
Jarum jam dinding rumah Eyang kini tampak beringsut mendekati angka setengah delapan pagi, ketika Bunga terlihat rapi akan pergi keluar,
Tampak gadis yang wajahnya masih sedikit pucat itu berjalan pelan menuju ruang dalam di mana Eyang nya kini tengah menikmati teh tubruk dan satu piring kecil goreng ubi,
Di dapur, Mbok Siti terlihat sibuk mencuci peralatan masak yang baru selesai digunakan untuk menyiapkan sarapan,
"Eyang,"
Bunga memanggil Eyangnya,
Tampak Eyang menoleh ke arah datangnya Bunga, di mana cucunya kini berjalan mendekat lalu mengulurkan tangannya ketika telah di samping Eyang,
"Ada apa?"
Tanya Eyang menatap Bunga seraya menerima uluran tangan Bunga,
"Bunga mau ke rumah Mas Fandi sebentar Eyang, Ibu mas Fandi ingin ketemu,"
Lirih Bunga,
Eyang menghela nafas,
"Kamu baru sembuh, harusnya tidak usah keluar dulu,"
Kata Eyang,
"Bunga sudah tidak apa-apa kok Eyang,"
"Tidak apa-apa bagaimana, wajahmu saja masih pucat,"
Ujar Eyang,
Bunga mencium punggung tangan Eyang,
__ADS_1
"Jangan pakai motor, nanti diantar saja,"
Kata Eyang pula,
"Lagian, ini pasti Fandi lagi yang suruh-suruh kan? Sudah tahu kamu sakit, masih saja suruh-suruh ke rumahnya, kamu ini mbok yo yang tegas Bunga, jangan mau diperintah ini itu seenaknya, si Fandi itu kan belum jadi suami."
Eyang terlihat gondok,
Bunga yang tahu persis sejatinya Eyang tidak terlalu merestui hubungannya dengan Fandi memilih diam saja,
Bunga jelas tahu betul, jika ia menjawab pasti Eyang akan semakin kesal.
Eyang lantas memanggil Mbok Siti agar memanggil suaminya untuk mengantar Bunga,
"Pakai mobil saja Mbok, jangan pakai motor, ini anak baru sembuh,"
Kata Eyang pada Mbok Siti,
Kata Mbok Siti yang lantas bergegas pergi menuju pintu belakang rumah untuk memanggil suaminya.
"Kapan Fandi akan pulang? Eyang ingin ketemu dan bicara, nanti Eyang juga akan panggil Pamanmu supaya bisa ikut bicara,"
Kata Eyang kembali fokus pada Bunga,
"Kemungkinan pekan depan Eyang jadinya,"
Jawab Bunga lirih,
"Tapi, kenapa harus ada Paman, Eyang, apakah nanti tidak seperti Mas Fandi akan disidang?"
Bunga terlihat langsung khawatir,
Eyang putri menghela nafas, melihat cucunya itu begitu lemah sebetulnya ia gemas bukan main,
__ADS_1
Tapi...
Ia juga memahami bagaimana mental seorang anak tanpa orangtua sejak kecil pastinya berbeda,
Tidak mungkin mereka dipaksakan bisa sama dengan anak-anak yang memiliki orangtua lengkap, apalagi orangtua yang harmonis dan ekonomi keluarga yang stabil,
Bunga, mungkin memang tidak pernah mengalami kesusahan secara ekonomi sekalipun menjadi yatim piatu,
Namun, dengan tidak adanya kedua orangtuanya yang mendampingi ia tumbuh sejak kecil, membuatnya menjadi anak yang kurang berani adalah satu kewajaran,
"Eyang hanya ingin Fandi tahu kalau kamu itu adalah kesayangan kami, Eyang, Paman, Bibik, dan semua keluarga orangtua mu tidak akan menerima jika kamu sampai ada yang menyakiti,"
Kata Eyang,
Bunga tertunduk,
Bersamaan dengan itu, terdengar di luar sana suara mesin mobil dinyalakan,
Bunga pun cepat memutuskan pamit pada Eyangnya, karena ia setelah pulang dari rumah calon mertuanya, berencana akan membeli dus untuk snack dan juga nasi box,
"Hati-hati di jalan,"
Kata Eyang,
"Nggih Eyang, Bunga pergi dulu,"
Kata Bunga pamit, Eyang mengangguk kecil lalu menyeruput teh tubruknya,
Bunga keluar dari rumah lewat pintu belakang rumah, bayangannya tentu ia bisa langsung naik ke mobil dari sana karena letaknya dekat dengan garasi,
Tapi...
**------------**
__ADS_1