Twinflame

Twinflame
20. Si Anak Yatim Piatu


__ADS_3

Nathan disambut teman kantornya dengan ramah, terutama para karyawan perempuan,


Ya, sebagai wakil manajer kantor yang baru, Nathan yang usianya masih muda dan berwajah tampan, tentu saja menarik perhatian banyak perempuan,


"Ini ruangan Pak Nathan,"


Nathan ditunjukkan ruangan yang mulai hari ini akan resmi ia tempati,


"Mobil dari kantor barangkali mau dipakai mulai hari ini juga sudah siap Pak,"


"Oh, iya Pak, terimakasih,"


Kata Nathan sambil mengangguk,


Dan hari itu, adalah hari yang cukup sibuk untuk Nathan, meski belum sepenuhnya mengerjakan tugasnya, Nathan tampak disibukkan dengan berkeliling kantor, mengenal setiap ruangan dan juga berkenalan dengan setiap bagian.


Sekitar pukul tiga sore, Nathan yang baru akan mulai aktif bekerja mulai besok akhirnya pulang lebih dulu dari yang lain,


Sepulang dari kantor, Nathan memilih mampir ke supermarket untuk belanja beberapa kebutuhan,


Dari cemilan hingga roti untuk sarapan karena tidak ingin terus merepotkan Eyang putri,


Lagipula,


Nathan tidak ingin terus terbuai menikmati makanan buatan Bunga yang rasanya begitu mirip dengan mendiang Ibunya.


Nathan takut terbiasa dan akhirnya jadi kecanduan, lalu ia akan jadi terus ingin makan masakan Bunga, sementara...


Ah, Nathan menggelengkan kepalanya cepat untuk menghalau pikiran-pikiran yang memenuhi otaknya.


Lagu Akad dari payung teduh terdengar memenuhi supermarket, menemani para pelanggan yang hari ini datang untuk berbelanja,


Nathan masuk ke dalam supermarket dan langsung mengambil troli,


Rak pertama yang ia tuju tentu adalah roti tawar dan juga aneka selai.


Sebetulnya, Nathan sendiri tak begitu suka makan roti tawar yang diolesi selai,


Tapi, sepertinya sudah jadi kebiasaan saja, jika beli roti tawar maka akan mencari selai pula untuk pasangannya.


Nathan mengambil satu bungkus roti tawar merk ternama, lalu berjalan ke rak selai dan setelah itu ia berencana akan memborong cemilan, termasuk ia ingin mencari kacang kulit dan kopi untuk nanti ia berikan pada Pak Darso, serta beberapa macam buah untuk Eyang putri,


Nathan sedang memilih selai, yang dimana kemudian ia melihat selai kacang di sebelah susunan berbagai macam keju,


Lagu dari payung teduh masih mengalun merdu memenuhi ruangan supermarket, Nathan mengulurkan tangannya mengambil selai kacang, yang begitu selai itu diambil, entah kenapa merosot begitu saja hingga akhirnya jatuh menggelinding,


Nathan cepat mengejar wadah selai yang jatuh menggelinding dan kemudian berhenti di dekat sepatu seseorang,


Orang itu berjongkok untuk mengambilkan selai milik Nathan,


Dan...


"Oh..."

__ADS_1


Bunga terlihat cukup terkejut mendapati Nathan kini berdiri di depannya,


Laki-laki muda tampan itupun tentu saja sama tak menyangka akan bertemu Bunga di sana,


"Sel... selainya mas,"


Kata Bunga sedikit gugup sambil memberikan selai milik Nathan,


"Ya, terimakasih,"


Kata Nathan,


Bunga tersenyum,


Nathan lantas melihat troli Bunga yang penuh dengan banyak bahan kue dan masakan,


"Belanja bulanan?"


Tanya Nathan pula basa-basi, Bunga menggeleng,


"Bukan Mas, ini buat nanti ada pesanan acara di rumah teman,"


Kata Bunga,


"Pesanan?"


Bunga mengangguk,


"Hanya iseng saja, menerima pesanan bikin kue dan nasi box untuk acara,"


Nathan pun mengikuti dengan mendorong trolinya sendiri,


"Bisnis sampingan sambil kuliah?"


Tanya Nathan,


Bunga mengangguk kecil meski sambil tertawa jadinya,


"Lho kok ketawa?"


"Bisnis, rasanya seperti sudah mendapat banyak keuntungan jika usaha kecil-kecilan ini disebut bisnis,"


Ujar Bunga merendah,


"Lho semua hal besar selaku dimulai dari yang kecil dulu, tidak ada yang tiba-tiba langsung besar kan?"


Kata Nathan,


"Untuk beberapa orang yang memiliki modal banyak mungkin bisa,"


kata Bunga,


"Tapi sulit orang bertahan jika semua dimulai dengan instan,"

__ADS_1


Ujar Nathan pula, Bunga pun mengangguk membenarkan,


Lalu...


"Memang hobi masak ya?"


Tanya Nathan sambil menatap Bunga dengan bibir menyunggingkan senyuman,


"Ya Mas, dari dulu aku suka memasak dan membuat kue, sebetulnya begitu lulus SMA penginnya bisnis kuliner saja, tapi Eyang tidak mengijinkan, Bunga harus tetap kuliah, setelah itu baru boleh memulai usaha jika memang inginnya wiraswasta,"


Tutur Bunga,


Nathan mantuk-mantuk,


"Tapi untungnya sesekali Eyang mengijinkan aku menerima pesanan, jadi cukup membuat aku tetap semangat,"


Kata Bunga sambil tersenyum,


Nathan ikut tersenyum,


"Tidak ingin bekerja di kantor?"


Tanya Nathan iseng saja sekalian memang ingin bicara banyak dengan Bunga,


Laki-laki muda itu berjalan mendorong troli mengikuti Bunga,


Jika Bunga berhenti, maka ia akan ikut berhenti, jika Bunga terus maka iapun sama,


"Kantor, mungkin belum pengin mas, sejauh ini aku masih ingin punya usaha di rumah saja, rasanya itu lebih baik untuk aku yang seorang cewek."


Kata Bunga, yang lantas berhenti dan mengambil beberapa mentega,


"Di kantor ada jenjang karir yang mungkin akan jauh lebih menjanjikan, bagaimana?"


Tanya Nathan,


Bunga menoleh ke arah Nathan sejenak, lalu...


"Entahlah, tapi aku tetap beranggapan jika wiraswasta jauh lebih baik untuk dijalani, setidaknya untuk aku yang seorang cewek,"


Kata Bunga,


"Apalagi kata Eyang, Ibuku dulu adalah perempuan yang pandai sekali merawat rumah, namun sekaligus juga memiliki usaha toko kue tradisional yang lumayan laris, jadi aku rasa, aku ingin seperti mendiang Ibu juga,"


Nathan sejenak menatap lekat wajah Bunga dari samping,


"Jadi ibunya Bunga sudah tidak ada?"


Tanya Nathan dengan nada suara hati-hati,


Bunga mengangguk,


"Bukan hanya Ibu, tapi juga Ayah, mereka sudah tidak ada lagi,"

__ADS_1


Kata Bunga,


**---------------**


__ADS_2