Unwanted Husband

Unwanted Husband
Episode 22


__ADS_3

Tak percaya.


Siang merambah nyaris sore, ketika Kara harus melepas kepergian Hana yang harus ikut suaminya. Tak ada yang meragukan dari Tirta. Bahkan bagi Kara, keberaniannya yang secara gentle mengakui bahwa dialah yang bersalah, membunuh Anita, dan juga sering mengintimidasi Hana, membuat Kara yakin jika Tirta memang sudah berubah.


Kita tak akan pernah tahu, seseorang itu benar-benar telah berubah atau tidak, jika kita tak memberinya kesempatan.


Meski begitu, Kara memerintahkan Alex, adik iparnya, juga adiknya sendiri, Aridha untuk membekali Hana dengan seorang penjaga yang mampu membaur bersama pengawal Tirta. Tanpa sepengetahuan Tirta tentunya.


Hingga Hana dan Tirta sama-sama tak bisa lagi melihat Kara, maka saat itulah, Kara merasa kehilangan. Hana, bahkan sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri. Nara pasti akan murka nanti, saat pulang sekolah, Ia tak mendapati Hana dan Felix.


Di dalam mobil, Hana diam dengan tatapan kosong. Ia tak menyangka bahwa hidupnya akan benar-benar berada pada situasi menyedihkan begini. Harapan Hana, ia ingin sekali bisa bebas, dan bahagia berdua dengan Felix.


Berpisah dengan Tirta, mengapa harus sesulit ini?


"Hana ... bolehkah aku, memangku Felix?" Tanya Tirta penuh harap. Lelaki itu benar-benar takut jika Hana tak memberinya izin menyentuh putra semata wayang mereka.


Hana beralih menatap Tirta sejenak, sebelum ia kembali membuang pandangan ke luar jendela. Wanita itu diam. Bibirnya bungkam dengan beragam pikirannya yang sudah carut Marut. Tentu saja itu membuat Tirta merasa kini Hana dingin, berjarak dan tak tersentuh lagi.


Tanpa kata, Hana memberikan Felix yang masih asik bermain, ke atas pangkuan Tirta. Bila dipikir-pikir, Felix tak bersalah hingga mengharuskannya untuk tak mendapatkan kasih sayang ayahnya. Biar bagaimanapun, Hana bukanlah seorang Ibu yang egois.


Jangan dikira hati Hana tak mendendam hingga saat ini. Bahkan luka yang Tirta berikan, kini masih basah dan menyisakan bekas yang dalam. Sakitnya luar biasa. Perihnya hingga menembus jiwa.


Tetapi bagaimana pun, kesempatan memang harusnya diberikan pada Tirta. Setelah mencerna semua kalimat Kara tadi, tak sepenuhnya salah juga. Ada kebenaran yang terselip di dalamnya. Namun entah mengapa, hati Hana seolah enggan untuk bisa kembali dengan Tirta.

__ADS_1


"Hana, siang tadi kau tak mau makan. Apa kau tak lapar? Kita bisa berhenti untuk membeli makan untukmu. Masih ada waktu satu jam sebelum keberangkatan." Tawar Tirta.


Lelaki sebatang kara tanpa keluarga itu, tak betah bila harus berlama-lama terjebak dalam kebisuan yang panjang. Ada banyak hal yang membuat Tirta harus bisa mencairkan suasana.


"Aku tak lapar. Lagipula apa pedulimu? Kau menjemputku hanya karena Felix. Aku tak yakin jika kau benar-benar mencintaiku." Jawab Hana dingin. Sedikit pun wanita itu enggan menatap suaminya, dan lebih suka memandang jalanan sekitar dari jendela mobil.


"Terserah padamu saja. Aku sudah berusaha baik dan juga menawarkan makan. Jika kau tak mau, itu urusanmu." Tegas Tirta kemudian.


"Memang benar akulah yang bersalah dan memulai perkara ini, Hana. Akan tetapi jangan lupa, bahwa setiap orang, pasti memiliki keinginan untuk berubah."


"Berubah? Berubah untuk apa, Tirta?" Hana menatap Tirta, menatap lekat dengan sorot tajam penuh kebencian. "Simpan saja niat berubah itu, dan kemunafikan itu. Kau, kau berubah karena ada anak, tapi sejatinya, kau tidak mencintaiku. Ketahuilah, Tirta. Aku bahkan tak akan sudi untuk hidup dengan lelaki yang tak aku cintai sama sekali." Ujar Hana kemudian.


