Unwanted Husband

Unwanted Husband
Episode 40


__ADS_3

Menghindarinya.


"Masalahnya, Jef berkata ia tidak peduli, Hana." Jane tak berdaya. "Aku takut Jef melakukan hal yang nekat."


Hana terkekeh, menganggap bahwa ketakutan Jane terbilang hanya lelucon, dan sebuah candaan belaka.


"Aku tak peduli juga bila Jef tidak peduli, Jane. Dia juga telah meninggalkan aku tanpa perasaan, bukan salahku jika aku tak ingin terjatuh ke lubang yang sama. Katakan saja pada Jef, jangan libatkan diri untuk berurusan dengan Tirta Rahardja. Aku takut dia pulang hanya tinggal nama, Jane. Aku kenal betul siapa dan bagaimana karakter suamiku. Dia membenci pengkhianatan." Hana mengungkapkan pelan.


Perbincangan Hana dan Jane terhenti, ketika pembantu rumah Jane datang membawa dua gelas jus buah dingin beralaskan nampak keramik. Hana diam, menatap Jane penuh makna. Hingga pembantu Jane kembali ke dapur, Hana lantas melanjutkan kalimatnya.


"Aku mohon katakan pada Jefry agar tidak mengacaukan hidupku, Jane. Beri tahu dia bahwa rumah tanggaku dan suamiku sudah mulai membaik," Hana menambahkan.


"Aku tahu, Hana. Aku akan mengatakannya. Hanya saja, Jefry memintaku untuk membujuk mu agar bersedia menemuinya. Dia ingin bertemu satu kali lagi denganmu." Jane membujuk.


"Tidak, Jane. Aku menutup pintu untuk siapa pun yang pernah melukai aku di masa lalu. Yang akan aku jajaki adalah masa depan, jadi aku tak akan terpengaruh walau nanti Jef berusaha mengejarku, atau bersujud di kakiku sekalipun." Hana menyandarkan bahunya, melipat kedua tangan di depan dada, dengan perasaan yang biasa saja.


"Dulu, aku sangat menginginkan Jefry, patah hati berat karena Jef tinggalkan. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, hati ini membeku untuk sosok Jef, Jane. Kau sudah mengenalku sejak dulu." Hana menatap Jane.


"Aku tahu, tapi ya kurasa jika hanya sekedar berbincang, itu bukanlah masalah besar. Temui saja, katakan sendiri pada Jef bahwa kau tak ingin meladeninya lagi. Kau tahu, Hana? Sejak kau berdansa dengan Jef, Jef langsung menerorku, memaksaku untuk memberikan nomor ponselmu. Aku tentu saja menolak." Jane berkata jujur.


"Lalu?" Hana bertanya kembali.


"Aku pikir lebih baik kau temui saja si Jef, sekedar bicara." Jane menjawab santai.


'Apa kau ingin menyaksikan aku dan Jef mati, Jane? Kau tidak tahu suamiku bagaimana. Jiwa iblisnya bisa saja kembali muncul ke permukaan, dan menghabisi aku dan Jef. Tidak. Anakku masih kecil, aku tak mau memancing amarah suamiku. Meski aku dan Tirta tidak seharmonis yang terlihat, tetapi aku tak mau menanggung masalah yang tak penting.'


Batin Hana.


"Akan aku ceritakan satu kejadian, Jane. Kau tahu? Saat aku berdansa dengan Jef, suamiku tahu, melalui orang-orangnya yang membuntuti aku. Jika aku nekat menemui Jefry lagi, bukankah itu artinya aku menjemput kematianku sendiri?" Hana menatap Jane serius.

__ADS_1


"Apa? Kau tidak sedang bercanda?" Jane terkejut. "Bukankah kau datang seorang diri saat itu?"


"Ya. Suamiku adalah lelaki yang posesif, Jane. Dia tidak akan pernah melepaskan aku keluar seorang diri." Hana menjawab pelan.


"Aku tidak menyangka, suamimu sebegitu posesifnya. Tetapi kembali lagi, sepertinya dia mulai mencintaimu." Jane menyahuti.


"Ya. Itulah sebabnya aku enggan menemui Jefry. Aku tak ingin membuat masalah yang tak penting." Hana memalingkan wajah, berusaha mengedarkan pandangan. Takut-takut bila ada seseorang yang mencurigakan.


Kebisuan panjang menyelimuti keduanya. Baik Hana maupun Jane sama-sama bungkam, hanyut dalam pemikiran masing-masing.


