
Ego setinggi langit
Ibukota sore ini dilanda mendung. Tak ada sinar matahari yang mencerahkan, juga memberi kehangatan. Dunia terasa beku akibat hawa dingin yang tiba-tiba menyerang tanpa permisi. Angin sesekali bertiup kencang, menggoyahkan beberapa dedaunan dan ranting pohon.
Seperti hati Tirta yang dilanda mendung. Semua terasa menyakitkan. Seharian ini, Tirta bahkan tidak berkonsentrasi dalam menyelesaikan pekerjaannya. Tak hanya itu, Tirta juga bahkan kembali merasakan nyeri yang hebat pada tengkuknya.
Stress kembali memicu sakit itu kembali. Memikirkan keinginan istrinya yang seolah tak ada habisnya, cukup membuat Tirta tertampar seketika.
"Maka kau akan melihat aku menderita selamanya di sisimu, Tirta. Semua pilihan ada di tanganmu."
Kalimat Hana pagi tadi, membuat Tirta merasa terbebani. Biasanya, sebesar apa pun masalah yang Tirta hadapi, tak membuatnya bisa kehilangan kendali dirinya. Bahkan selepas menghabisi Anita, Tirta masih bisa bekerja dengan baik. Tetapi ada apa dengan dirinya saat ini?
"Hhhhh .... " Sekali lagi, Tirta kembali menghembuskan nafasnya kasar. Lelaki itu sungguh tak mampu bila terus menawan hidup istrinya demi egonya. Memiliki Hana seutuhnya, tetapi tidak menggenggam hatinya, apa artinya itu semua? Bahkan langit pun seolah mengutuk sikapnya itu.
Melihat Hana menderita dan tenggelam dalam kesakitannya, tentu bukanlah yang Tirta inginkan. Tetapi melepas Hana juga bukan sesuatu yang bagus untuk Felix dan juga hatinya.
Pintu ruang kerja Tirta terbuka kembali dari luar. Lelaki itu melihat Johan dengan pandangan yang sesekali mengabur. Sakitnya sudah mulai mempengaruhi daya penglihatan Tirta. Lelaki itu lantas memijit-mijit tengkuknya, berniat meredakan nyeri meski ia tahu itu tak akan memberi pengaruh apapun.
"Tuan, anda kembali sakit?" Johan datang dan bertanya dengan raut cemas. Dilihatnya Tirta semakin memucat. Seingat Johan, siang tadi Tirta masih terlihat baik-baik saja. "Kita ke rumah sakit sekarang, tuan. Anda sangat pucat sekali."
"Tidak perlu, Han. Aku baik-baik saja." Tirta tetapi menolak. Apa artinya bila ia harus di rumah sakit, bila di rumah Tirta tak mendapatkan situasi baik yang menunjang? Sumbernya adalah beban pikiran rumah tangga Tirta sendiri.
"Tidak, tuan. Anda tidak sedang baik-baik saja. Saya akan hubungi dokter Ida." Kali ini Johan tak terbantahkan. Untuk urusan kesehatan, kerap kali Tirta menyepelekan. Akan jadi apa Tirta nanti bila ia sakit parah?
"Semua karyawan dan petinggi perusahaan membutuhkan anda, tuan. Bila anda mengalami sakit parah, bagaimana? Anda tak boleh sakit. Tuan muda Felix masih kecil dan butuh anda, tuan." Johan menambahkan.
"Tetapi tidak dengan Hana, Han. Dia tetap meminta perpisahan padaku. Tolong aku, Han. Tolong bantu aku untuk membuatnya sadar. Aku menyayanginya, sangat menyayanginya." Suara Tirta semakin melemah. Lelaki itu menatap Johan penuh luka.
"Jangan pikirkan apa pun, tuan. Mari kita ke rumah sakit, sekarang," ajak Johan. Lelaki itu menghampiri Tirta, berusaha meraih Tirta dan berniat membantu Tirta. Namun tanpa Johan duga, sesuatu terjadi pada Tirta saat itu juga.
Tirta jatuh terjerembab di lantai. Papa Felix itu pingsan, kehilangan kesadaran akibat terlalu tertekan perasaan.
__ADS_1
**
Senja terlihat menonjol di ufuk barat. Angin berhembus perlahan, membuat rambut Hana beterbangan ringan penuh pesona. Wajah cantik wanita itu, bak lukisan Dewi Yunani dengan nilai yang tinggi. Pesonanya tak main-main.
Betapa wajah cantik itu penuh dengan kenangan luka. Bahkan di malam pertama, Gihana mendapatkan sesuatu yang tak ia inginkan. Kehadiran Felix tanpa diduga, menjadi satu-satunya penyemangat Hana saat semangatnya mulai menipis terkikis oleh keadaan.
