
Tangis pilu Tirta.
Langit malam kali ini terasa gelap, hitam pekat dan menunjukkan jiwa yang kelam tanpa cahaya. Tak ada sinar bintang, tak ada sinar rembulan yang menerangi. Semakin gelap, dan menunjukkan ketidakberdayaan sebuah jiwa yang tertawan di dalamnya.
Tirta Rahardja, lelaki itu tak mampu memejamkan matanya meski tubuhnya merasakan lelah. Dua puluh empat jam yang lalu, hidup Tirta bahagia dengan perubahan Hana yang lebih lembut dan mulai membaik.
Tetapi setelah wanita itu mengangkat tinggi harapan Tirta hingga ke langit, kini wanita itu menjatuhkan perasaan Tirta, menghempaskan dengan cara yang sangat kejam.
Harapan tinggal harapan. Impian tinggal impian. Tak ada mimpi yang tersisa, tak ada harapan yang berbekas. Semua itu kandas akibat tergilas sebuah harapan palsu Hana. Setelah semua yang Hana lakukan, beri tahu Tirta, pada siapa lagi Tirta harus mempercayai wanita?
Semua yang melukainya, adalah seorang wanita. Bahkan dengan wanita terakhir yang harusnya menjadi sandaran hati Tirta, nyatanya Tirta dikhianati juga.
Dengan hati penuh luka dan mata yang berkaca-kaca, Tirta menyapa langit malam dengan tatapan nyalang. Pedihnya luar biasa.
"Mengapa aku harus mencintainya, Tuhan, jika dia sendiri tidak mencintaiku? Dimana keadilan darimu untukku?" gumam Tirta dengan suara lirih. Sesekali, angin menyapa menerpa wajahnya yang mulai pucat.
"Apa karena kedua tanganku ini ternoda penuh darah? Apakah karena aku ini adalah lelaki bajingan dan pembunuh di masa lalu? Bukankah aku sudah berusaha memperbaiki diri? Bukankah aku sudah bertekad untuk membahagiakannya? Aku berusaha untuk berubah demi dirinya. Lantas mengapa ia menghempaskan aku dalam ketidakberdayaan ini?" Tirta kembali bermonolog, seolah ia mencecar tuhan dengan banyak tanya.
"Mengapa kau diam membisu, Tuhan? Mengapa kau tak menjawab semua tanya dalam hatiku? Apakah aku sehina itu? Apakah karena dosaku, lantas itu tak pantas membuatku mendapatkan kebahagiaan?" Tirta menjatuhkan air mata.
Matanya yang berkaca-kaca sejak tadi, kini telah luruh air matanya. Hatinya tersayat pilu, saat membayangkan ia akan berpisah dengan Hana. Ya tuhan, membayangkan Felix tumbuh tanpa kedua orang tua lengkap, membuat Tirta mengingat kisah hidupnya sendiri.
__ADS_1
"Tirta. Bisa kita bicara?" Hana muncul, menautkan jemari-jemarinya karena gugup. Suaranya mencicit lirih.
Sejujurnya, sejak Hana mendapatkan kalimat terakhir Tirta, Hana merasa tak nyaman tanpa sebab. Keringat selalu muncul di keningnya, dan Hana tidak mampu untuk meredam rasa asing itu. Hana sendiri tak tahu, bagaimana memaknai perasaannya itu.
"Baiklah jika kau ingin menyudahi semuanya, Hana. Kau akan mendapatkan apa yang kau mau. Aku akan mengabulkan keinginan mu. Harusnya dari awal aku sadar, aku bukanlah suami yang diinginkan. Mari istirahat. Besok pagi kita akan pulang, segera."
Kalimat terakhir Tirta itu, terus terngiang-ngiang di kepala Hana. Rasa bersalah, namun juga Hana merasa bahwa keinginannya akan segera terpenuhi. Harusnya Hana lega, bukan?
"Jangan bicara apapun lagi, Hana. Aku tak ingin kau meminta perpisahan lagi dariku. Kali ini, aku akan mengabulkannya. Jangan khawatir, aku akan mengunjungi orang tuamu dan tuan Kara untuk meminta persetujuan mereka. Kurasa, aku sudah cukup sabar menghadapi dirimu," ujar Tirta, tanpa menatap Hana.
Tatapan mata pria itu masih terus memandangi langit lepas, gelap tanpa warna. Seperti itulah hidup Tirta sekarang. Penuh kegelapan tanpa batas.
"Hidup tenang dan tanpa terbelenggu bayang-bayang kejahatan diriku di masa lalu? Jangan khawatir, kau akan bebas seperti yang kau mau, sebentar lagi. Itu tak akan lama," Tirta berkata dengan mantap. Pria itu benar-benar tak berniat untuk menatap Hana.
