
Sorot mata terluka.
"Cari tahu tentang Tirta Rahardja. Aku butuh semua informasi lelaki itu, dan bawa segera padaku segala bentuk identitas dan profil Tirta Rahardja," ucap seorang wanita yang kini tengah duduk di ruang kerjanya. Wanita itu duduk dengan anggun, layaknya ratu yang menguasai segalanya.
Wanita itu adalah wanita yang cantik dengan mata yang sipit dan bibir sensual. Ia tengah berhadapan dengan salah satu anak buahnya yang ia percaya, untuk menuntaskan banyak masalah.
Amira Manovti.
Sosok wanita pebisnis yang melanjutkan usaha mendiang suaminya sejak tiga tahun lalu. Meski dirinya bukan berasal dari kalangan bisnis, namun Amira tidak pernah berhenti belajar dan mengasah kemampuannya di bidang bisnis.
Nama Tirta Rahardja, sebuah nama yang berhasil membuat jantung Amira tersentak dari dalam. rasanya hati Amira hendak meloncat dari rongga dadanya, ketika Jefry menyebut nama Tirta Rahardja.
Ada banyak harapan timbul.
Ada banyak tujuan yang tumbuh.
Ada banyak keinginan yang muncul.
Semua itu bangkit di saat yang bersamaan, membuat hati Amira berdebar tak karuan. Semoga saja, Tirta Rahardja bukanlah Tirta Rahardja nya di masa lalu.
"Baik, nyonya. Ada lagi yang ingin nyonya sampaikan?" Tanya seorang lelaki yang kini tengah duduk di depan meja Amira.
"Ada, William. Cari tahu juga tentang riwayat istrinya, Gihana Rahardja. Beri tahu aku secepatnya, tentang identitas mereka berdua. Cari tahu darimana Tirta Rahardja berasal, dan siapa nama ayah dan juga ibunya," Perintah Amira, pada lelaki yang dipanggil William itu.
William mengangguk, menatap nyonya besarnya itu, dengan tatapan datar.
"Apakah mereka membuat masalah denganmu, nyonya?" Tanya Will kemudian.
"Tidak. Tidak ada masalah apapun dengan lelaki itu. Aku hanya ingin memastikan sesuatu," Amira menjawab tenang. Namun di dalam hatinya, Amira begitu sangat khawatir akan satu hal.
"Kerjakan dengan cepat, Will. Segera beritahu aku, begitu semua informasi tentang lelaki itu dan istrinya sudah kau dapatkan keseluruhan," Titah Amira lagi. Wanita itu tampak sekali jika tengah menyimpan sesuatu yang entah itu apa.
"Baik, nyonya. Segera saya laksanakan," William bangkit dan berlalu pergi, meninggalkan Amira yang masih meyakinkan hatinya.
__ADS_1
**
Pulau Dewata, adalah sebuah tempat wisata nomor satu yang terkenal akan keindahannya. Sebuah pulau dengan penduduk yang mayoritas beragama Hindu, dengan adat budaya yang begitu kental.
Tirta memutuskan membawa Hana ke pulau itu, karena untuk menikmati quality time yang tidak pernah mereka dapatkan. Sejujurnya saja, Tirta sangat bahagia dengan perubahan Hana belakangan ini.
"Kau mau istirahat, atau segera membersihkan diri?" tanya Tirta pada istrinya itu.
"Aku akan mandi," jawab Hana datar. Tirta hanya mengangguk, menghampiri istrinya itu dan mengecup pelipis Hana sekilas.
Tentu saja hal ini cukup membuat Hana terkejut. Ia tidak siap dengan tindakan suaminya yang tiba-tiba ini. Sejujurnya, Hana enggan menerima Tirta. Itu murni dari hatinya.
"Kenapa kau sedikit menghindari diriku, Hana?" Tirta menatap Hana, menatap wanita itu dengan penuh perasaan.
"Semenjak kau pulang, kau tak pernah bersedia untuk aku sentuh. Apakah aku semenjijikkan itu di matamu? Kumohon, Hana. Jangan perlakukan aku seperti itu. Cukup dua tahun aku tersiksa karenamu. Lima bulan aku melukaimu, tapi dua tahun kau membalasnya. Kurasa itu sudah cukup," tandas Tirta.
"Sudahlah, jangan bicara yang tidak-tidak. Aku lelah dan aku ingin mandi," Tandas Hana kemudian. Istri Tirta itu kemudian berlalu begitu saja ke kamar mandi.
Di tempatnya, Tirta menatap Hana dengan perasaan tak karuan. Lelaki itu lantas menetralkan napasnya, meyakinkan diri bahwa saat ini adalah saat liburan, dan tak seharusnya Tirta memiliki pemikiran yang tidak-tidak.
"Kita makan malam di mana, Tirta?" Hana menatap bayangan suaminya dari cermin, sebelum kembali fokus pada bayangan wajahnya sendiri.
