Unwanted Husband

Unwanted Husband
Episode 26


__ADS_3

Pucat pasi


Gihana tengah menatap sebuah undangan berwarna biru muda, yang tengah berada di dalam genggamannya. Wanita itu membolak-balikkan kertas undangan itu, dan membacanya berulang kali. Senyum tak luntur dari bibirnya yang tampak sensual.


Tak hanya itu, Hana tersenyum sesekali, membayangkan ia akan bertemu dengan seseorang yang dulu pernah memberinya banyak warna di masa remaja. Entah apa yang Hana rencanakan, tapi Hana terlihat sekali, bahwa ia tersenyum penuh makna.


Sorot mata jenaka lelaki itu, juga banyak usaha dan pengorbanan, dan Hana merasa tak mampu untuk mengendalikan rasa dan hal itu.


Tirta, suaminya itu baru berangkat ke kantor dua jam lalu. Felix juga sedang bermain di lantai beralaskan spons lantai. Mainan Lego, mobil-mobil, patung beragam hewan, dan sejenis mainan lainnya, menjadi pusat perhatian anak itu.


Dalam diam, Hana membaca berulang kali tanggal yang tertera di sana. Tak hanya itu, Hana juga menatap Felix sesekali, dan berniat untuk membawa anak itu serta nanti, saat menghadiri acara reuninya.


'Tapi, bagaimana nanti jika seandainya, teman-temanku bertanya tentang Tirta? Mereka tentu tahu aku adalah nyonya Rahardja. Ya tuhan, aku tak bisa berjalan bersama Tirta untuk acara reuni teman-temanku.'


Hana mengeluh di dalam hati.


"Hana, apa yang kau pikirkan? Mengapa senyum-senyum sendiri?" Tanya Tirta, yang tiba-tiba muncul di ambang pintu kamar.


Hana mengalihkan atensinya, menatap suaminya yang agak pucat, tak seperti biasanya. "Bukan urusanmu." Jawab Hana dingin.


Tirta tak menanggapi, apalagi mengambil hati apa yang istrinya katakan baru saja. Lelaki itu melangkah masuk, melepas sepatunya dan meletakan di dalam depan almari. Biasanya, pelayan yang akan memberesinya.

__ADS_1


Tak lupa, Tirta juga menyempatkan diri untuk menyapa Felix, dan membawa putranya itu ke dalam gendongannya. Beginikah rasanya memiliki seorang anak? Hidup Tirta terasa tak lagi kosong, tak ada lagi kehampaan. Bukankah itu artinya Felix sangat berarti untuknya.


"Mengapa pulang lebih cepat? Bahkan hari belum siang." Ucap Hana yang telah kembali fokus pada lembar undangannya.


Wanita itu tengah menyembunyikan makna dari senyumnya.


Dalam diam, Tirta tersenyum kecil. Hana berkata bahwa apa yang menyangkut tentang Tirta, bukanlah urusannya. Tapi lihat saja, bahkan baru saja, Hana ingin tahu mengapa Tirta pulang cepat. Hana cukup rumit, wanita itu menyimpan banyak misteri yang tak Tirta ketahui tentang kepribadiannya.


"Aku kelelahan dan ingin istirahat. Terpaksa aku mendelegasikan sebagian besar pekerjaanku pada pegawai-pegawai di kantorku. Aku tak akan jatuh bangkrut hanya karena aku tak bekerja sehari dua hari. Lagi pula, seharian di rumah dengan dirimu dan Felix, itu adalah hal yang menyenangkan." Tirta menjawab pelan. Suaranya sedikit sengau layaknya sedang pilek.


Hana memilih bungkam, tak ingin melanjutkan obrolan yang tak penting. Hana hanya tak ingin, Tirta jadi besar kepala nantinya. Tanpa membersihkan diri, Tirta menuju ke ruang ganti, mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan yang jarang sekali ia gunakan.


Celana berbahan kain tebal berwarna krem, dipadu dengan kaos oblong berwana putih, membuat Tirta semakin terlihat lebih muda dari usianya. Mungkin jika ada seseorang tak mengenal Tirta dan melihat Tirta, ia akan mengira bahwa Tirta masih berusia pertengahan tiga puluhan. Padahal kenyataannya, Tirta sudah berusia tiga puluh delapan tahun.


"Aku akan istirahat hingga jam makan siang nanti, Hana. Bangunkan aku saat siang nanti."Pinta Tirta. Lelaki itu lantas menatap istrinya itu, yang sedikit terpana. Sekuat apa pun Hana menyembunyikan, tapi Tirta cukup tahu.


"Pelayan yang akan membangunkan dirimu, nanti." Jawab Hana.


Dalam diam, Tirta merasa terganggu dengan kalimat baru.


"Meski hanya sekedar membangunkan aku, kau tak mau?" Tirta bertanya lagi. Ia sudah merebahkan tubuhnya, menatap Hana yang terlihat sibuk sendiri.

__ADS_1


"Bukan tak mau, tapi aku tak sudi." Hana menjawab dengan nada sarkas. Mata wanita itu seperti biasa, resign akan segera hiruk pikuk yang cukup membosankan.


"Baiklah. Aku berharap di masa depan, rasa tak sudimu itu, semoga saja tak berbalik menjadi rasa cinta yang berlebihan suatu saat nanti." Tirta berkata seraya memejamkan matanya.


Hana diam, menatap wajah lelah Tirta yang tampak pucat pasi. Mata pemuda itu terpejam, membiarkan dirinya mendengkur halus setelahnya.


'Mungkinlah Tirta sedang sakit?'


Hana bertanya dalam diam.


Ditatapnya lekat wajah tampan Tirta. Lelaki yang sangat tampan namun pasti ia semakin lelah. Wajah pucatnya, sebenarnya membuat Hana nyaris tenggelam akan pesona lelaki itu. Sekuat apa pun Hana berusaha untuk memaafkan, nyatanya bayangan buruk di masa lalu, menghantui Hana hingga cukup membuat Hana sakit.


Andai waktu bisa diputar, Hana mungkin sudah memilih untuk menjadi lajang saja. Hidup dengan banyak aturan di rumah ini, tentunya membuat Hana tertekan bukan main.


Baru saja suara dengkuran halus terdengar dari Tirta, kini Hana terlihat kaget akibat suara getar pada ponselnya. Nama yang sudah lama absen dari jadwal panggilan Hana, kini kembali muncul dan menghubunginya, hingga membuat Hana terjebak dalam nostalgia masa lalu yang membuat rindu.


Nama seseorang yang kembali membuat dunia Hana porak poranda.


"Kau sebenarnya sangat pintar dan cerdas, Tirta. Sayangnya, kau begitu tega padaku, hingga membuatku sangat membenci dirimu." Hana menggumam lirih.


Selepas itu, Hana benar-benar berlalu lefi dari kamar utama, dengan membawa Felix ikut serta.

__ADS_1


**


__ADS_2