Unwanted Husband

Unwanted Husband
Episode 30


__ADS_3

Kedatangan sahabat


Suasana pagi di kediaman Rahardja tampak lengang. Hanya ada beberapa pelayan yang mondar-mandir membersihkan rumah, juga menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga


kecil Tirta.


Tirta sudah merasa lebih baik dari pada semalam. Lelaki itu juga sudah mandi air hangat, dan juga sudah siap dengan kemeja hitam, dan celana hitam. Agaknya, Tirta tak akan ke kantor hari ini. Itulah yang Hana simpulkan. Jas yang biasa suaminya itu kenakan, kini tak bertengger di tubuhnya.


Tapi tidak, Hana tak peduli.


Yang pertama kali berhasil menyita perhatian Tirta adalah Felix. Anak itu mengoceh tak jelas, dan menjulurkan kedua tangannya pada Tirta. Tentu saja Tirta menyambutnya dengan senang hati.


"Selamat pagi, anak papa. Bagaimana kabarmu pagi ini? Kau senang hari ini?" Tanya Tirta, seraya meraih Felix ke dalam gendongannya. Tak hanya itu, Tirta juga telah menghujani wajah putranya, dengan banyak ciuman.


"Pagi, Hana. Kau mau keluar hari ini?" Tanya Tirta datar, menatap sekilas Hana yang tampak berbeda dari kemarin. Lebih cantik dengan balutan make up berani.


"Ya. Aku akan beli gaun di luar. Felix akan ikut denganku." Hana menjawab datar. Wanita itu tak sadar, jika dalam seharian ini, akan berada di bawah pengawasan salah satu anak buah Tirta.


"Baiklah. Berhubung nanti malam kau keluar seorang diri, maka Felix akan ikut denganku nanti." Tirta mengungkapkan.


"Terserah kau saja." Hana menjawab datar. Keduanya lantas terjebak dalam kebisuan yang panjang. Makan pagi kali ini, hanya dihiasi keheningan. Tak lupa, Tirta juga mengajak Felix untuk ngobrol sesekali. Saat ia diabaikan Hana, Tirta memilih diam.dan mengalihkan fokusnya pada Felix.


Hingga sesi sarapan telah usai, Hana sudah berangkat ke butik andalannya. Demikian juga dengan Tirta yang berangkat ke sebuah rumah sakit untuk melakukan serangkaian pemeriksaan lanjutan.


Dokter yang menangani Tirta tampak duduk di dalam ruangan pribadi. Menatap Tirta seraya membaca sebaris demi sebarus kalimat yang tertulis dari hasil laboratorium pemeriksaan Tirta.


"Apakah pusingnya masih sering, tuan?" Dokter ahli yang menangani Tirta, bertanya di dalam ruangan dokter. Hanya ada Johan yang mendampingi Tirta.

__ADS_1


"Ya. Sakitnya lumayan sering. Frekuensinya lebih cepat dan kepala belakangku seperti tersengat listrik, saat nyeri ya datang." Ungkap Tirta.


"Hasil pemeriksaan yang lalu telah keluar, tuan Rahardja. Aku akan bacakan untukmu hasilnya. Sakit yang sering kau alami, adalah nyeri saraf oksipital, atau istilah lainnya, adalah neuralgia oksipital. Untuk sementara ini, aku akan memberimu obat pereda nyeri, pelemas otot, antikonvulsan atau anti kejang. Minumlah sesuai dengan resep. Jangan terlambat mengonsumsinya, jika kau tak ingin sakitnya semakin berkelanjutan. Bila Minggu depan masih belum ada perubahan, aku akan melakukan penyuntikan steroid, untuk mengurangi nyerinya." Dokter menjelaskan panjang lebar.


Tirta sendiri tak begitu peduli, dan lebih memikirkan Hana dan Felix.


"Terima kasih, dokter." Johan yang menyahuti, karena sejak tadi, majikannya itu hanya diam saja.


"Jangan lupa untuk menunjang kesembuhan, dengan istirahat yang cukup, memenuhi gizi seimbang, jangan stress, hindari rokok dan minuman beralkohol. Aku yakin, semua akan baik-baik saja setelah dua atau tiga Minggu ke depan." Dokter memberikan nasihat terakhirnya.


Tirta hanya mengangguk dan pamit pergi dari sana. Tak ada yang ingin Tirta lakukan, selain segera pulang.


