
Permohonan Hana.
Hari terus berganti tanpa henti, membiarkan waktu berlalu tanpa perubahan sama sekali. Sengaja Jefry berdiam diri, tak melakukan tindakan apapun untuk memberi kesempatan pada kakaknya untuk mengurus kehidupan yang sama dengannya.
Jefry termenung seorang diri di dalam ruangannya. Jam istirahat, harusnya Jefry makan dan istirahat sejenak. Alih-alih makan dan istirahat, yang ada Jefry justru menghabiskan waktunya untuk termenung,
Seminggu berlalu semenjak Jef mendengar pernyataan Hana yang tak rela ditinggal Tirta pergi. Bahkan wanita idaman Jefry itu begitu hancur dan terlihat kacau. Ada sudut hati Jefry yang merana lagi sakit dibuatnya.
"Cinta itu tidak menyakiti, Jef," suara Amira muncul tiba-tiba, tanpa Jefry sadari kapan saat, kapan ia datang. "Ada beberapa hal yang terkadang kita perlu egois, dan mengutamakan kebahagiaan orang terkasih, meski harus mengorbankan kebahagiaan kita sendiri. Jadi intinya, jika kau ingin memiliki Hana tanpa hatinya, kau bisa memutus napas kehidupan kakakmu sendiri."
Amira sadar betul, bagaimana karakter dan pembawaan Jefry. Lelaki itu adalah lelaki yang kompleks dan keras kepala. Mungkin efek dari didikan manja yang Amira berikan pada Jefry, hingga menyebabkan Jefry kerap kali tak terkendali dan membuat Amira sendiri kewalahan.
Wanita itu duduk dengan anggun, membiarkan Jef mengerutkan keningnya. "Jangan berpikir mama tidak tahu semuanya, Jef. Mama tahu. Semua mama telah mengetahuinya."
"Mama mengizinkan aku membunuh kakakku sendiri?" tanya Jefry lirih.
"Aku bukan memberimu izin, Jefry, melainkan aku memberimu pilihan. Jika kau memang memilih untuk menghabisi nyawanya, itu bukanlah hal yang sulit menurutku. Tetapi kau akan melihat, bagaimana menderitanya Hana nanti. Oh bukan hanya Hana, melainkan aku juga akan menderita," Amira berbisik lirih.
Tak ada kemarahan, tak ada kekecewaan dari sosok Amira, "semua ada di tanganmu. Dengarkan aku, Jef. Cinta memang kerap kali membuat seseorang lupa diri dan mendadak kehilangan sisi manusiawinya. Kau harus sadar satu hal, bahwa tidak semua di dunia ini, bisa dimiliki dengan mudah." Ungkap Amira.
__ADS_1
"Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi, Ma. Mengapa Mama demikian sangat ingin Tirta sembuh?" Jefry bertanya lirih.
Amira memandang Jefry cukup lama, mengamati reaksi dan keingintahuan yang begitu kuat dari Jefry.
"Hidup Tirta tidaklah mudah, Jef. Biar aku ceritakan yang sesungguhnya terjadi," Amira menjeda kalimatnya sejenak, "Hidup Tirta tak semudah yang kau lihat. Usia enam tahun, dirinya sudah diperlihatkan bagaimana pengkhianatan seorang ibu. Ibunya sendiri. Aku, aku telah berselingkuh dengan ayahmu kala itu, di depan mata kepala Tirta sendiri."
"Kau tahu, Jef? Tangis memilukan itu, aku mengingatnya hingga saat ini. Rasa berdosa, ya Tuhan, sumpah demi Tuhan hingga saat ini aku dikejar-kejar oleh rasa bersalahku. Hingga ayahnya meninggal, Jef, dia hidup seorang diri untuk melanjutkan hidup. Sayangnya, aku tak memiliki kepedulian pada Tirta, akibat aku tak mencintai ayahnya. Kau tahu apa yang terjadi kemudian? Aku selalu bermimpi buruk dan dikejar rasa bersalah setiap saat. Ketika Tuhan mempertemukan kami kembali, aku merasa Tuhan memberiku kesempatan untuk menebus dosa-dosaku," jelas Amira.
