
Rindu kehangatan
Di dalam ruang rawat Tirta, duduk Kara dengan Amira Manovti yang merasakan tak nyaman. William yang tadi menemuinya, kini tengah bicara dengan Jefry di dalam ruangan Jef.
Keheningan sejenak mendominasi seluruh seisi ruangan. Ada sebuah kepasrahan yang tampak pada wajah Amira. Tentu saja Kara bisa menatapnya dengan jelas.
"Kita memang tidak pernah memiliki urusan lain diluar area bisnis, Nyonya Manovti. Tetapi kali ini, aku selalu orang yang masih berbau saudara dengan Hana, aku minta padamu, untuk berusaha lebih keras untuk meraih hati putramu kembali. Biar bagaimana pun, kau yang bersalah di masa lalu. Suatu saat, aku yakin Tirta akan membuka hatinya untukmu nanti," ujar Kara.
"Hanya saja saat ini, jiwanya masih terbalut kebencian. Sebagai orang yang aku tahu bahwa Tirta adalah anak yang baik sejauh yang aku kenal, pasti ada sisi hati manja nya padamu. Kurasa, bersabarlah. Berhubung Hana sudah aku anggap seperti putriku sendiri, aku juga yang sudah menjodohkan mereka berdua, maka aku meminta restu darimu, untuk pernikahan Hana dan Tirta," ungkap Kara panjang lebar.
Amira terhenyak di tempatnya. Sepanjang yang ia tahu tentang Kara dalam dunia bisnis, Amira baru kali ini mendapati Tirta yang lebih banyak bicara padanya.
"Terima kasih, Tuan Kara. Kali ini, aku benar-benar mengucap terimakasih banyak atas kesediaan anda. Tentu saja sebagai seorang ibu, aku akan merestui pernikahan mereka tanpa Tirta minta. Terima kasih. Kau sudah memberi aku kesempatan untuk memperbaiki diri."
"Baiklah. Aku rasa hanya itu saja yang ingin aku sampaikan. Bila sudah dirasa cukup, aku akan membantumu untuk membuka hati Tirta. Percayalah, lukanya, kau bahkan tak akan sanggup membayangkan. Saat-saat terpuruknya, keluargaku yang paling tahu bagaimana hancurnya Tirta saat itu. Jadi intinya, aku harap kau mengerti," tambah Kara kemudian.
Lelaki itu lantas pamit untuk pulang. Kara ada janji dengan ibunya, untuk menghadiri sebuah acara.
Setibanya di mobil, disana Tirta menunggu bersama Hana. Sayup-sayup telinga Kara mendengar, Hana kembali berdebat dengan Tirta. Bak remaja yang baru jatuh cinta, Hana dengan tegas ingin Tirta kembali menikah dengannya, dan Tirta juga dengan tegas menolak Hana. Keduanya seolah tak tahu malu, dengan situasi keberadaan mereka yang tengah berada di tempat umum.
"Hentikan semua ini, Hana. Menikah bukan perkara mudah yang bisa kita lakukan sesuka hati. Aku tak mau kau nanti berakhir meminta perpisahan dariku, seperti dulu. Pernikahan bukan ajang permainan," ungkap Tirta kemudian.
__ADS_1
Mata tajam Kara melihat Hana tengah meliriknya.
"Aku bersumpah aku tak akan meminta perpisahan padamu, sayangku, kecuali kau menduakan aku dengan wanita lain. Aku sungguh ingin memperbaiki diri. Apa susahnya memang, bila kau tinggal menerima aku. Dan lagi, aku masih ingin penjelasan darimu, mengapa kau tiba-tiba pindah dan menghindari aku," timpal Hana.
"Kau pikir, aku dan otakku ini akan tetap sehat jika aku terus berada di sampingmu? Ya tuhan, aku bahkan bisa gila sewaktu-waktu, Hana. Aku mencintaimu sampai harus merendahkan harga diriku, dan kau tetap kokoh meminta pisah. Kau sendiri yang berkata, jika aku memaksa memilikimu, maka yang aku miliki hanyalah tubuhmu, bukan hatimu. Ya Tuhan, lelaki mana yang tak gila bila ia dipaksa menjauh dari cintanya?" tanya Tirta lagi tak terima.
