
"Teh nya Mas,"
Bunga yang baru muncul dari dapur membawakan teh dan juga piring kosong ke ruang makan.
Bunga meletakkan piring kosong itu di atas meja makan, di depan Nathan yang telah duduk di kursi dekat Eyang putri sebelah kanan.
Eyang Putri sendiri duduk di kursi ujung meja, sebelah kirinya kursi yang biasa untuk duduk Bunga, dan sebelah kanan lah yang diduduki oleh Nathan.
"Terimakasih, Dik Bunga,"
Lirih Nathan, ketika piring kosong dan satu gelas teh panas di letakkan Bunga di hadapannya,
Ada getar halus lagi yang terasa berdesir di dalam dada Nathan, yang kemudian berusaha ia tekan sedapat mungkin agar ia tak sampai kehilangan fokus.
"Monggo Nak Nathan, ini nasi goreng dan telor ceplok buatan Bunga,"
Kata Eyang,
Ah benar, Nathan jadi ingat saat tadi Mbok Siti yang saat pergi dari tempat kontrakan juga sempat menyebutkan soal nasi goreng buatan Bunga.
"Tadi saya sempat promosikan Nasi goreng Mbak Bunga buat sarapan Mas Nathan, kebetulan Mas Nathannya malah ke sini,"
Mbok Siti membawakan setoples kerupuk udang dari dapur untuk diletakkan di atas meja makan pula,
"Aduh saya jadi tidak enak ini, jadi seperti sengaja datang ikut sarapan,"
Ujar Nathan membuat Eyang terkekeh, dan Bunga juga jadi ikut tertawa.
__ADS_1
"Setiap hari sengaja juga tidak apa-apa, kan Eyang sudah bilang anggap kami ini keluarga, malah bagus jadi tidak merepotkan Mbok Siti antar-antar makanan ke rumah kontrakan."
Ujar Eyang Putri, membuat Nathan jadi nyengir, dan tanpa sengaja kemudian saling berpandangan pula dengan Bunga yang akan kembali duduk di kursi sebelah kiri Eyang putrinya, berseberangan dengan Nathan,
"Bunga ini sukanya masak, idolanya itu yang di TV jadi juri lomba masak, siapa itu namanya Nga?"
Eyang memandang Bunga yang sedang berpandangan dengan Nathan dan langsung terkesiap karena mendengar pertanyaan Eyangnya.
"Oh, ya Eyang, Chef Juna."
Jawab Bunga,
"Nah itu, chef Juna, dia mau seperti itu Nak, tapi kan katanya harus sekolah keluar Negeri, ya Eyang tidak akan ijinkan, sudah cukup itu cucu Eyang pergi keluar Negeri, terlalu jauh, mau ketemu saja susah."
Ujar Eyang,
Nathan pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya,
Kata Eyang pula,
Nathan pun akhirnya menurut menyendok nasi goreng dari dalam wadah ke atas piringnya, tak lupa telur ceplok yang lumayan menggoda karena ada taburan irisan cabe kering dan bawang goreng pula.
"Kalau kurang enak bilang aja Mas,"
Kata Bunga sambil senyum malu-malu,
Nathan pun tampak tersenyum, lalu mulai menikmati sarapannya,
__ADS_1
Dan...
Sejenak Nathan tampak terdiam, ketika satu suapan nasi goreng buatan Bunga masuk ke mulut dan mulai ia nikmati,
Nathan menatap Bunga sejenak, seolah ia seketika melihat bayang mendiang Ibunya,
Bagaimana bisa terjadi?
Rasa nasi goreng buatan Bunga, kenapa begitu persis dengan nasi goreng buatan mendiang Ibu?
Kenapa bisa?
Kedua mata Nathan terasa langsung panas seperti ingin menangis.
Dadanya seketika seperti sesak, seolah kini semua tentang Ibunya langsung muncul di depan mata.
Rasa nyaman ketika dulu Ibu hidup, kehangatan sebuah keluarga, yang belakangan seperti hilang di tengah hidup Nathan tiba-tiba saja seperti kembali.
Nathan kemudian menikmati suapan nasi goreng keduanya,
"Bagaimana Nak Nathan?"
Tanya Eyang,
Nathan tersenyum seraya mengangguk,
"Enak sekali Eyang,"
__ADS_1
Puji Nathan membuat Bunga langsung tersipu malu,
**--------------**