
"Siapa? Amira Manovti?" Tirta menatap Haikal penuh tanya, nama yang selama ini telah ia kubur dalam dan tak ingin ia sebut lagi sepanjang hidupnya. "Wanita separuh baya dengan tubuh mungil?"
"Iya, Tuan. Beliau datang bersama salah seorang bawahannya, William namanya dan ia sedang menunggu di mobil. Nyonya Amira menunggu anda di ruang tamu," Haikal menatap Tirta yang terkejut.
"Namun jika anda tidak ingin menemuinya, saya akan memberitahu Johan agar menyampaikan pada tamu, jika anda sedang tidak ingin menemui tamu."
Tirta mengangkat telapak tangannya yang terbuka , mengisyaratkan Haikal untuk diam. Lelaki itu dengan tenangnya, memikirkan banyak kemungkinan yang terjadi, hingga membuat wanita yang busuk di matanya itu kembali menemuinya.
Hening melanda, saat Tirta tengah berpikir, bagaimana cara dirinya menyambut Amira.
"Aku akan menemuinya, antar aku kesana!" seru Tirta yang kini tatapannya kian menggelap. Haikal curiga, sepertinya majikannya dan wanita yang bernama Amira itu, memiliki keterkaitan hubungan di masa lalu.
"Baik, Tuan," Haikal menjawab, sambil menghampiri Tirta dan mendorong kursi rodanya. Lelaki itu perlu membawa Tirta, masuk ke dalam, menghampiri sang tamu Nyonya besar dari marga Manovti.
Sayup-sayup Tirta mendengar, Amira menyebut namanya. Raut wajah Tirta masih tampak tenang, meski matanya berpendar penuh dengan amarah.
"Tuan," Johan berdiri dan menunduk dalam pada Tirta, memberi hormat pada lelaki yang menjadi majikan sekaligus panutannya itu.
"Ada tamu, Han? Siapa dia?" Tirta bertanya, dengan memulai sandiwaranya. Lelaki itu benar-benar ingin terlihat seolah lupa pada Amira. Senyum Tirta masih semenawan dulu, meski wajahnya masih pucat pasi.
"Nyonya Amira, Tuan. Beliau ingin bertemu secara pribadi dengan anda," jawab Johan.
Amira terhenyak ditempatnya, merasa bahwa dirinya tidak memiliki kepantasan untuk mendapatkan pengakuan sebagai seorang ibu. Ya, seorang ibu jahanam yang telah meninggalkan anak dan suaminya terdahulu, hanya demi lelaki lain dengan dalih cinta.
"Amira?" tanya Tirta yang pura-pura lupa. Lelaki itu menatap lekat wajah Amira, menguarkan aura dingin dan tatapan mengintimidasi.
__ADS_1
"Ya, Nyonya Amira Manovti," jawab Johan yang agak curiga, kala menatap wajah majikannya itu.
"Silahkan duduk, nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" Tirta menatap dan terus menguliti ibunya, dengan hanya pandangan penuh merendahkan.
"Han, Haikal, pergilah ke dalam, aku ingin berbincang berdua secara pribadi dengan nyonya Amira ini," usir Tirta pada kedua bawahannya yang paling setia itu.
"Jadi, ada keperluan apa anda kemari, Nyonya Manovti?" tanya Tirta.
Amira menghembuskan napasnya pelan, berusaha meredam keinginan menggebu untuk memeluk putranya. "Aku datang kemari .... "
Belum sempat Amira melanjutkan kalimatnya, Tirta sudah menyela, seolah enggan memberikan kesempatan pada Amira untuk terus bicara.
"Selain urusan bisnis, aku tidak ingin menerima tamu, siapapun itu. Dan lagi, semua pekerjaan sudah aku delegasikan pada bawahanku. Jadi, jika ingin berbicara dan mengungkapkan banyak hal diluar pekerjaan, sebaiknya anda pulang, Nyonya!" seru Tirta pada Amira.
Beruntung Amira sadar, dirinya sendirilah penyebab sikap Tirta yang dingin padanya.
"Tirta, kau ingat aku?" tanya Amira pelan, tersenyum lembut keibuan, meski setiap garis wajahnya nyaris dipenuhi dengan garis-garis keriput.
