Unwanted Husband

Unwanted Husband
Episode 60


__ADS_3

"Tak masalah, om. Nikahkan aku dengan Tirta. Masalah akan selesai!" Seru Hana di depan Tirta dan Kara.


Dengan tidak tahu malunya, Hana merendahkan dirinya, berlaku layaknya wanita murahan tanpa harga diri, hanya untuk bis amenilah dengan Tirta. Sulit dipercaya, Tirta mengetatkan gerahamnya, merasa malu sekaligus geram pada mantan istrinya itu.


"Kau bisa diam, tidak?" tanya Tirta dengan nada penekanan. Bahkan rahang lelaki itu mengeras. Di depan Kara, ia seolah kehilangan kharismanya. Ya tuhan, mengerikan. Hana benar-benar membuat Tirta marah setengah mati.


"Tidak bisa. Kau yang harus diam. Salahmu sendiri, kau lebih memilih untuk membahas Jefry lebih dulu!" Ejek Hana, merasa berada di atas angin.


Di saat Tirta membuang muka, Hana menatap Kara dan berkedip tiga kali dengan cepat, seolah memberi kode bahwa Hana memang serius ingin kembali menikah dengan mantan suaminya itu. Kara yang paham, hanya mengangguk dan mengacungkan jempolnya pada Hana, tampa disadari oleh Tirta. Konspirasi yang sempurna. Persekongkolan yang bagus.


"Pergilah, Hana. Jangan memulai perkara yang tak nyaman. Disini ada Tuan Kara," ungkap Tirta pelan.


"Memangnya mengapa? Oma Dewi adalah adiknya Ibu om Kara. Tak ada salahnya bicara jujur," jawab Hana semakin gencar mencari gara-gara dengan Tirta. Wanita itu sengaja memainkan emosi Tirta, memancing perdebatan agar Kara memiliki alasan untuk menikahkan mereka kembali.


Ide yang cemerlang, Hana. Lanjutkan.


Batin Kara.


"Maaf, Tuan. Hana menang aneh semenjak berpisah dariku. Aku tak tahu sebabnya, mungkin Hana tengah ...." ucap Tirta tak dilanjutkan, ketika Hana menyela cepat.


"Tengah mendadak menjadi budak cintanya. Aku lelah bila harus berpura-pura di depan banyak orang, om Kara. Kurasa, Tirta memang membutuhkan aku, demikian pula aku yang juga membutuhkannya. Kami saling memiliki ketergantungan. Jadi tak ada salahnya, kan, jika aku dan dia kembali bersama?" tanya Hana, menatap Kara yang sudah mati-matian menahan tawa.


Astaga, bahkan kedua orang ini sudah dewasa, mengapa tingkahnya seperti anak kecil saja?

__ADS_1


Batin Kara.


"Diamlah, Hana. Kau ini seperti bayi saja!" seru Tirta sambil menatap tajam Gihana. Ia tak menyadari, dirinya juga tak jauh berbeda dengan anak kecil.


"Stop!" Kara tiba-tiba berkata dengan suara datar. Lelaki itu lantas merogoh ponsel yang ada di dalam kantong celananya, menghubungi seseorang yang entah siapa.


Suasana mendadak hening seketika. Baik Hana maupun Tirta sama-sama bungkam. Hana yang bersorak kegirangan, serta Tirta yang mendadak cemas.


"Daniel, persiapkan pernikahan sederhana untuk putrimu dan Tirta. Semua biaya aku yang akan menanggungnya. Sepertinya, anakmu dan mantan suaminya ini sudah tidak tahan ingin kembali. Umumkan pada keluarga besar, bahwa Hana dan Tirta akan kembali menikah," ungkap Tirta pada seseorang di seberang sana.


Hati Hana bersorak penuh suka cita. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, Termasuk terima kasih yang mungkin tak akan cukup bila sekedar ia katakan saja.


Lain Hana lain Tirta. Lelaki itu tercengang.