Jane adalah sahabat yang begitu menyenangkan. Begitu juga dengan Hana yang tak pernah bermacam-macam. Keduanya bersahabat sudah sejak lama. Tak ada satu hal pun yang mampu membuat mereka berseteru. Keduanya saling mengerti, dan juga saling memahami keadaan masing-masing.


"Jadi bagaimana, Hana? Apakah aku tolak saja permintaan Jefry?" Jane kembali melontarkan tanya.


"Seharusnya memang begitu, Jane. Aku tidak ingin bila nanti kau juga terkena imbasnya, menerima kemarahan suamiku. Percayalah, Suamiku orang yang jahat dan tak bisa menoleransi kesalahan dalam bentuk apapun." Hana mencoba memberi Jane pengertian.


"Baiklah, aku akan mencoba untuk bicara nanti dengannya. Kau tahu, Hana. Nyaris Setiap jam, Jeff menghubungi aku dan meminta tolong, memberondong diriku dengan pertanyaan tentangmu. Aku sampai risih dibuatnya." Keluh Jane.


"Jane, apakah Jef mengatakan tentang masa lalu kami?" Tanya Hana tiba-tiba.


Entah mengapa, kenangan demi kenangan di masa lalu tentang kebersamaan Hana dan Jefry saat itu, kembali terngiang dalam kepala Hana. Ada banyak cerita yang belum bisa Hana lupakan.


"Ya, dia sering bercerita tentang apa yang kau suka, apa yang tidak kau suka, hingga semua yang ada dalam dirimu, termasuk saat dia yang menikmati kegadisanmu, dia mengenangnya. Bahkan dia ingat, tanggal, bulan, hingga jam saat kejadian itu berlangsung." Jane menjawab terang-terangan.


Hana terdiam sebentar di tempatnya, memikirkan banyak hal yang telah menjadi kenangan.


"Hana, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu? Ini bersifat pribadi dan juga, aku perlu memastikan sesuatu tentangmu." Tanya Jane.


"Tanyakan saja, Jane. Ada apa?" Hana balik bertanya.

__ADS_1


"Apakah kau bersama suamimu tidak bahagia?" Jane bertanya hati-hati.


"Ya. Aku tak bahagia, Jane. Aku tak mencintainya sedikitpun, sama sekali tak memiliki perasaan apapun terhadapnya, semenjak ia membunuh mati perasaanku dua tahun lalu."


"Apakah kau tidak memiliki keinginan untuk berpisah darinya?"


"Ingin, Jane. Aku sangat menginginkan perpisahan dengannya. Hanya saja, dia berubah drastis dan bersikap sangat baik padaku. Aku bingung, aku harus bagaimana sekarang." Jawab Hana.


"Jika boleh memilih, aku sangat ingin sekali bisa bebas tanpa terbelenggu pernikahan ini, Jane." Tambah Hana.


"Memangnya jika boleh tahu, apa rencanamu setelah berhasil berpisah dari suamimu itu?" Jane bertanya lirih. "Jangan terlalu menekan batinmu, kau juga berhak bahagia."


"Aku, aku tak ingin apapun, Jane. Hanya ingin tenang dan tak ingin melibatkan lelaki manapun dalam hidupku. Fokusku, hanyalah kebahagiaan Felix dan kesejahteraan hidupnya." Hana menjawab pelan.


Baru saja Jane hendak angkat suara lagi, pembantu datang tergopoh-gopoh menghadap Jane.


"Ada apa, bibi?" Jane bertanya.


"Di luar ada tamu, nona. Namanya tuan Jefry. Beliau ingin bertemunya dengan nona, namun saya sampaikan bahwa anda sedang menerima tamu." Bibi menjawab sopan.


Hana mengerjapkan matanya beberapa kali, hingga kemudian ia berusaha menghindar, dengan pamit pulang.


'Aku tak ingin memberi celah sedikitpun untuk Jefry. Lebih baik aku pulang sebelum Tirta membunuhku.'


Bisik batin Hana.


"Ya sudah jika begitu, Jane. Aku sedang terburu-buru. Lain waktu aku pasti kembali mengunjungimu kemari." Hana pergi, menoleh sekilas pada Jef yang baru masuk dan melewatinya begitu saja.


Hana memang pernah nakal di masa lalu. Namun sekarang, Hana adalah wanita terhormat yang menjaga Marwah dan martabatnya sebagai seorang istri.

__ADS_1


**


__ADS_2