mulai jarang rutin sarapan setelah menikah, saat dulu masih bersama Ibunya, ia selalu disediakan sarapan, tapi begitu menikah, ia malah lebih sering sarapan di kantin kantor, itupun saat hari sudah cukup siang.


"Mendingan Mas Nathan dibawakan nasi goreng buatan Mbak Bunga saja to Bu, Bu... Nasi goreng paling enak itu, cocok buat sarapan."


Kata Pak Darso lagi seraya turun dari tembok dan berjalan menuju pohon Mangga, mengambil bambu panjang untuk menyangga salah satu cabang pohon yang terlihat kecil namun mulai ada buah mangga nya.


"Kalau begitu tek ambilkan nasi goreng Mbak Bunga saja Nggih, tunggu sebentar,"


Kata Mbok Siti,


"Aduh tidak usah Mbok, tidak usah repot-repot, nanti saya bisa cari makan di luar Mbok."

__ADS_1


Nathan berusaha menghalangi Mbok Siti, tapi Mbok Siti tak menggubris, ia berjalan tergesa kembali ke rumah utama Eyang putri.


**------------**


__ADS_2