Jefry terhenyak ditempatnya, berusaha untuk mendalami cerita ibunya hingga terhanyut. Membayangkan Tirta yang hidupnya dulu berbanding terbalik dengannya, Jefry mendadak tersentuh.
"Aku takut, Ma. Aku takut tak bisa jatuh cinta lagi setelah aku patah hati karena tak bisa memiliki Gihana," jelas Jefry.
Baru saja Jefry hendak membuka mulutnya, suara ketukan pintu terdengar, menampakkan dua suster yang berjaga, menghampiri Jefry cepat.
"Dokter, kondisi pasien bernama Tuan Tirta mengalami kritis kembali," seorang suster berambut hitam legam, memberi keterangan.
"Apa? Baiklah, aku akan segera kesana," jawab Jefry yang keluar dengan langkah lebarnya. Amira yang ikut syok dan khawatir, mengekor di belakang suster dan segera menuju ke dalam ruang ICU tempat Tirta di letakkan.
Dari kejauhan, baik Tirta maupun Amira melihat Hana yang tengah duduk di depan ruangan, dengan menengadahkan kedua tangannya. Mata wanita itu tetap sembab setiap harinya.
__ADS_1
Arti cinta yang demikian menyiksa, bisakah Tuhan menghapuskan saja cinta Hana untuk Tirta? Sekali lagi, Jefry merasa tak berdaya seketika. Ada gurat kesakitan yang Hana miliki, yang tak bisa Jefry hapus begitu saja.
"Jef, Jef aku mohon sembuhkan dan selamatkan Tirta. Ada Felix yang masih butuh kasih sayang seorang ayah," pinta Hana dengan tangis memelas. Tentu saja ucapan Hana berhasil membuat langkah Jefry terhenti seketika.
"Aku akan mengusahakan yang tebaik, Hana. Hanya saja, aku tak berani berjanji. Berdoalah, semoga Tuhan menggerakkan hatiku untuk bisa melepaskan mu agar bahagia dengan kakakku," jawab Jefry tanpa perasaan.
Hana mundur dua langkah, merasa tak percaya bahwa Jefry bisa mempertahankan nyawa kakaknya sendiri, demi dirinya. Wanita itu berpikir cepat, sekiranya mampu membuat Jefry tersadar dari apa yang ia ucapkan.
"Kau, kau tak sakit jika kakakmu mati? Kau tak sakit jika melihatnya pergi? Ya Tuhan, apa yang kau katakan, Jef? dia itu saudaramu. Satu-satunya saudara yang kau punya!" pekik Amira kemudian.
"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang, Ma. Aku tak bisa melepaskan Hana untuknya," jawab Jefry tenang, masih dengan posisi berdiri tanpa berniat masuk ke dalam ruangan Tirta.
Hana berpikir cepat. Apapun akan ia lakukan demi bisa menebus dosanya di masa lalu. Wanita itu sungguh benar-benar tidak bisa jika harus melihat Jefry meninggalkannya. Satu-satunya cara adalah, Hana harus menumbalkan dirinya untuk bisa menukarnya dengan nyawa Tirta yang berharga.
"Aku mohon, Jef. Lakukan yang tebaik untuk Papa Felix, aku mohon. Jika kau menginginkan aku untuk bisa memiliki aku, lakukan yang terbaik untuknya, aku bersedia kau miliki demi kesembuhannya. Aku mencintainya, Jef. Aku mencintainya dan aku ingin ia menjalani hidup dengan baik setelah ini," ujar Hana dengan kesadaran penuh.
Untuk ke sekian kalinya, Jefry dibuat tak berdaya dengan pengakuan Hana yang mencintai Tirta.
Sekuat apapun Jefry memegang kendali dan nyawa Tirta di tangannya, tetap saja itu tak membuat Hana datang dengan penuh cinta padanya.
__ADS_1
**