"Aku mendelegasikan pekerjaan pada orang-orang terpercaya, Han. Termasuk dirimu. Tetap waspada, jangan sampai orang-orang Praja Bekti dan keluarga besar istriku tahu tentang sakitku. Ingat itu." Ujar Tirta sekali lagi, ketika kini keduanya telah nyaris tiba di rumah Tirta.


"Tuan, apakah tuan yakin untuk melepaskan nyonya besar malam nanti, untuk pergi sendiri?"Tanya Johan kemudian. Ia merasa tak biasanya, Tirta akan melepas apa yang menjadi miliknya, untuk bebas sendirian.


Johan hanya diam, membiarkan mobil melaju pelan memasuki kediaman Tirta.


"Empat hari lagi ada rapat dengan petinggi perusahaan, dan juga tuan Kara akan datang. Saya hanya berharap, nyonya tidak mengadu yang tidak-tidak pada tuan Kara." Ujar Johan, ketika kini keduanya telah berada di ruang kerja Tirta.


"Oh, ingatkan aku untuk hal itu, Han. Oh ya, ngomong-ngomong, apa kau sudah mempersiapkan orang suruhan yang terpercaya?" Tirta bertanya dengan serius.


"Sudah, tuan. Tetapi saya mendapatkan sebuah kabar mengejutkan di masa lalu nyonya Hana." Johan berkata dengan datar.


"Apa itu?" Tirta bertanya serius, merasa tertarik dengan ungkapan Johan.


"Ini tentang nyonya Hana, dengan seorang lelaki yang bernama Jefry." Johan menatap Tirta serius.

__ADS_1


Baru saja Johan hendak melanjutkan kalimatnya, suara gaduh terdengar dari luar. Jelas sekali, bahwa itu adalah suara Ronnie dan Joshua yang sedang berkunjung. Tirta tersenyum kecil seraya menatap Johan, "Kita lanjutkan nanti, Han. Ada dua cecunguk yang sedang datang." Ujar Tirta kemudian.


Johan pamit, berlalu begitu saja untuk menuju ke kantor. Seperti biasa, dirinya hanya akan menjadi bahan ledekan kedua sahabat majikannya, karena belum memiliki pendamping hidup hingga kini. Menyebalkan.


"Hai, bung. Lama sekali tak melihatmu. Kulihat kau semakin tua saja." Joshua datang dan segera memeluk sahabatnya itu. Begitu juga dengan Ronnie yang memeluk keduanya, dan menepuk pelan bahu Tirta. Persahabatan yang terjalin cukup lama, membuat ketiganya semakin dekat.


"Sialan, kau. Aku tak akan memaafkan dirimu, jika kau berani mengulanginya lagi." Tirta meninju pelan lengan Josh.


"Oh ya, kudengar istrimu sudah ditemukan. Mana dia? Dan juga, anakmu." Ronnie bertanya. "Aku mendengar kabar dari Haikal, beberapa hari lalu aku tanpa sengaja bertemu dengannya di tempat umum." Tambah Ronnie lagi.


"Baiklah, mari duduk dan akan aku ceritakan. Hari ini dia sedang mendatangi butik bersama Felix, putraku." Tirta menuntun mereka untuk duduk di sofa. Tak lupa, Tirta memesan minuman pada pelayan.


Siang ini, akan menjadi siang yang menyenangkan untuk Tirta dan sahabatnya. Sudah lama, suasana seperti ini dirindukan oleh Tirta. Namun, jarak jauh lah yang menjadi penghalang keduanya untuk bertemu.


"Bagaimana? Apakah kau sudah sadar akan arti kehilangan?" Ronnie menatap Tirta dengan pandangan penuh selidik.


"Ya. Aku menyesalinya, dan kini berbalik akulah yang di serang oleh istriku. Dia membenciku setengah mati." Tirta berkata, serta tertawa renyah.


Baik Josh dan Ronnie saling tatap, merasa heran dengan Tirta.


"Kau dibenci istrimu dan kau senang?" Josh balik melayangkan tawa. Hingga kemudian Tirta menatap serius Joshua dan Ronnie.


"Aku sepertinya sudah menerima karma dari kejahatan diriku di masa lalu. Kalian tahu? Dia bahkan enggan ku sentuh, enggan pergi menghadiri reuni bersamaku. Dulu, beginilah aku memperlakukan Hana. Dan naasnya, aku justru mencintai Hana." Tirta menatap nyalang langit-langit ruang kerjanya.


**


Sekedar info, untuk neuralgia oksipital, aku serching di Gugel ya. Jika ada yang mengganjal, mohon beri tahu. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2