Twinflame

Twinflame
15. Terkenang


__ADS_3

"Gimana Nga? Bisa dong, aku udah kepalang bilang nih sama Mbak Sri,"


Suara teman Bunga di seberang sana terdengar memohon,


Febi, dia teman dekat Bunga sejak SMP dulu, dua tahun berturut-turut duduk satu bangku dengan Bunga, lalu berlanjut di SMA juga begitu.


Bunga tampak menatap Eyang putrinya yang duduk di depan meja makan sambil menyeruput teh,


Eyang Putri yang ditatap Bunga pun lantas balik menatap sang cucu, jelas Eyang tahu jika tatapan Bunga adalah dimaksudkan untuk meminta ijin agar dibolehkan mengambil kesempatan dari kakaknya Febi untuk membuat snack dan juga nasi kotak di acara pengajian lusa.


Eyang menghela nafas,


Melihat Eyangnya menghela nafas, menandakan Bunga butuh waktu untuk bicara sebentar dengan Eyang, maka Bunga memutuskan untuk akan menghubungi Febi lagi nanti setelah sudah ada keputusan pasti.


"Oke Nga, ditunggu kabar baiknya."


Kata Febi,


"Iya."


Sahut Bunga.


Panggilan mereka pun kemudian berakhir, Bunga membawa hp nya ke meja makan, lalu ia duduk di dekat Eyang,


Bersamaan dengan itu, Mbok Siti masuk ke dalam rumah lewat pintu samping dan langsung menuju ruang makan,


Ia terlihat membawa kembali piring berisi ubi rebus dan getuk yang semula disiapkan untuk Nathan,


"Mas Nathan tidak biasa sarapan katanya,"


Ujar Mbok Siti,


"Lho, sarapan kok tidak biasa, harusnya justeru yang paling penting itu sarapan, kalau makan siang tidak makan tidak apa-apa."


Kata Eyang,


Mbok Siti berpandangan dengan Bunga,


"Ini nasi goreng banyak, bawa saja satu piring Mbok buat Mas nya."


Ujar Bunga,


"Oh iya betul itu, kasih itu nasi goreng saja."


Kata Eyang,

__ADS_1


Tepat saat Eyang bicara begitu, terdengar suara ketukan di pintu depan,


Eyang meminta Mbok Siti membukakan pintu untuk melihat siapa yang datang.


Mbok Siti pun bergegas meninggalkan ruang makan dan menuju ruang depan.


"Jadi, boleh kan Eyang kalau Bunga ambil kesempatan ini? Hanya empat puluh dus snack dan empat puluh dus nasi saja Eyang, tidak banyak, tidak akan terlalu capek dikerjakan."


Kata Bunga,


"Kamu ini, nanti kalau sakit gimana karena capek, kayak dulu."


Kata Eyang putri,


"Tidak akan Eyang, kan kalau dulu sampai seratus dus, ini hanya empat puluh, sedikit kan Eyang, dikerjakan setengah hari juga selesai, apalagi dibantu Mbok Siti,"


Ujar Bunga tetap mencoba meyakinkan Eyang Putrinya,


Tampak Eyang menghela nafasnya lagi, lalu...


"Ya baiklah... baiklah... terserah kamu saja."


Kata Eyang akhirnya memutuskan, meski dengan masih tetap berat hati pastinya,


Bunga tentu saja senang sekali mendengar keputusan Eyang, tampak ia langsung berdiri dari duduknya dan langsung menghambur ke arah Eyangnya untuk memeluk.


Kata Bunga senang,


Eyang pun pura-pura cemberut meski akhirnya terkekeh,


"Kamu ini, kebiasaan..."


Lirih Eyang,


"Maaf, Eyang, itu ada Mas Nathan,"


Tiba-tiba terdengar suara Mbok Siti yang sudah kembali dari ruang depan,


"Oh Nathan?"


Eyang menoleh ke arah Mbok Siti, begitupun pula dengan Bunga yang sembari melepaskan pelukannya pada Eyang putrinya,


"Nggih, katanya Mas Nathan mau berangkat ke kantor, mau ketemu Eyang dulu sebentar,"


Kata Mbok Siti,

__ADS_1


"Suruh ke sini saja Mbok, biar sekalian ini sarapan sama-sama."


"Nggih Eyang,"


Mbok Siti pun bergegas kembali ke ruang depan,


"Mas... di suruh Eyang Putri masuk saja,"


Kata Mbok Siti begitu sudah berada di ruang depan menemui Nathan,


"Aduh saya cuma mau ada perlu sebentar saja Mbok, apa ini titip saja untuk di sampaikan ke Eyang,"


Nathan mengeluarkan satu amplop coklat panjang yang sebetulnya sudah sejak berangkat dari Jakarta ia sengaja siapkan,


Mbok Siti cepat menggeleng,


"Tidak boleh Mas, tidak sopan, nanti malah Eyang marah, tidak apa-apa, masuk saja, sebentar."


Ujar Mbok Siti,


Nathan menghela nafas, ia menatap pintu yang membatasi ruang depan dan juga ruang dalam yang di sana pastinya bukan hanya ada Eyang, tapi juga ada Bunga.


Ah...


Nathan sejenak bimbang, ini kali pertama ia begitu terpengaruh dengan keberadaan seorang gadis di hadapannya,


Bahkan saat dulu ia masih sendiri pun, ia tak begitu merasa terganggu dengan perasaan yang aneh-aneh.


"Monggo Mas,"


Tampak Mbok Siti mempersilahkan,


Nathan pun akhirnya memaksakan diri melangkah masuk mengikuti langkah mbok Siti,


Bagaimanapun, ia merasa sudah nyaman dengan kontrakan milik Eyang, jadi Nathan ingin cepat membayar biaya kontrakan rumahnya, agar bisa tenang tinggal di sana.


"Eyang, ini Mas Nathan nya,"


Kata Mbok Siti, saat akhirnya keduanya sampai di ruang makan,


Eyang terlihat menoleh ke arah keduanya yang kini berjalan mendekat, tampak Eyang tak lupa menyunggingkan senyum ramah dan hangat,


"Monggo Nak, ayok sini sekalian sarapan, itu Bunga sedang membuatkan teh dan mengambilkan piring, ayok duduk... duduk sini sama Eyang, anggap keluarga sendiri."


Nathan pun tentu saja jadi makin tidak enak, ia antara begitu senang karena Eyang seolah memperlakukan Nathan seperti cucu sendiri, tapi sekaligus juga Nathan jadi sedih karena dengan perlakuan Eyang yang demikian, Nathan jadi ingat almarhumah Ibunya.

__ADS_1


**--------------**


__ADS_2