
Dan, seharian itupun berjalan seperti Bunga tengah menjadi asisten rumah tangga di rumah calon mertuanya,
Hampir semua pekerjaan rumah diminta Ibunya Fandi untuk dikerjakan Bunga,
Saat satu pekerjaan selesai, Ibunya Fandi akan memberikan penilaian macam juri, yang saat menyapu, dia bilang kalau Bunga itu kelihatan sekali anak manja, menyapu saja tidak bisa bersih, banyak debu yang masih tertinggal,
Begitu juga saat merapikan lemari pakaian Fandi, Ibu meminta Bunga belajar memilah-milah kemeja, kaos, celana dan lain-lain agar diletakkan sesuai tempatnya, alasannya, tentu saja nanti setelah mereka menikah, maka segala kebutuhan Fandi adalah Bunga yang serba mengurus dan bertanggung jawab,
Hingga yang paling luar biasa dari hari ini, tentu saja adalah saat akhirnya Bunga diminta memasak,
Ibu ingin makan oseng daging dan juga sayur bayam serta tahu digoreng pakai tepung,
Terkesan masakan sederhana saja sebetulnya, yang tentu saja Bunga sudah sangat menguasai,
Tapi...
"Aduh, Bunga, ini apa, sayur bayam kok ada minyaknya, wah kamu ini bagaimana, ini sayur bayam itu harusnya semua direbus saja, tidak usah itu pakai taburan bawang merah digoreng, jadi merusak rasa,"
Ibunya Fandi berkomentar tak enak begitu masakan Bunga telah selesai lalu ia hidangkan di meja makan,
Bibik Mul, asisten rumah tangga rumah Fandi bahkan sampai berkali-kali geleng-geleng kepala melihat perilaku majikannya yang begitu seenaknya memperlakukan calon isteri anaknya,
"Biasanya Eyang suka kalau ada taburan bawangnya Bu,"
Kata Bunga mencoba memberikan alasan,
Ibunya Fandi menghela nafas, ia menatap malas Bunga yang berdiri di depannya,
__ADS_1
"Itu kan Eyang, seleranya jelas beda dengan Ibu,"
Kesal Ibunya Fandi,
Setelah itu Ibunya Fandi mencomot tahu tepung goreng buatan Bunga, namun baru satu kali gigit iapun komentar lagi,
"Astaga, apa ini? Asiiin sekali, kamu kasih garamnya kebanyakan ini, harusnya kamu takar dong yang benar Nga, apalagi jika ini yang akan makan orangtua, keasinan itu fatal, haduh haduh, masakan begini kok bilangnya banyak yang pesan,"
Ibunya Fandi geleng-geleng kepala, wajahnya begitu menyebalkan,
Bunga pun rasanya mulai panas dan tak bisa sabar, apalagi begitu kemudian masakan terakhirnya juga dikomentari, yang komentarnya begitu menyakitkan untuk hati Bunga,
"Sudahlah, ini masakan gagal semua, kamu bawa pulang saja, di sini tidak akan ada yang makan, bahkan Bibik Mul juga pasti tidak suka,"
"Tapi Bu, ini..."
Bunga tahu, jika Ibunya Fandi sudah marah sekali padanya sejak ia diminta datang tapi tak juga sempat datang,
Ditambah ia juga belum memakai hijab yang diberikan oleh Ibunya Fandi,
Sebetulnya bukan apa-apa, hanya saja Bunga belum terlalu siap, pikir Bunga, yang penting ia masih memakai pakaian yang tertutup dan sopan, nanti akan ada waktunya untuk dia berproses,
Tapi...
"Dagingnya alot, aromanya juga masih tidak enak, ditambah bumbunya belum masak sudah dimasukkan daging jadi bau,"
Kata Ibunya Fandi,
__ADS_1
Bunga dengan tangan bergetar meraih mangkok oseng daging mercon buatannya,
Matanya kini tampak berkaca-kaca, ia coba menahan diri untuk tidak menangis, tapi pada akhirnya tidak bisa, terutama begitu puncaknya, calon ibu mertuanya dengan tega bicara,
"Sebagai anak yatim piatu, yang besar tidak sempat belajar apapun dari orangtua, kamu itu harus banyak tanya pada siapapun agar bisa mengerjakan ini itu, kamu kan tidak bisa seperti orang lain, yang bahkan sampai menikah bisa minta ini itu pada bapak ibunya. Kamu tidak boleh mudah puas, hingga berhenti belajar, lihat hasil kamu malas belajar ini kan, jadi tidak maksimal semuanya,"
Kata Ibunya Fandi yang meskipun nada suaranya lembut tapi tetap terasa begitu menyayat hati Bunga, dan akhirnya membuat Bunga yang tak tahan pun berderai air mata lalu memutuskan membawa masakannya ke dapur dan minta tolong Bibik Mul untuk memasukkannya ke dalam wadah saja agar bisa ia bawa pulang,
"Mbak Bunga mau langsung pulang?"
Tanya Bibik Mul prihatin melihat Bunga terus berusaha mengusap air matanya yang terus turun,
Bunga tak sanggup lagi menyahut, ia hanya mengangguk.
"Sabar Mbak, sabar, memang begitu kan Ibunya Mas Fandi,"
Kata Bibik Mul lirih, berusaha membuat Bunga lebih tenang,
Tapi, kali ini Bunga sudah sangat sakit, untuk apa calon Ibu mertuanya membahas orangtuanya yang telah tiada, untuk apa ia terus menerus menyebutkan statusnya yang hanya seorang anak yatim piatu,
Untuk apa sebetulnya?
Untuk apa?
Bunga bahkan tak lagi bisa mengerti dengan cara berpikir Ibunya Fandi, yang semakin hari seperti ingin mengendalikan Bunga semaunya dia sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1