
Tak ingin kembali
Felix Harraz Rahardja, tampil layaknya duplikat Tirta saat Tirta balita. Jangankan saat Tirta balita, bahkan saat sekarang pun, andai ada yang melihat, sudah bisa ditebak akan berpendapat bahwa Felix adalah putra Tirta.
Hana mendapati fakta ini, tentu merasakan perih hatinya. Ada rasa tak suka saat Tirta menatap putranya penuh damba. Hana tak ingin, hidupnya penuh siksa bila harus bersatu lagi dengan Tirta yang Tirani.
"Putraku .... " Suara Tirta tercekat. Matanya berkaca dengan bibir bawahnya yang ia gigit akibat menahan tangis.
"Ya, dia putramu. Tapi aku tak ingin kau mengatas namakan Felix Harraz Rahardja, untuk bisa menyeretku ke dalam hidupmu lagi, Tirta. Jangan pernah lakukan itu. Aku tak akan pernah sudi untuk kembali denganmu lagi." Hana tak bisa menahan emosinya lagi kali ini. Bibir wanita itu bergetar dengan nafas yang menderu.
"Hana, tenanglah. Aku minta maaf, oke? Kumohon, mari bicara baik-baik." Pinta Tirta.
Suara Tirta yang tadinya datar, kini telah berubah menjadi lebih lembut dan lirih. Sorot matanya menunjukkan, bahwa Tirta bersungguh-sungguh telah berubah.
"Tidak, Tirta. Kau tak bisa merayuku lagi di depan keluargaku. Lima bulan terasa lima puluh tahun saat bersamamu, menjalani hinaan, cacian, siksaan, dan juga pukulanmu, Tirta. aku tak mau bicara apa pun lagi denganmu. Yang aku mau, proses segera perceraian kita secepatnya." Hana semakin tak terkendali.
Felix yang tadinya sudah mulai tenang saat pelayan menyerahkan anak itu pada Hana, kini kembali rewel dan menangis. Anak itu seolah tahu dan menyadari, apa yang terjadi antara kedua orang tuanya.
Balita umumnya memang selalu peka dan sensitif terhadap banyak hal yang terjadi di sekitar. Perasaan Felix yang tak menentu itu, tentu saja membuatnya rewel. Anak itu kembali menangis.
Dari balik pintu, Kara yang sengaja menguping, mendengar semuanya dan memutuskan untuk menghampiri keduanya. Hana dan Tirta, mereka tak akan menemukan jalan keluar. Yang ada hanyalah akan berdebat sepanjang hari.
"Hana, mengapa Felix menangis? Oh sini, berikan padaku, biar aku yang menggendongnya." Ucap Kara dengan merentangkan kedua tangannya. Felix tentu saja menyambut uluran kedua tangan Kara.
"Hapus air matamu, jangan menangis. Mari duduk dan bicara baik-baik. Tangisan tak akan menyelesaikan masalah, justru semakin memperbesar masalah." Tambah Kara kemudian.
__ADS_1
Kini, baik Tirta, Hana maupun Kara sama-sama duduk, dengan Felix yang masih duduk di pangkuan Kara. Anak itu diam dan tenang hanya dengan elusan lembut di punggungnya. Beberapa mainan mobil dan robot, menjadi pusat perhatian balita itu.
Kebisuan panjang menyelimuti keduanya. Kara yang duduk menunggu keduanya membuka percakapan, lama-lama merasa gerah dan kesal juga. Hingga ia tak tahan, dan memilih untuk membuka perbincangan.
"Apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangga kalian, Hana? Tirta? Aku tak ingin mendengar sepotong demi sepotong cerita kalian. Aku juga tak hanya ingin mendengar dari Hana, melainkan juga darimu, Tirta. Jadi ceritakan tanpa mengurangi, dan menambahkan cerita." Ucap Kara. Hana hanya menunduk, tak berani menatap Tirta, maupun Kara.
"Aku dan Hana tak saling mencintai di awal pernikahan kami, tuan Kara. Tuan muda, putra anda yang berkata, bahwa saya tentu akan merasa bahagia bersama Hana, jika kami saling hidup bersama. Aku, aku memiliki masa lalu yang kelam, tuan. Kara. Pengkhianatan dan kehancuran di masa lalu, membuatku trauma dan membenci wanita berparas cantik hingga saat aku menikahi Hana." Jelas Tirta. Lelaki itu mengangkat wajahnya, membuang pandangan ke sembarang arah, dengan sorot penuh nostalgia.
