Unwanted Husband

Unwanted Husband
Episode 33


__ADS_3

Reaksi Tirta


Tirta menatap tajam layar ponselnya. Hatinya terasa panas akibat terbakar api cemburu berkobar dahsyat. Darahnya terasa mendidih, hingga refleks saja tangan kanannya terkepal kuat.


Apa yang dilihatnya, benar-benar cukup membuatnya seolah terhempas.


Kalah? Tentu saja tidak. Tirta tak akan mengakui dirinya kalah. Sejak dulu, Tirta sudah kenyang dengan yang namanya taruhan dan peperangan. Tentu saja Tirta tak akan semudah itu bisa mengalah. Lihat saja, Tirta bahkan bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia mau.


Malam ini, dengan teganya Hana membohongi dirinya. Memangnya, suami mana yang merasa tidak dibohongi, ketika menempati posisi Tirta yang tersakiti? Tentu saja Tirta merasa tersakiti saat itu juga. Melihat Hana yang katanya tak sedang menemui sosok lelaki, nyatanya tengah asyik berdansa dengan lelaki lain.


Mata Tirta memerah dengan kilat murka yang demikian kentara. Hatinya seolah kian dingin hingga membeku tiba-tiba. Jangan tanya bagaimana Johan menghadapi, pria itu bahkan siap untuk menerima kemurkaan sang majikan sebentar lagi.


"Han." Panggil Tirta yang kini tetap terfokus pada layar ponselnya.


"Iya, tuan." Johan menjawab datar.


"Jauhkan Hana dariku, Han. Aku takut aku tak bisa mengendalikan diri dan berakhir dia mati di tanganku. Kau tahu, bukan, sejak dulu aku begitu membenci pengkhianatan?" Tirta tak bisa lagi menahan dirinya.


Hati Tirta terlampau terluka saat ini. Siapa memangnya yang bisa menerima bila di khianati oleh orang terkasih? Tirta lebih dari sekedar murka.


"Baik, tuan. Ada lagi yang bisa saya kerjakan, tuan?" Tanya Johan lagi.


"Ya. Cari tahu identitas lelaki sialan itu, Han. Aku tak ingin melewatkan kesempatan tentang dirinya. Jika dia berani sedikit saja memiliki niat menyeret istriku ke atas ranjang, tak ada pilihan lain selain membungkam keduanya, mengirimkan mereka pada malaikat kematian." Tirta berkata, seraya giginya yang sudah saling gigit.


Rahang Tirta sudah mulai mengeras, napasnya mulai menderu dan matanya kian memerah. Dulu, Tirta begitu tenang saat ia dikhianati oleh Anita. Tetapi kini, saat Hana menunjukkan bahwa ia memiliki celah untuk berkhianat, justru Tirta terlihat sangat murka. Johan takut bila lama-lama, Tirta benar-benar membunuh istrinya. Terlebih, Kara juga sudah tahu bahwa Tirta dulu utang membunuh Anita.


"Iya, tuan." Johan menjawab.

__ADS_1


Tanpa kata, Tirta bangkit dan berlalu begitu saja. Ia Keluar dari ruang kerjanya dan berniat untuk menenangkan diri di kamar utama. Mungkin, mengguyur tubuhnya dengan air dingin, mampu membantu dirinya dalam meredam amarah.


"Pap pa ... pa pa paaapa .... " Panggilan dari Felix, mampu menghentikan langkah Tirta. Lelaki itu menoleh, membiarkan putranya berlari dengan langkah tertatih untuk menghampirinya. Di belakang Felix, pengasuh dengan setia menjaga Felix.


Seketika wajah Tirta yang tadinya merah padam dan penuh amarah, berubah dengan menyorotkan kelembutan. Matanya terpejam seraya memeluk erat Felix yang terus mengoceh tak jelas.


"Sayang, kau ingin gendong? Kenapa belum tidur? Mau papa bacakan dongeng?" Tanya Tirta yang mendapat jawaban tak jelas dari Felix. Putranya yang tampan dengan mata yang sipit menyerupai matanya itu, sama-sama memiliki pandangan yang tajam saat menatap. Sama seperti Tirta.


"Baiklah, papa akan menemanimu tidur. Mari istirahat dan tidak perlu menunggu Mama pulang. Ayo." Tirta berjalan melewati Johan, namun langkahnya terhenti saat Tirta ingat sesuatu.


"Biarkan Hana pulang, Han. Urungkan untuk menjauhkan dia dariku. Biarkan ia ke kamar sepulangnya nanti. Aku akan menemani Felix tidur sementara waktu."