"Selain seorang pengkhianat dan pecundang, tentu aku akan sangat mengenali dan mengingatnya. Anda, aku seperti memiliki keterkaitan di masa lalu, tetapi sayangnya, aku sudah melupakan semuanya itu," tandas Tirta.
Amira tersenyum getir, tanpa membalas kalimat sarkas Tirta yang sedikit melukai hatinya. Amira sadar sepenuhnya, Tirta memang pantas membencinya.
"Ya, aku hanyalah seorang pengkhianat yang tak pantas mendapatkan maaf padamu," ungkap Amira. Wanita itu tetap menatap sendu Tirta, yang kini tengah diam, sambil menunggu Amira melanjutkan kalimatnya.
"Sudah lama aku menemukanmu, ingin menemuimu dalam berbagai kesempatan. Hanya saja, aku merasa baru kali inj memiliki keberanian untuk bertatap muka denganmu."
__ADS_1
"Selain bisnis, aku juga tidak ingin menerima kalimat basa-basi tak penting yang membuatku kehilangan banyak kesempatan emas. Jadi aku sarankan padamu, nyonya Amira, sebaiknya anda pergi dari sini, dan jangan pernah menampakkan muka anda di depanku lagi!" seru Tirta kemudian. Lelaki itu lantas melihat Amira yang tersenyum, tak tersinggung sama sekali.
"Nak, Ibumu ini datang untuk meminta maaf padamu, memperbaiki .... "
"Memperbaiki hubungan dan menjalin hubungan baik? Sudah terlambat. Jangan khawatir, aku anak yang tidak dinginkan sejak aku kecil. Tanpamu, hidup dan matiku sekalipun, aku tak akan mencarimu, apalagi berlindung di bawah ketiakmu. Pergilah, kejar kebahagiaanmu sendiri. Aku tidak suka jika kau terus menghantuiku," Tirta hendak berbalik, dan melajukan kursi roda elektriknya, ketika Amira berdiri cepat dan menghampiri Tirta, menahan putranya untuk tidak pergi.
"Mama mohon. Kau sendiri saat ini. Aku akan menemanimu dan aku bersumpah, aku akan merawatmu hingga kau nanti sembuh," janji Amira. Tatapannya begitu tulus pada Tirta, sayangnya, Tirta tidak tertarik menatapnya lagi.
"Lepaskan aku dan pulanglah. Buatlah nilai untuk dirimu sendiri. Jangan rendahkan harga dirimu di hadapan anak tak diinginkan ini. Aku bersumpah Amira Djara Manovti, atas mendiang nama ayahku, Rahardja, aku tak ingin mengemis untuk kau kasihani," Tirta menatap Amira dengan tatapannya yang menggelap. Laki-laki itu juga seolah mengeluarkan aura kemarahan yang sudah empat bulan ini tak pernah muncul ke permukaan.
"Tirta, Mama mohon. Adikmu adalah seorang dokter ahli penyakit yang kau derita, aku akan meminta adikmu untuk menyembuhkan mu," ungkap Amira dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Sayangnya, aku memiliki uang banyak untuk berobat diriku sendiri," Tirta memberontak, mendorong Amira hingga Amira terjatuh ke lantai.
Kepala lelaki itu terasa pening dan tak nyaman. Neyerinya kembali datang dan bahkan kali ini, lebih sakit dari sebelum-sebelumnya.
Kenangan itu, bayangan itu, tangis itu, Tirta mengingatnya dengan jelas apa yang ia rasakan sejak kecil. Sakit saat menjadi seorang anak yang dulu tak diinginkan. Sungguh, Tirta sendiri berbalik tak lagi menginginkan seorang ibu.
Hingga Tirta mengerang keras akibat rasa sakit yang mendera kepalanya, lelaki itu menarik rambutnya sendiri dengan keras. Lelaki itu merasa tersiksa, Hinga kemudian pandangannya berubah menggelap. Tirta kembali pingsan, kehilangan kesadaran yang direnggut oleh rasa sakit di kepalanya.
Johan dan Haikal yang berada tak jauh dari Tirta, segera berlari ketika mendengar keributan di dalam. Rupanya, Tirta sudah tak sadarkan diri. Keduanya lantas menatap Amira yang kacau sambil menangis.
"Aku ibu yang melahirkan Tirta, kumohon, bawa putraku ini ke rumah sakit milik adik Tirta sekarang," ucap Amira yang masih menangis, pada Johan dan Haikal.
**
__ADS_1