"Kau mau makan apa? Aku terserah padamu saja. Jika kau mau, kita bisa makan malam di tepi pantai," jawab Tirta.
"Baiklah, ide bagus," ungkap Hana kemudian.
Hingga mereka menikmati makan malam, keduanya tidak banyak bicara. Tirta tenggelam dengan banyak tanya dalam pikirannya, dan juga Hana yang merasa semakin cemas karena takut Tirta menyentuhnya.
"Hana, boleh aku bicara sesuatu?" tanya Tirta pelan, disela-sela makan malam mereka.
"Boleh. Katakan saja." Hana menjawab datar. Sesekali, jemari lentiknya menyingkirkan surai rambutnya ke belakang telinga.
"Kenapa kau tiba-tiba berubah baik sejak semalam?" Tanya Tirta kemudian.
__ADS_1
"Kau tidak suka aku baik?" tanya Hana balik.
"Suka. Sangat suka. Hanya saja, aku rasa itu aneh, mengingat saat awal kita bertemu setelah perpisahan dua tahun lamanya, itu terlihat sangat kontras. Apa kau sudah benar-benar memaafkan aku?" Tanya Tirta lagi.
"Entahlah, Tirta. Hanya saja aku merasa terlalu lelah saat ini. Sangat lelah sekali. Untuk kembali marah padaku, untuk menentangmu, aku sadar bahwa aku tidak mampu. Jadi aku datar-datar saja, tak ingin membuang waktu dan tenaga untuk berdebat denganmu." jawab Hana kemudian.
"Tidakkah kau ingin memperbaiki hubungan kita? Aku sudah katakan ini berulang kali, mari kita menjalin dan membangun hubungan lebih baik, demi anak kita, demi kebahagiaan kita di masa depan," Tirta berkata dengan suara lembut.
Hana menyuapkan makanan terakhirnya, meneguk air putih dengan anggun. Tiupan angin sesekali menerpa wajahnya, membuat bulu mata lentik Hana bergetar samar, dan menciptakan bayangan yang indah di bawah mata.
"Aku tak tahu mengapa, Tirta. Jika aku boleh jujur, aku memutuskan untuk berpisah denganmu. Tak ada lagi yang bisa diselamatkan, termasuk hatiku yang tidak menginginkan kau lagi. Kau tahu, berdampingan dengan seseorang yang tidak ada cinta yang menyertai, bahkan neraka pun terasa lebih indah," Hana berkata lirih.
Bak dihujam bambu runcing tepat di dada Tirta, Tirta merasakan dadanya luar biasa lebur, seiring dengan harapan itu yang ia hempaskan saja.
"Lalu?" Tirta bertanya pelan. Suaranya bahkan nyaris tak terdengar di telinga Hana.
"Aku tak punya pilihan lain, bukan? Untuk melawan mu, menentang kehendak mu, aku tak memiliki kekuatan apapun. Jika kau ingin aku tetap bertahan di sisimu, aku akan bertahan, dan aku akan menikmati lukaku seorang diri. Kau, kau tidak perlu mempedulikan aku. Jika kau ingin aku melayani dirimu, aku akan layani. Hanya saja, jangan meminta lebih dengan aku harus melayani dirimu sepenuh hati," Jawab Hana.
Ini adalah luka paling dahsyat yang pernah Tirta punya. "Jadi, kebaikanmu hanyalah kepalsuan?"
"Anggap saja begitu. Yang terpenting, aku tetap bersamamu, bukan? Kebahagiaan dan kesenanganmu, tak lebih dari sekedar ilusi belaka," Hana menatap sendu Tirta.
Di tempatnya Tirta mengetatkan rahangnya. Giginya bahkan saling gigit dan matanya berkilat penuh amarah. Hanya saja, Tirta berusaha meredamnya, dan mencoba untuk tetap tenang.
Perlahan namun pasti, kepala Tirta terasa nyeri kembali. Entah mengapa, ini terdengar sangat menyakitkan bagi hatinya. Membersamai seorang istri, namun istri tidak membersamai dirinya dengan sepenuh hati. Bagaimana harusnya Tirta mengambil sikap?
"Baiklah jika kau ingin menyudahi semuanya, Hana. Kau akan mendapatkan apa yang kau mau. Aku akan mengabulkan keinginan mu. Harusnya dari awal aku sadar, aku bukanlah suami yang diinginkan," Tirta bangkit dan melangkah empat langkah, sebelum ia berbalik lagi untuk menatap Hana.
"Mari istirahat. Besok pagi kita akan pulang, segera."
Tirta berlalu pergi, dengan sorot mata terluka dan Hana melihatnya dengan jelas. Tidak tahu mengapa, hati Hana berdesir tak nyaman. Bukankah seharusnya Hana bahagia dengan pernyataan Tirta? Lalu, mengapa nyeri itu mendera dadanya?
**
__ADS_1
Adakah yang bisa nebak, Tirta itu siapanya Amira?