Unwanted Husband

Unwanted Husband
Episode 62


__ADS_3

Perubahan Hana.


Di sebuah ruang keluarga yang cukup luas, dengan tenang Daniel mengawasi dua orang di hadapannya. Hana dan Tirta, berkali-kali kerumitan cinta mereka membuat Daniel seringkali pusing hingga sekarang. Jika boleh Daniel dan Dita meminta, keduanya lebih suka mengurus dua puluh lima anak seperti Felix tingkahnya, dibandingkan dengan mengurus Hana dan Tirta.


Bukan Daniel tak suka bila putrinya kembali menikah dengan mantan suaminya, tetapi ada hal lain yang berhasil membuat Daniel berpikir seribu kali untuk menikahkan mereka kembali.


"Hana, kau yakin ingin kembali membangun rumah tangga bersama Papa Felix?" tanya Daniel sekali lagi untuk memastikan.


Begitu juga dengan Dita yang menganga tak percaya, melihat antusiasme putri semata wayangnya itu. Belakangan, memang Dita seringkali pergi untuk menunggui Tirta. Sedari Tirta kritis, hingga lelaki itu bisa kembali bisa sehat seperti sekarang. Meski wajah Tirta tampak pucat, namun lelaki itu masuk bisa berdiri kokoh.


"Aku yakin, Pa. Papa tahu sendiri bahwa aku sangat mencintainya, menyesal telah berpisah darinya, merutuki kebodohanku dan keegoisanku," Hana mengakui, "Papa dan Mama tahu sendiri, bagaimana aku menjalani hari tanpa Tirta belakangan ini."


Tirta hanya diam, tak begitu mendengarkan apa yang Hana katakan. Apapun itu, yang jelas Tirta tidak ingin menanggapi kelakuan Hana. Bukan karena Tirta tak suka pada Hana, melainkan lelaki itu ingin bermain-main sedikit, menguji kesungguhan Hana dan memastikan wanita itu tak dusta. Agaknya, rencana Tirta akan gagal total.


"Papa tahu. Tetapi menikah kali ini, Papa tak ingin di jadikan ajang main-main, Hana, Tirta. Lalu, bagaimana denganmu, Tirta? Kau yakin dan sudah bulat keputusan, bahwa kau ingin menikah dengan Hana?" Tanya Daniel pada Tirta.


Beruntung Tirta segera menatap Daniel, dan mengerti maksud mantan sekaligus calon mertua itu. Rumit sekali.

__ADS_1


"Aku, jujur saja aku belum siap dan inginnya fokus untuk kesembuhan. Tetapi Hana datang sendiri dan memaksa untuk aku kembali menikahinya," ujar Tirta dengan jujur.


"Fokus kesembuhanmu akan semakin cepat prosesnya, jika ada yang mendampingi dirimu, Tirta. Maka, aku akan mendampingi dirimu hingga sembuh," timpal Hana.


Baik Daniel maupun Dita saling tatap, tak mengerti sejak kapan putri mereka mendadak suka menyahut begini. Astaga, pantas saja Kara sempat mengeluh tadi ketika mengantar Hana dan Tirta.


"Hana, astaga. Mengapa kau jadi begini?" Tirta bergumam frustasi.


"Apa aku salah, bila aku memiliki semangat akibat cinta yang menggebu ini, Tirta? Aku Sangat mencintaimu, dan kau juga mencintaiku. Apa lagi masalahnya? Yang penting kita sama-sama cinta, masalah selesai," sahut Hana dengan entengnya. Entah harus bagaimana lagi Daniel dan Tirta harus bicara dengan Hana.


"Tetapi menikah tidak semudah itu, Hana. Kita perlu memikirkan matang-matang semuanya, dan perlu mempersiapkan mental dengan baik. Kita memang sama-sama dewasa, tetapi bukan berarti kita bisa seenaknya mengambil keputusan. Aku tak ingin mengalami kegagalan lagi dalam berumah tangga," ungkap Tirta.


"Tidak. Aku tetap tidak mau. Kau, menikahlah sendiri, aku ingin pulang!" seru Tirta sambil menatap tajam Hana.


"Tidak boleh. Kita akan di menikah besok sore. Kau, kau harus menginap disini di kamar tamu. Kau juga tidak boleh keluar tanpa seizinku!" seru Hana membalas Tirta.


Tirta membuka matanya lebar-lebar sambil berkata, "bisa-bisanya kau mengaturku. Ingat Hana, kau tak bisa mengambil keputusan sepihak, karena yang akan menjalaninya adalah kita berdua, bukan hanya kau saja," ungkap Tirta tegas.

__ADS_1


"Terserah padamu saja. Tetapi keputusan ada di tanganku dan aku yang berkuasa. Teruslah menolak dan kau akan merasakan bangkrut tanpa menunggu lama. Jika aku yang meminta pada om Kara, mustahil tidak dikabulkan. Kau akan hidup menjadi gelandangan, menjadi pengemis dan mendirikan rumah Kardus di jalanan, karena usahamu bangkrut dan diambil alih oleh om Kara. Katakan saja, kau menikah denganku, atau kau akan jatuh miskin tanpa kredit, alias miskin secara tunai," kata Hana panjang lebar.


"Tidak bisa begitu, Hana. Mana bisa urusan bisnis dikaitkan dengan urusan di luar ranahnya? Jangan membuatku pusing," sahut Tirta kemudian.


"Yang membuat pusing adalah dirimu sendiri, Tirta. Ingat satu hal, kau jangan berontak dan pasrah saja, agar kau tidak menemukan sial," balas Hana.


Daniel dan Dita tercengang di tempatnya. Sejak kapan Hana mendadak jadi cerewet dan menjadi pribadi yang pemaksa alias suka mengatur? Perasaan mereka sebagai orang tua, dulu Hana tak separah ini.


"Aku angkat tangan sekarang, Papa Daniel, Mama Dita. Sepertinya aku kehilangan aura garangku bila harus meladeni debat dengan putri kalian," erang Tirta frustasi.


"Baiklah, baiklah. Sekarang kau perlu istirahat, nak. Ayo aku antar ke kamar tamu untuk sementara," ujar Dita kemudian, "menginaplah. Pelayan akan menyiapkan segala kebutuhanmu."


"Baiklah, Ma. Tolong selamatkan aku dari Hana sekarang. Kepalaku terasa pusing kembali," lirih Tirta, semakin pening akan perubahan mantan istrinya itu. Tirta khawatir, dirinya akan kembali merasakan sakit dan berakhir penyakitnya kambuh lagi.


"Biar aku yang antar. Kau sadarkan saja Hana disini. Sepertinya, berpisah dengan Tirta memiliki efek dahsyat semengerikan ini bagi Hana," Daniel bangkit, tanpa meminta persetujuan istrinya. Sungguh, Baru kali ini Daniel dibuat pening oleh putrinya itu.


Tirta terpana akan kalimat Daniel. Sepertinya memang benar, Hana berubah gila semenjak berpisah dengan dirinya.

__ADS_1


**


Pusing gara-gara Hana😣


__ADS_2