"Saat itu aku sedang pingsan, Tirta, belumlah sadar sepenuhnya. Jadi saat ini aku baru menyadari, kau lelaki terbaik yang tuhan kirim untukku," ujar Hana dengan senyum tanpa dosa. Tirta lama-lama jengkel juga dibuatnya.
"Astaga, terserah padamu saja," ungkap Tirta kemudian, menghela napas pasrah.
"Kalian ikut pulang atau tidak? Jika tidak, aku akan pulang sendiri," kata Kara tiba-tiba. Lelaki itu sudah membuka pintu mobil, dan melihat Hana dan Tirta yang saling merajuk.
Astaga, aku seperti mengasuh dua bayi dalam satu waktu. Melelahkan. Apa perlu aku menitipkan mereka pada daycare terdekat?
Tanpa kata, Hana dan Tirta menyusul Kara masuk ke dalam mobilnya. Naasnya, Tirta pikir Hana akan duduk di bangku depan sebelah kemudi. Sayangnya, Tirta salah. Hana justru duduk di belakang membersamai Tirta.
"Tersenyumlah, Tirta. Jangan memasang mode wajah kesal begitu, jika tak ingin level tampanmu bertambah tinggi. Kau semakin rupawan jika sudah begini," kata Hana lagi.
Tirta memutar bola matanya jengah. Berbeda dengan Kara yang menatap takjub pada Hana. Rupanya, Hana memiliki bakat merayu laki-laki.
"Diamlah, Hana. Aku semakin risih dengan rayuanmu itu," timpal Tirta. Keduanya seolah tidak mengenal malu pada si pemilik mobil sport mewah yang duduk di depan.
__ADS_1
Aku merasa menjadi sopir taksi online sepasang remaja SMP yang sedang jatuh cinta. Baiklah, ini adalah terakhir kali aku memberikan tumpangan pada mereka. Lain kali, tidak akan lagi.
Batin Kara kemudian.
"Baiklah. Mulutku akan diam jika kau juga diam tak menolakku," jawab Hana, seraya merebahkan kepalanya di lengan Tirta yang sedikit kurus dari biasanya.
Sejak sakit, Tirta memang mengalami penurunan pada berat tubuhnya.
"Astaga, apa yang kau lakukan, Hana? Menyingkirlah," kata Tirta, merasa tidak aman saat ini. Terlalu berinteraksi secara dekat sekali seperti sekarang, tak baik untuk hatinya yang takut tak bisa mengendalikan diri.
"Diam dan jangan memberontak, jika kau tak ingin aku jadikan kasur untuk aku tidur," jawab Hana pelan, sambil mengulas senyum dan memejamkan mata.
"Diamlah, aku ingin istirahat."
"Astaga, kau bisa bersandar pada kaca mobil. Jangan begini!" seru Tirta kemudian, sambil berniat menggeser kepala Hana.
"Kau ini, tak tahu malu," sambung Tirta lagi dengan suara setengah berbisik, sayangnya, Kara dapat mendengarnya dengan jelas.
"Untuk apa malu, Tirta? Sebentar lagi aku menjadi istrimu. Tak ada yang perlu aku jadikan alasan untuk malu. Bahkan, kau sudah sering melihat setiap inchi dari lekuk tubuhku. Jadi lebih baik, kau diam saja dan biarkan aku bersandar padamu. Sudah lama, aku tak merasakan kehangatan seperti ini," ungkap Hana, yang sudah setengah mengantuk.
Wanita itu, bahkan antara sadar dan tidak, ketika mengucapkannya. Jujur saja, Hana demikian rindu akan hangat tubuh mantan suaminya ini.
__ADS_1
**
Noh🤣 yang minta update tambahan, udah ya. Doakan entar bisa update lagi. Maklum, sambil ngasuh batita, bayi tiga tahun🙏🫰.