Twinflame

Twinflame
18. Cucu Kesayangan


__ADS_3

"Mbak Bunga, nanti saya nitip beli tas sekolah buat anak SD yang bagus to,"


Kata Mbok Siti saat Bunga baru keluar dari kamar, dan akan mengambil sepatu,


"Tas nopo Mbok?"


Tanya Bunga sambil duduk di kursi kayu dekat rak sepatu lalu meraih salah satu sepatu yang ada di rak,


"Tas sekolah Mbak Bunga,"


Jawab Mbok Siti sambil mengelap meja dekat Bunga duduk,


"Iya, tas sekolah yang gambar apa? Atau yang model apa? Yang ransel apa bukan?"


Tanya Bunga sambil geleng-geleng kepala, sementara itu tangannya sibuk mengikat tali sepatunya,


"Apa saja yang penting bagus Mbak, yang biar si Hilda suka,"


Kata Mbok Siti,


Bunga tersenyum sambil mantuk-mantuk,


"Iya nanti Bunga carikan yang bagus, yang Frozen saja ya, anak-anak cewek sekarang kan sukanya frozen."


Ujar Bunga pula,


"Oh iya Mbak, itu warung Bu Yani juga ramai sekali sekarang karena ada tulisan frozennya,"


Kata Mbok Siti,


Bunga sejenak terdiam, mencoba mencerna perkataan Mbok Siti.


Apa sebetulnya frozen yang dimaksud frozen di warung Bu Yani,

__ADS_1


"Bunga..."


Terdengar kemudian suara Eyang Putri memanggil Bunga,


"Nggih Eyang,"


Sahut Bunga sembari melihat ke arah Eyang yang muncul dari kamarnya,


"Ini uang buat kamu saja, simpan masukkan tabungan saja Nga."


Ujar Eyang sembari mendekati cucunya, lalu meletakkan amplop di atas meja samping Bunga duduk,


Amplop uang dari Nathan sebagai biaya kontrakan selama dua tahun itu terlihat masih utuh dan sepertinya Eyang memang tak berniat sama sekali melihatnya,


"Tapi Eyang,"


Bunga menatap Eyangnya,


Eyang lantas mengambil uang dari saku daster batik panjang yang ia pakai, uang tiga ratus ribu yang terdiri dari lima puluh ribuan dua dan seratus ribuan dua.


Kata Eyang,


"Waduh, banyak sekali Eyang,"


Mbok Siti senang sekali menyambut uang dari Eyang Putri tersebut,


"Eyang,"


Bunga tampak masih ragu dengan uang kontrakan yang diberikan Eyang padanya,


"Sudah, tidak apa-apa, ambilah dan simpan di tabungan, biar kalau kamu ingin beli apa-apa tidak bingung,"


Kata Eyang membuat Bunga matanya seketika berkaca-kaca,

__ADS_1


Eyang mengusap lembut atas kepala Bunga, laku tersenyum lembut,


"Sudah sana berangkat, nanti kamu ketinggalan kelas lho,"


Ujar Eyang,


Bunga pun mengusap ujung matanya yang tampak ada genangan air mata.


Bunga lantas berdiri dan memeluk Eyangnya dari belakang,


"Eyang, terimakasih sudah begitu sayang pada Bunga selama ini, maaf kalau Bunga belum bisa membuat Eyang bangga yah Eyang,"


Kata Bunga sambil memeluk Eyang,


Tampak Eyang pun jadi berkaca-kaca dan akhirnya berurai air mata,


"Sejak kedua orangtuamu meninggal, maka seluruh apa yang kamu butuhkan adalah sudah semestinya jadi tanggungjawab Eyang, kamu sehat, kamu tumbuh jadi anak yang selalu ceria saja Eyang sudah sangat bahagia dan bangga Bunga,"


Ujar Eyang pula,


Bunga yang sejak tadi sudah ingin menangis tapi terus berusaha menahan, akhirnya tak kuasa lagi,


Eyang melepas pelukan Bunga, lalu berbalik sebentar agar bisa menatap wajah cucunya lagi,


Eyang tampak tersenyum menatap Bunga, sambil kemudian mengusap air mata yang tadi sempat meleleh,


"Jangan nangis, sudah jangan nangis lagi,"


Lirih Eyang,


"Kamu sebentar lagi wisuda, sebentar-sebentar lagi juga menikah, jangan suka menangis lagi,"


Lirih Eyang sambil membantu mengusap air mata di pipi cucunya.

__ADS_1


**-----------**


__ADS_2