Tirta yang sejak tadi mengalah, lama-lama berubah jadi jengkel juga dalam waktu singkat.


"Aku tak menyangka, dibalik wajah cantikmu itu, rupanya kau memiliki mulut yang pedas, Hana. Aku sudah menekan egoku dan merendahkan diriku untuk sebuah maaf, tapi nyatanya, kau tak memiliki .... "


Suasana di dalam mobil kembali sunyi untuk sejenak.


Tirta berusaha mengenyahkan emosinya yang hendak meluap itu. Lelaki itu kemudian memusatkan pikiran pada Felix, dan mengajak Felix untuk berkomunikasi demi menjalin kedekatan.


Benar kata orang. Rupanya darah lebih kental dari air. Bahkan hanya dalam jangka waktu satu hari, Felix telah akrab dengannya. Sejak pagi tadi Tirta dan Felix bertemu, hingga nyaris sore hari begini, keduanya sudah saling akrab. Bahkan tak jarang, Felix tertawa terbahak bersama ayahnya.


Mendapati hal ini, sukses membuat Hana jengkel setengah mati.

__ADS_1


Setelah nyaris tiba di bandara, Tirta meminta sopir untuk membelikan roti selai buah untuk Hana. Hana sendiri terkejut, darimana Tirta mengetahui kesukaan Hana? Roti dengan olesan selai buah asli, adalah kesukaan Hana sejak kecil.


"Makanlah, Hana. Ini adalah kesukaanmu. Jangan menyiksa dirimu setiap saat. Kau harus ingat satu hal, bahwa mendebat dan menantangku, kau butuh asupan makanan dan sumber tenaga yang mumpuni." Ucap Tirta tiba-tiba, dengan mengulurkan dua buah box berisi roti dan selai buah apel dan nangka.


"Kau ini. Mengapa mulutnya itu selalu kau gunakan untuk mancing kemarahan orang?" Tanya Hana dengan raut wajah marah.


"Aku tak memancing kemarahanmu. Apa yang aku katakan, sesuai dengan fakta dan realita." Jawab Tirta dengan suara datar.


Hana semakin dibuat benci dengan lelaki ini. Saat bertutur dengan Kara tadi, Tirta mengiba agar dibantu untuk membujuk Hana. Sayangnya, setelah ia berhasil membawa Hana, yang ada justru Tirta kembali bersikap datar.


'Bila sekarang ia bersikap datar saja, bisa jadi setelah ini kembali dingin, ganas dan mematikan. Awas saja kau, Tirta. Aku akan membuatmu tak betah untuk hidup denganku.'


Bisik Hana dalam hati.


"Makanlah, Hana. Aku tak ingin kau berakhir sakit dan aku harus menerima hukuman dari tuan Kara." Titah Tirta dengan tegas.


Sekilas, Gihana bisa melihat percikan amaran dari Tirta. Sayangnya, Hana tak bisa melihat ketulusan Tirta dalam memberinya perhatian.


"Sumpah demi tuhan, Tirta. Aku sama sekali tak bisa percaya dengan kalimat panjangmu seharian ini. Semuanya palsu dan penuh sandiwara. Jika om Kara yang tak pernah menyaksikan sendiri bagaimana keseharian dirimu, menganggap dirimu bersungguh-sungguh, maaf, Itu tak berlaku untukku." Tegas Hana.


"Terserah kau saja mau menilaiku bagaimana. Aku tak peduli." Tirta kembali fokus menemani Felix bermain. Hari ini, meski Ia melihat dan menyaksikan sendiri kebencian Hana padanya, namun Tirta bersyukur, ia masih diberi celah dan kesempatan untuk memperbaiki diri.


'Aku berjanji padamu, Hana. Aku berjanji untuk bisa berubah dan memberimu kebahagiaan. Terima kasih. Terima kasih sudah melahirkan Felix ku yang tampan ini, untukku. Kau segalanya untukku. Kau dan Felix tentu saja.'

__ADS_1


Batin Tirta mengutarakan kesungguhan.


**


__ADS_2