
Tak diinginkan.
Tirta terdiam menatap langit malam yang begitu hitam pekat. Kelamnya malam, mungkin tak sebanding dengan kelamnya kisah masa lalu Tirta bersama seorang wanita. Disinilah kelemahan Tirta. Lelaki itu memiliki Hana sebagai istri, namun sayangnya ia tak menggenggam hati wanita itu.
Andai dulu Tirta terbebas dari belenggu dendam yang tak berkesudahan tehadap Anita, mungkin ia akan menerima perjodohan ini dengan baik. Mungkin juga ia benar-benar akan bahagia bersama Hana saat ini.
Ada banyak noda dan dosa dalam genggaman tangan Tirta. Tirta bahkan lupa, kapan terakhir kali ia meminta pada tuhan, atas kebahagiaan dirinya dan keberkahan hidupnya. Darah Anita yang mengalir pada lengan Tirta, seolah masih terasa licin. Bau anyir darah, seolah kini masih menjadi parfum setia bagi Tirta.
Tirta terbayang akan kesalahan fatalnya itu. Bila boleh sedikit saja Tirta menawar, lelaki itu hanya ingin dirinya hidup normal. Penuh cinta di dalam rumahnya. Nyatanya, penolakan demi penolakan yang Hana layangkan, kebencian demi kebencian yang tersirat pada pelupuk mata istrinya itu, cukup menunjukkan bahwa betapa tak berharganya Tirta. Tirta larut dalam ketakutan yang panjang.
"Tirta." Hana memanggil Tirta lirih. Wanita itu berada tepat di belakang Tirta, dengan jantungnya yang terasa menghentak tak karuan akibat takut.
Hana menoleh ke samping, hanya melirik sekilas, namun tidak menoleh sepenuhnya dan kembali terfokus menatap langit malam dengan pandangan kosong. Wanita itu begitu takut, Tirta mengiranya telah berselingkuh, padahal sedikitpun Hana tak memberikan harapan pada Jefry.
Bagaimana jika seandainya, dirinya itu menerima perlakuan yang sama seperti yang Tirta lakukan pada Anita? Apa jadinya nanti, bila Hana tewas di tangan suaminya sendiri? Lantas, bagaimana dengan nasib Felix kemudian?
"Tidurlah, Hana. Sudah malam. Kau perlu istirahat untuk menjaga Felix besok." Tirta menjawab dengan suara pelan, sedikit gemetar dan sarat akan kesakitan.
__ADS_1
"Aku, aku akan menjelaskan. Dia, dia bukan siapa-siapa, hanya teman sekolah dan tak membawa pasangan, dan ... dan hanya, hanya sekedar mengajakku berdansa. Aku dan dia, tidak melakukan hal yang .... " Hana menghentikan kalimatnya, merasa tak sanggup merangkai kata.
"Kau tak tahu seberapa gilanya aku saat kau tinggalkan, istriku." Tirta mengerang pelan, menahan sakit yang tiba-tiba mendera kepalanya. Lelaki itu ingin menepis sakitnya, namun tak bisa akibat nyerinya terlalu hebat. Perlahan, refleks tangannya menyentuh pelipisnya, berusaha membuang beban pikirannya, namun sulit.
Hana terdiam, membiarkan Tirta untuk bicara. Wanita itu lantas memilih untuk duduk di kursi balkon, membiarkan Tirta menatap langit malam tanpa mencegah.
"Sakit. Hatiku sakit saat kau tinggalkan. Kau juga tak tahu, betapa hancurnya aku kala itu. Meski menjahatimu, memperlakukan dirimu dengan sangat kasar, menganggap dirimu layaknya Anita yang sampah, namun cinta itu rupanya tumbuh dalam waktu singkat. Dari sana aku menyadari, bahwa cinta itu tumbuh secara nyata. Bukan halusinasi. Melihatmu bersama laki-laki lain, berdansa bersama, mengabaikan aku yang ingin ikut denganmu, cukup membuatku terhempas oleh perasaanku." Tirta berkata.
Hana tak tahu harus merespon apa. Nyatanya, ia sama sekali tak bisa mencintai Tirta, memberikan lelaki itu cinta seperti dulu yang coba Hana berikan. Dulu, sempat Hana berniat menaklukkan Tirta. Sayangnya, kejamnya Tirta, membuat hati Hana membeku. Ia tak berniat meneruskan misi meluluhkan hati suaminya.
