
Nathan membuka pintu rumah kontrakannya, dan tentu saja seperti yang ia duga, Bunga tampak berdiri di sana, di teras rumah kontrakannya, tepat di depan pintu rumah kontrakan sambil membawa baki berisi gelas ukuran besar teh dan juga beberapa makanan di piring,
"Belum tidur kan Mas?"
Tanya Bunga,
Nathan menggeleng pelan, lalu mempersilahkan Bunga masuk ke dalam,
Bunga menurut melangkah masuk ke dalam rumah kontrakan yang ditinggali Nathan,
Di letakkannya baki dengan teh dan makanan untuk makan malam Nathan yang disiapkan Mbok Siti atas perintah Eyang,
"Makan dulu Mas sebelum tidur, biar tidak masuk angin,"
Kata Bunga setelah melakukan tugasnya,
Nathan tersenyum,
"Eyang yang masak, jadi rasanya pasti enak, tapi yang nyiapin Mbok, jadi maaf kalau nanti teh nya kemanisan, si Mbok suka kemanisan kalau seduh teh,"
Kata Bunga sambil menahan senyum,
"Iya, sudah beberapa kali minum teh buatan si Mbok memang kemanisan, tapi tidak apa-apa kok, aku suka yang manis,"
Kata Nathan sambil tersenyum ke arah Bunga yang entah kenapa membuat Bunga wajahnya jadi bersemu merah,
Mendapati tatapan mata Nathan yang lembut dan teduh, hati Bunga juga tak mampu mengabaikan desiran di dalam hatinya,
"Pamit dulu Mas, monggo dinikmati makanannya, dan selamat istirahat, terimakasih tadi mengantar jemput Bunga,"
Kata Bunga pula, sambil kemudian bersiap pergi meninggalkan rumah kontrakan Nathan,
Namun, begitu Bunga akan melewati Nathan, tiba-tiba Nathan meraih tangan Bunga,
__ADS_1
"Tinggalah sebentar, temani aku makan,"
Pinta Nathan dengan wajah penuh harap,
Bunga sejenak terdiam, matanya beradu pandang dengan Nathan sekilas saja, namun sudah membuat dadanya tak menentu, ditambah pula kini tangannya digenggam Nathan,
"Ngg... Maaf Bang, eh Mas, eh..."
Bunga malah jadi gugup tidak jelas, Nathan tampak mengulum senyum,
"Duduklah, hanya menemaniku makan sambil mengobrol ringan saja, belakangan sedikit malas makan sendiri,"
Kata Nathan berusaha mencairkan suasana,
Ia pun pelahan melepaskan tangannya dari tangan Bunga, lalu mengajaknya duduk di kursi depan meja yang ada di ruang tamu sekaligus juga ruang TV,
"Makan sekalian yuk,"
Ajak Nathan,
Bunga cepat-cepat menolak, Nathan kembali menatap wajah manis Bunga lagi, wajah dengan mata sayu dan bibir yang ranum bagai bunga yang baru akan mekar,
Dada Nathan sejenak kembali berdetak lebih cepat dari biasanya, sebagai laki-laki normal ia tahu jika berdua bersama Bunga saat ini hanya akan membuat isi kepalanya sedikit kotor,
Tapi...
Membiarkan Bunga pergi begitu saja pun Nathan sungguh belum rela, paling tidak, biarlah matanya menikmati kehadiran Bunga di sana, meski hanya memuaskan diri dengan memandanginya saja,
"Jadi aku harus makan sendiri?"
Tanya Nathan sambil bersiap meraih gelas teh hangat yang baru diantarkan Bunga,
"Ya, itu memang untuk Mas Nathan,"
__ADS_1
Kata Bunga pula,
Nathan tergelak, ia merasa benar-benar bodoh jadi ia ingin tertawa untuk menertawakan diri sendiri,
"Duduklah Bunga, apa kamu akan terus berdiri di sana, nanti kakimu kesemutan,"
Ujar Nathan pada Bunga yang jadi tersenyum,
Gadis itu yang nyatanya memang merasa kedua kakinya lelah juga berdiri, kini tampak menurut duduk di kursi yang untuk satu orang di ruangan itu, sementara Nathan duduk di kursi panjangnya,
"Hmm sebentar, aku ambil piring kecil, porsi nasinya terlalu banyak untukku,"
Kata Nathan sambil berdiri lalu berjalan cepat ke arah dapur,
Bunga memandangi Nathan yang kini pergi ke dapur, setelah itu berganti memandang piring berisi nasi yang ia bawakan,
Ah yah, tentu saja, Nathan sepertinya sangat menjaga berat tubuhnya, hingga pola makan pun tampaknya ia atur dengan baik,
Bunga baru akan beralih melihat ke arah lain, saat kemudian ia melihat hp Nathan seperti ada panggilan masuk,
Tak begitu jelas terlihat, tapi tertulis Hanny,
Bunga menatap hp Nathan dalam diam, hatinya tiba-tiba entah kenapa merasa sedikit terusik dengan tulisan Hanny di sana,
Hanny?
Hanny siapa?
Namanya kah?
Siapa dia?
Atau...
__ADS_1
...****************...