"Baik, tuan." Johan tidak mengira, majikannya akan berubah pikiran. Sekali lagi, Johan menatap lelah pada majikannya.


**


"Hana? Kau, kau baik-baik saja?" Jefry bertanya dan melangkah pelan. Langkahnya hati-hati, dengan sorot mata yang terus bergerak mendekati nyonya besar Raharja itu.


"Cukup, Jef. Jangan kau lanjutkan. Aku tak ingin mendengar apapun lagi darimu. Jangan menggangguku, dan jangan pernah mengusikku." Hana berkata, setelah kesadarannya pulih sepenuhnya.


"Aku tak mengganggu dirimu, Hana. Aku hanya sebatas menjawab tanya darimu." Jef bertanya pelan. "Aku tak berniat mengusik, apalagi mengganggu. Percayalah, ini hanya ungkapan saja." Jefry menambahkan.


"Maaf, Jef. Kita hentikan saja dansanya." Tegas Hana. Semua mata menatap keduanya, bertanya tanpa kata, dan penuh penasaran.


"Hana, kau kenapa? Kau baik-baik saja?" Jane mendekat, mencoba untuk menenangkan Hana yang tampak tak baik-baik saja.


"Aku baik, Jane. Jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja."Hana menjawab dengan tersenyum, memperlihatkan seolah-olah dirinya baik-baik saja.

__ADS_1


Wanita itu lantas menatap sekilas pada Jefry, sebelum akhirnya ia kembali duduk. Membiarkan Jef menghampirinya dengan canggung. Hana tak peduli. Dulu, Jefry pergi tanpa pamit. Dan hari ini, Jefry berniat datang dan merusak segalanya? Hana tak sudi.


"Jangan melewati batasanmu, Jef. Apa yang terjadi di masa lalu, anggap saja sebuah kesalahan. Atau kau bisa menganggap ku sebagai wanita bodoh, yang sudah menyerahkan kesucianku padamu. Jangan memperumit masalah. Aku tak ingin suamiku menghabisi dirimu." Ucap Hana, yang kemudian bangkit dan meraih tasnya. Wanita itu lantas menatap Jane sekilas. "Aku sudah memberikan kontakku padamu, Jane. Hubungi saja aku nanti, kita bisa bertemu besok. Ingat, jangan menyebarkan kontakku tanpa seizinku."


Hana berlalu pergi begitu saja, tanpa menunggu jawaban Jane. Jane sendiri paham betul, siapa dan bagaimana Hana.


"Kau sudah membuat kekacauan, Jefry. Kau juga sudah membuat moodnya buruk." Jane berkata pada Jefry.


Sedang Hana, wanita itu keluar dan segera menghidupkan mesin mobilnya. Ia perlu pulang tanpa harus menunggu acara selesai. Bila Hana melanjutkan Hinga acar usai, Hana takut ia tak bisa mengendalikan diri dan memancing masalah yang tak perlu.


Setibanya di kediaman suaminya, Hana segera memasukkan mobilnya ke dalam garasi, membiarkan pengawal menyapanya. Ia perlu istirahat dan menenangkan pikiran. Harapannya adalah, ia tidak bertemu dengan Tirta saat ini.


Sayangnya, Tirta sudah menunggunya di dalam kamar. Lelaki itu juga sudah mendengar rekaman percakapan dirinya dan lelaki yang dipanggil Jefry olehnya. Beruntung, Hana menghindari Jefry, dan membuat Tirta hanya marah pada Jefry.


"Kau sudah pulang? Bagaimana acaranya? menyenangkan?" Tirta bertanya datar.


"Itu urusanku." Hana menjawab ketus. Seperti biasa, wajah judesnya terpampang nyata bila pada Tirta.


"Oh, kurasa kau sangat bahagia, terlebih kau telah bertemu dengan lelaki masa lalumu." Ungkap Tirta.


Hana terpaku. Wanita itu menoleh pada Tirta, menatap Tirta dengan tatapan takut, juga syok.


"Apa maksudmu?" Hanya bertanya pelan.


"Tak ada. Hanya memastikan bahwa istriku tidak akan bermain lebih jauh lagi dengan lelaki lain. Dengar, Hana. Aku tak suka milikku disentuh oleh pria lain. Melihatmu berdansa dengan lelaki masa lalumu, cukup membuatku berambisi untuk menghabisinya. Sedikit saja kau merespon baik lelaki lain selain aku, maka akan aku pastikan kau akan menyusul Anita menapaki jalan neraka di bawah tanah."


Tirta berlalu, meninggalkan Hana menuju balkon, dengan jantung Hana yang terasa lepas dari rongga dadanya.

__ADS_1


**


__ADS_2