"Maaf, Tuan. Tetapi aku tak mau hidupku ke depan, harus memikul sesal karena mengulang kesalahan pada satu wanita. Aku takut aku tak bisa membahagiakan Hana," ucap Tirta. Lelaki itu mulai gemetar.


"Dan lagi aku berasal dari keluarga yang sakit bertahun-tahun lamanya. Lebih baik, Hana mencari lelaki yang .... "


"Tetapi aku hanya mencintaimu, Tirta. Jangan banyak bicara. Lebih baik kau diam dan kita akan kembali menikah," timpal Hana, karena merasa bahwa Tirta telah keterlaluan kali ini.


"Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku sudah bersalah di masa lalu. Kau juga. Maka, mari perbaiki diri dan kita sama-sama belajar membina rumah tangga."


Baru saja Tirta hendak membuka suara untuk kembali bicara, pintu diketuk dari luar, menampakkan sosok Amira diambang pintu.

__ADS_1


Mata wanita setengah tua itu menampakkan keterkejutan, saat mendapati sosok Azkara Praja Bekti duduk disana. Siapa yang tidak mengenal Kara? Lelaki itu begitu terkenal seantero jagat raya dalam dunia bisnis.


Seperti biasa, tatapan tak suka Tirta, Amira dapati ketika pertama kali dirinya muncul dalam ruangan ini.


"Tuan, Kara?" sapa Amira tenang.


"Ya. Anda kemari, nyonya? Aku datang untuk menjenguk Mantan suami keponakanku," ungkap Kara kemudian.


"Terima kasih. Aku, aku Ibu kandung Tirta," ungkap Amira jujur. Wanita itu tak ingin lagi dipandang rendah oleh Tirta, akibat tidak mengakui Tirta sebagai anak di masa lalu. Walaupun nanti pada akhirnya Tirta tak akan suka, namun lama-kelamaan semua orang pasti tahu. Sebisa mungkin Amira ingin membuat Tirta luluh.


Sayangnya, Tirta justru murka.


"Ibu biadab yang telah meninggal anak dan suami demi lelaki lain. Pantaskah kau disebut sebagai ibu kandungku?" Kalimat tajam Tirta di depan Kara, tak urung membuat Amira berkecil hati. Bisa dipastikan, reputasi sebagai wanita kuat dan tangguh di depan Kara, akan hancur.


Kara diam tak bereaksi, menyadari reaksi alami Tirta yang membenci ibunya setengah mati. Baik Hana dan juga lelaki itu saling tatap, saling menyampaikan keprihatian hubungan ibu dan anak yang telah rusak bertahun-tahun lamanya.


"Ya. Aku memang bersalah, Tirta," Amira berjalan mendekat, tak membiarkan Tirta melanjutkan kalimatnya, "benci aku sesuka hatimu, jika itu sanggup menebus dosaku terhadapmu," ungkap Amira kemudian.


"Berhenti di tempatmu. Sudah aku katakan, aku tak ingin kau datang lagi dan menampakkan wajahmu di depanku!" seru Tirta, seolah melupakan kehadiran Kara di dalam ruangan itu.


"Kendalikan emosimu, Tirta. Tak baik memupuk emosi terlalu subur pada seseorang. Mari pulang bersamaku. Aku sendiri yang akan mengantarmu pulang," ucap Kara kemudian. Lelaki itu menatap Hana, mengisyaratkan bahwa ia menyuruh Hana membawa pulang Tirta saat itu juga.


Tirta sadar, dan segera membuang napas pelan, tak berniat menoleh sama sekali pada wanita yang dulu telah melahirkannya itu. Tatapan merana penuh luka, harusnya Amira sanggup menahannya. Namun kali ini, hatinya terasa lebih perih dari sebelum-sebelumnya.

__ADS_1


"Hana, bawa keluar suamimu. Tunggu aku di luar. Aku ingin bicara secara pribadi dengan Nyonya Manovti," ujar Kara pada Hana.


**


__ADS_2