Unwanted Husband

Unwanted Husband
Episode 59


__ADS_3

Berdebat.


Bulan menggantung indah di langit ibukota. Suasana tanah ibukota tampak basah malam ini, setelah hujan turun ketika sore tadi Tirta telah bisa dinyatakan boleh pulang.


Tim Dokter masih berusaha keras untuk melakukan serangkaian perawatan medis, agar Tirta bisa sembuh total. Tak hanya itu, Jefry, selaku Dokter yang menangani penuh atas kasus penyakit yang Tirta derita, memberikan rawat jalan meski Tirta memusuhinya dan kerap kali mengeluarkan makian pada lelaki itu.


Sudah kehilangan wanita yang dicintai untuk dimiliki sang kakak, kini Jefry dan Amira selalu mendapatkan perlakuan tak menyenangkan dari Tirta. Beruntung, Amira selalu bisa membuat Jefry menerima semua keadaan ini, tersebab Amira lah yang bersalah di masa lalu.


"Jef, terima kasih atas kerja kerasmu dan abdimu pada kakakmu. Mama bangga padamu," ungkap Amira tiba-tiba, ketika ia mendapati Jefry baru keluar dari ruangan pasien lain.


"Sudah sepatutnya Jefry lakukan, Ma. Mama sendiri yang meminta Jef untuk tetap menerima segala intimidasinya," jawab Jefry, mengisyaratkan Ibunya untuk mengikuti langkahnya menuju ke ruangannya.


"Terima kasih sudah mengerti," ungkap Amira kemudian. Keduanya lantas melangkah bersama, tanpa mereka sadari bahwa ada sepasang mata tajam menatap keduanya, dengan sebuah rasa penasaran yang mendalam.


Dia adalah Kara, datang seorang diri untuk menjenguk Daniel. Lelaki itu juga tengah mencari tahu tentang siapa dan bagaimana Amira dalam dunia bisnis. Wanita pengkhianat mantan suaminya, yang merupakan ayah Tirta.


Setelah Amira pergi menjauh bersama Jefry dari Kara, Kara segera melangkah menuju ruang rawat Tirta. Lelaki itu datang seorang diri, tanpa pendamping dan tanpa pengawal seperti biasanya. Hidup bebas, terkadang Kara merindukan hidup bebas tanpa pengawal.


Setibanya di dalam ruang rawat Tirta, Tirta tengah duduk di tepi ranjang seraya memainkan ponselnya. Hana yang sibuk beberes, lebih dulu menyadari kehadiran Kara.


"Om Kara?" lirih Hana kemudian. Wanita itu lantas menghentikan gerakannya membereskan seluruh barang-barang Tirta.


"Hana, Tirta, apa kabar? Maaf baru bisa menjenguk. Belakangan aku sibuk mengurusi anak cabang perusahaan yang sedang ada masalah," kata Kara, mengawali perbincangan.

__ADS_1


Tirta tersenyum, berdiri seraya menjawab, "tak masalah, Tuan. Maaf telah merepotkan mu. Terima kasih sudah bersedia datang jauh-jauh kemari."


Kara mengangguk, mengikuti isyarat Hana untuk duduk di sofa. Sebenarnya, Tirta sudah bisa keluar saat ini juga. Hanya saja, kedatangan Kara membuatnya sedikit senang.


"Bagaimana perkembangan kondisi kesehatanmu, Tirta?" tanya Kara kemudian. Raut wajah lelaki itu masih datar, tidak menampakkan riak emosi sama sekali.


"Sudah lebih baik, Tuan," jawab Tirta.


"Aku sudah mendengar tentang keberadaan seorang wanita yang belakangan ini, mengaku sebagai ibu kandungmu. Amira Manovti," ungkap Kara.


Kara bisa melihat dengan jelas, perubahan raut wajah Tirta. Sinar yang tadinya cerah, kini menggelap secara tiba-tiba. Benar menurut Kara. Rupanya Tirta tidak menerima kehadiran wanita itu.