"Lebih baik kubur saja cintamu itu, Tirta. Sedikitpun aku tak memiliki keinginan untuk balik mencintaimu. Rasanya sudah mati, aku tak bisa mencintai lagi untuk saat ini. Mungkin, memang kita sudah ditakdirkan Tuhan untuk saling berseberangan. Jangan membuat sesuatu semakin sulit. Perasaanku tak bisa kau paksakan lagi. Dulu aku sempat berniat meluluhkan hatimu. Tapi perlakuanmu sendirilah yang membuatku putus asa dan memilih pergi." Hana menimpali.
Tirta refleks menoleh ke belakang, menatap Hana dengan pandangan tak menentu.
"Sedangkal itukah pikiranmu? Sepicik itukah kau menilaiku? Mengapa kau berpikiran begitu, Hana?" Tanya Tirta, yang kemudian ikut duduk di sebelah Hana.
Takut? Hana tak memiliki ketakutan lagi saat ini, Termasuk pada Tirta. Hana sudah beku, hatinya sudah sedingin salju kutub Utara.
__ADS_1
"Tentu saja aku akan berpikiran begitu, Tirta. Kau hanya tidak tahu saja, bahwa sesungguhnya kau dulu mencintai Anita, namun berakhir Anita yang tewas di tanganmu. Kau juga sudah membersamai Anita berapa lama? Lima tahun, bukan? Tapi kau sudah merenggut hak hidupnya. Aku tak tahu apa yang membuatmu demikian gila, Tirta. Menjadi psikopat. Tapi membunuh juga bukanlah hal yang dibenarkan , apapun alasannya." Tukas Hana kemudian.
"Dia berniat membunuhku, Hana. Dia berniat mengambil seluruh hartaku, uangku, asetku, dan juga itu akan dia lakukan bersama lelaki lain? Bisakah kau membayangkan bagaimana perasaanku saat itu? Ya tuhan, jangan pernah menilai sesuatu hanya dari permukaan. Kau harus tahu betul detailnya, kau harus memastikan alasannya. Aku menghabisi Anita, bukan didasari oleh alasan dangkal." Tirta berkata, seraya menatap Hana dengan perasaan sakit.
"Aku tak peduli, Tirta. Itu adalah masa lalumu. Terserah kau saja mau bagaimana. Yang jelas, aku tak ingin kau menyia-nyiakan Felix andai nanti aku harus berakhir di tanganmu. Jangan pernah membicarakan tentang cinta, karena nyatanya, cinta tak akan pernah menyakiti satu sama lain. Antara kita, kita hanyalah saling menyakiti, dan juga tak bisa disebut kau mencintaiku. Sudahlah. Semua sudah terlanjur, kita akhiri saja pernikahan ini." Hana menjawab.
"Apa yang kau katakan, Hana? Felix putraku, mana mungkin aku akan menyia-nyiakannya? Jangan katakan apapun lagi, semakin lama, bicaramu semakin tak karuan. Lebih baik kau istirahat, mungkin saja kau terlalu lelah hingga bicara melantur begini." Tirta menimpali.
Tirta tak habis pikir dengan Hana yang mengira dirinya akan menghabisi Hana. Jangankan untuk menghabisi, bahkan bila melihat wanita itu menangis saja, Tirta tidak mampu.
Mungkinkah Tirta sudah menjadi budak cinta seorang Gihana?
Dulu ia begitu membenci, namun cinta itu kini telah tumbuh seiring berjalannya waktu. Tak banyak yang Tirta harapkan, selain dari keawetan rumah tangganya bersama Felix. Demi Felix, juga demi cintanya.
"Terserah kau saja, Tirta. Yang jelas aku tak bisa bila kau memaksaku untuk hubungan ini tetap utuh. Aku tak mencintaimu, kau juga bukan suami yang aku inginkan." Ucap Hana tiba-tiba.
"Lalu, suami seperti apa yang kau inginkan?" Tanya Tirta. Mungkin dengan begini, Tirta akan bisa menjadi suami seperti yang Hana inginkan.
__ADS_1
"Aku tak ingin memiliki suami selamanya." Hana menjawab sambil berlalu pergi, meninggalkan Tirta yang tenggelam dalam kesakitan, dan terhempas oleh kekecewaan.
**