Cinta? Apa definisi cinta bagi Gihana? Bahkan putri Daniel itu tidak tahu apa arti cinta yang sesungguhnya. Kehadiran suami yang harusnya mampu menumbuhkan bunga cinta, nyatanya membekukan hatinya. Sebeku salju kutub Utara.
Ponsel Hana bergetar, nama Lila terpampang disana. Segera saja wanita itu menerima panggilan.
"Ada apa, Lila?" tanya Hana kemudian.
"Tuan muda menangis kencang sejak baru saja, nyonya. Padahal tidak ada sesuatu yang menyakitinya. Tidak jatuh dan tidak terluka, tiba-tiba menangis begitu saja."
Suara Lila terdengar panik di seberang sana.
"Tunggu aku, Lila. Aku turun sekarang." Hana menutup panggilan telepon, dan segera bergegas menuju ke lantai dasar.
Alih-alih tenang, Felix justru semakin histeris. Anak itu kian kencang menangis, dengan terus memanggil papa tanpa henti. Hana tak mengerti, sebelumnya, Felix tak pernah seperti ini.
"Kau mau papa? Mama akan menghubungi papa jika kau mau bertemu papa. Tapi, bagaimana jika papa masih bekerja?" Hana mencoba terus menenangkan.
Dari arah pintu belakang, Haikal si kepala pelayan muncul dengan wajah menegang. Pria itu menghampiri Felix dan menatap Hana sebentar.
"Ada apa, nyonya? Kenapa tuan muda menangis?" Haikal bertanya.
"Dia memanggil papa sejak tadi, Haikal. Aku bahkan tak memiliki nomor ponsel suamiku. Bisakah kau membantu menghubunginya? Mungkin bicara lewat telepon akan membantu melegakan hatinya." Pinta Hana pelan.
'Anda istrinya, anda juga sudah melahirkan darah daging tuan, nyonya. Tetapi anda bahkan tidak memiliki kontak suami anda, istri macam apa, anda?'
Haikal membatin.
__ADS_1
"Baiklah, nyonya. Saya akan coba menghubungi Johan." Haikal berkata.
Sejak tadi, Haikal dilanda panik, karena Johan memberinya kabar bahwa tuan mereka sedang pingsan. Hanya saja, Johan memberinya kabar bahwa berita ini jangan sampai terdengar oleh orang-orang rumah. lelaki itu lantas menjauh dari Hana untuk menelepon Johan.
'Ya, Haikal. Ada apa? Tuan masih belum sadarkan diri.' Johan menyapa untuk pertama kali.
"Tuan besar apa sudah sadar? Tuan muda menangis histeris tanpa sebab dan selalu memanggil papa. Aku harus bagaimana?" Haikal bertanya.
'Tuan masih belum sadarkan diri. Malam ini akan dilakukan penyuntikan steroid.'
Johan menjawab.
"Apa parah, Han? Astaga. Lalu bagaimana?" Tanya Haikal.
'Doakan saja untuk kesembuhannya, Kal. Katakan saja pada nyonya bahwa Tuan besar akan pulang malam. Mungkin nanti. Dan jangan lupa katakan bahwa saat ini masih ada pertemuan dengan klien.'
"Baiklah, Han."
Panggilan terputus sepihak oleh Haikal. Lelaki itu lantas menghampiri Hana.
"Tuan masih bicara dengan kliennya, Nyonya. Mungkin pulangnya malam."
"Ya tuhan. Lihat Haikal, Felix terus memanggil papanya. Padahal pagi tadi juga Tirta sudah pamit padanya. Bagaimana ini, Kal?" Hana terus menimang Felix sambil menepuk-nepuk punggungnya untuk menenangkan.
"Tuan muda, bagaimana kalau kita jalan-jalan keliling taman bersama saya? Ayo." Haikal berkata sambil menjulurkan tangannya. Tetapi Felix memalingkan muka dan terus menangis tanpa henti. Hana sampai kuwalahan menghadapinya.
"Felix, tenangkan dirimu, sayang." Kata Hana. Wanita itu lantas menatap Haikal, "Kal, antar aku ke kantor Tirta. Mungkin dengan begitu Felix bisa tenang."
"Tidak bisa, nyonya. Tuan sedang ada pertemuan di luar." Haikal menjawab tenang.
Harusnya dari sini dirinya sadar, bahwa ia dan Felix sangat butuh Tirta. Toh Tirta sudah berubah. Hanya saja, hati Hana terlanjur beku dan ia keras kepala. Ia tetap mempertahankan egonya yang setinggi langit.
__ADS_1
**