"Dengarkan ku dulu. Aku ingin kau tahu...." Kalimat Hana terhenti, ketika Tirta menyelanya kembali, tanpa memberi kesempatan untuk Hana bicara.
"Aku sudah tahu semuanya. Aku tak cukup bodoh dalam mencerna apa yang kau katakan semenjak kepulanganmu dari Aussie. Apa salahku, Hana? Tidakkah kau membayangkan bagaimana jadi aku?"
Tirta berbalik, menatap Hana dengan tatapan sayu penuh ketidakberdayaan.
"Lima bulan, aku memang menyiksamu lahir batin, secara fisik dan jiwa. Tetapi tidakkah kau cukup membalasku dengan dua tahun kepergianmu? Aku sudah mencintaimu saat itu, berniat berubah demi rumah tangga kita, demi Felix yang masih berada di dalam kandungan kala itu, demi pernikahan kita, aku bersiap untuk memupuk subur cinta untukmu," ujar Tirta. lelaki itu maju dua langkah, mendekati Hana sebatas dua meter dari wanita itu berdiri.
__ADS_1
"Dua tahun tanpamu, bukanlah sesuatu yang mudah untuk takaran seseorang yang sudah jatuh cinta padamu, seperti diriku ini. Setelah kau pulang, kau justru mematahkan semuanya. Jangan khawatir, aku akan menuruti apa yang kau mau, seperti yang kau katakan. Aku mencintai dirimu, sungguh. Itulah alasan mengapa aku enggan untuk membelenggumu dalam pernikahan yang tidak kau inginkan ini," tangis Tirta pecah dengan suara pelan. Nadanya terdengar pilu menyayat hati. Suara Tirta pun mulai sengau.
"Aku sadar diri, hidupku berasal dari masa lalu yang kelam, penuh kegelapan. Tanganku saja penuh dengan noda darah. Siapa memangnya yang bisa menerimaku dalam kondisi seperti ini? Harusnya dari awal aku menemukanmu, aku sudah sadar, bahwa tidak akan ada wanita yang benar-benar tulus menerimaku apa adanya. Tetaplah bahagia setelah ini, Hana. Aku melepasmu, semata untuk melihatmu tersenyum. Aku mencintaimu," tambah Tirta lagi.
Hana tak tahu harus berkata apa. Harusnya, ia bahagia dengan semua yang Tirta katakan, harusnya Hana bahagia dengan keputusan Tirta. Namun sudut hatinya yang lain, meneriakkan keputusasaan tak berujung.
"Aku tak ingin melepasmu, Hana. Ada Felix yang bahagia dan mentalnya perlu kita utamakan. Tapi disisi lain, apa yang kau katakan ada benarnya, aku tak mungkin membelenggumu dalam hubungan ini. Aku, aku mencintaimu, Hana. Sangat mencintaimu. Tetaplah tersenyum. Meski dari jauh, senyumanmu benar-benar membuatku damai," lirih Tirta. Lelaki itu mengusap kasar air matanya, mencoba untuk tersenyum di dalam tangisnya.
"Aku hidup sebatang kara selama ini, Hana. Jika kau tak keberatan, biarkan Felix bersamaku saja. Dia satu-satunya makhluk kecil yang mengalirkan darahku dalam tubuhnya. Kumohon, izinkan aku mengasuh Felix. Kau bisa mengunjunginya sesekali, atau aku yang akan mengantarkan Felix ke rumahmu sesuai jadwal yang kita sepakati. Istirahatlah sekarang, aku akan keluar untuk mengurus sesuatu. Jangan terlalu letih, kita akan pulang besok," Ujar Tirta dan berlalu pergi dari sana.
Harusnya Hana menghentikan langkah suaminya itu. Harusnya Hana mengatakan pada Tirta, bahwa dirinya mencabut kembali ucapannya tentang perceraian. Tetapi sayangnya, Hana terlalu syok saat mendengar ungkapan rasa Tirta yang sesungguhnya, dengan ketulusan.
Hana mematung, terpaku di tempatnya. Matanya hanya bisa melihat Tirta mengenakan jaket kulit berwarna hitam, dan berlalu pergi dari sana, tanpa menoleh Hana sama sekali.
Hana hanya tidak menyadari, bahwa malam ini, adalah malam terakhir dirinya melihat sang suami.
**
Menulis di cerita ini, bikin saya mengalirkan air mata. Entah kenapa, respect banget sama Tirtaš„¹.
Ada yang sama?
__ADS_1