"Lanjutkan." Titah Kara.
"Anda mengingat Anita? Mantan kekasihku yang tewas sepuluh tahun yang lalu? Akulah yang membunuhnya. Pengkhianatan dan segala niat jahatnya, aku ketahui sebelum ia menjalankan misi terakhirnya atas diriku. Tentu saja sebagai lelaki aku lebih memilih untuk tak mengalah, dan menghabisinya tanpa pikir panjang. Emosiku sudah membumbung saat itu. Aku gelap mata, hingga melahirkan jiwa iblis dalam diriku." Tambah Tirta.
Tatapan laki-laki itu beralih menatap Hana dengan tatapan sayu penuh sesal.
Kara menatap tajam Tirta, merasa bahwa ia tak menemukan kebohongan disana. Yang ada hanyalah ketulusan yang luar biasa besar.
Kara diam, menilai apa yang tengah ia saksikan dan ia dengar. Tirta adalah orang yang sangat kuat dalam bidang bisnis. Tapi berhadapan dengan cinta?
Bahkan Tirta telah berubah total. Lelaki itu tak bisa mengurus diri selepas ditinggal Hana. Gurat ketampanan yang dulu ia miliki, kini seolah terkikis karena terlalu banyak beban dan pikiran. Jambangnya mulai tumbuh, dengan kumis tipis yang tak bisa dikatakan buruk juga.
"Benarkan kau bersungguh-sungguh mencintai Hana?" Tanya Kara. Nada bicaranya tenang, tak menunjukkan riak emosi sedikit pun.
"Ya. Aku bersungguh-sungguh mencintai istriku." Jawab Tirta yakin.
"Kau yakin bahwa itu bukanlah rasa bersalah, karena saat itu istrimu tengah mengandung? Pastikan dulu, Tirta. Jangan sampai kau menyesal suatu hari nanti." Desak Kara.
__ADS_1
Tirta menatap Kara, menunjukkan bahwa dirinya tak main-main dalam mencintai Hana. Tidak tahukah Kara, bahwa Tirta bahkan sangat kacau dan hancur selepas kepergian Hana?
"Apa yang tuan Kara minta, sebagai bukti kesungguhan cintaku pada Hana?" Tanya Tirta.
"Yakinkan Hana, dan buat dia benar-benar yakin bahwa kau telah berubah." Tukas Kara lagi.
Hana mendongak, menatap Kara seraya menggelengkan kepalanya dramatis. Tidak. Ia tak mau kembali pada Tirta. Tapi bagaimana ini? Kara bahkan membuka celah untuk Tirta membawa Hana.
"Tidak. Sampai kapan pun, aku tak akan mau kembali dengan Tirta. Jangan mempercayai dia, om Kara. Dia itu bermuka dua." Timpal Hana.
Wajah Hana memucat. Napas yang tadinya teratur, kini bahkan kembali memburu. Jangan tanya bagaimana mata wanita itu. Ia kembali menangis.
"Ada apa denganmu, Hana? Duduk dan dengar dulu. Jika kau tak membuka diri, kita tak akan tahu hasilnya. Dengar, bila Tirta benar-benar tak mampu membahagiakanmu, aku sendiri yang akan memburunya." Tegas Kara. "Percayalah padaku, Hana. Bahkan bila untuk menumbangkan Tirta, hanya sekali hentikan jari."
Setelahnya, baik Kara dan Hana, pandangan keduanya terfokus pada Tirta yang menatap Felix penuh damba.
"Aku tak berniat mengaturmu. Tapi aku memberimu waktu satu atau dua bulan untuk kembali hidup dengan Tirta. Beri dia kesempatan untuk membuktikan yang dia ucapkan sebagai ketulusan. jika dalam satu atau dua bulan itu ia mengingkari ucapannya, kau bisa berpisah dan aku sendiri yang akan memfasilitasi perceraian kalian. Tapi jika Tirta berubah, kau tahu apa dampak positifnya? Felix tak akan besar tanpa ayah." Ujar Kara.
Hana kian memucat. Lagi dan lagi, hidupnya telah diatur penuh oleh keluarga Praja Bekti.
Ya Tuhan, aku tak kuat.
Jerit batin Hana dengan pilu.
**
__ADS_1