"Dia pemilik perusahaan yang belakangan jadi sorotan, karena dia adalah janda yang kuat, Tirta. Maaf, bukan aku ingin ikut campur tentang masalahmu, tetapi aku datang selain menjenguk mu, juga ingin menyampaikan sebuah informasi, bahwa kau memiliki sebuah saham di dalam perusahaan yang selama ini di pimpin oleh Ibumu," ungkap Kara lagi, membuat Tirta mengerutkan dahinya.


"Apa maksudnya, Tuan?" tanya Tirta tak mengerti.


"Aku pernah berjanji padamu beberapa bulan lalu, sebelum kau resmi bercerai dari Hana, bahwa aku akan menghadiahkan lima persen saham di sebuah perusahaan. Tadinya atas namaku, namun aku rasa sebentar lagi akan aku alihkan atas namamu. Bukan aku berniat membeli sakit hatimu atas Hana, hanya saja, ini memang murni hadiah karena jasa dan prestasimu untuk perusahaan anak cabang yang dipimpin Aridha," jawab Kara kemudian. Lima persen saham, sanggup membiayai hidup Tirta tanpa lelaki itu harus bekerja, bukan. Lima persen dengan hasil yang fantastis.


Hana terdiam di tempatnya, merasa bahwa tak nyaman kali ini. Meski sekuat tenaga Hana mencoba untuk tenang, namun karena ulahnya yang selalu minta perceraian pada Tirta, membuatnya malu dan menyesal.


"Lantas, mengapa harus perusahaan yang dipimpin Amira?" tanya Tirta tak mengerti.


"Masa laluku, anda tahu sendiri tak baik karena keluarga dan orang tuaku yang bercerai berai. Aku, sejujurnya aku enggan untuk berurusan dengannya, Tuan. Jadi aku rasa, tak masalah aku tak mendapat hadiah itu, daripada aku harus berurusan dengannya lagi," ungkap Tirta kemudian.

__ADS_1


Kara tersenyum menawan, menyadari keengganan dan penolakan Tirta secara terang-terangan, atas hadiahnya.


"Bagaimana pun, dia seorang Ibu, Tirta. Sekejam apapun dia di masa lalu, dia tetap Ibumu dan dia datang dengan sebuah penyesalan dan mengiba maaf. Aku tak ingin ikut campur urusan ini. Semua ada di tanganmu. Tetapi aku juga datang untuk menyampaikan sebuah fakta, yang tak kau ketahui. Amira, telah mengorbankan banyak hal untuk kesembuhanmu. Kau perlu bertanya detailnya pada Dokter Jefry nanti."


Tirta membuang pandangan. Apa yang Kara katakan adalah sebuah kebenaran. Hanya saja, Tirta masih kesulitan menjatuhkan maafnya untuk sang Ibu.


"Aku tak mengerti, Tuan. Sebaik apapun dia, sebesar apapun pengorbanannya, hatiku terlanjur sakit dan tak bisa menerimanya secepat itu. Aku hanya menuruti bagaimana kemauan hatiku. Masalah Jefry, dia Dokter terhebat yang sudah menyelamatkan aku. Aku rasa, mantan istriku sangat beruntung bila mendapatkannya, Jefry cinta mati padanya," ungkap Tirta sambil melirik Gihana.


Hana menatap Jefry dengan penuh keterkejutan, "Kau cemburu pada adikmu sendiri?" tanya Hana. Nadanya terdengar kesal dengan wajahnya yang mulai tampak berang.


"Tidak. Aku tidak cemburu. Siapa yang berkata bahwa aku cemburu? Kau mantan istriku. Lain halnya bila kau istriku, kedengarannya pantas bagiku untuk cemburu," jwan Tirta, mulai lupa pada keberadaan Kara dan meladeni Hana yang mendebatnya.


"Oh, begitu? Jika tak cemburu, kau tak akan menyebut Jefry dan tak akan bilang beruntung bila aku mendapatkannya. Kau ingin aku menikah dengan adikmu? Begitu? Tetapi bagaimana jika aku ingin kita kembali saja, Tirta? Sudah aku katakan kemarin, aku menyesal bercerai denganmu," sahut Hana tak mau kalah.


"Tetapi kau dulu adalah cintanya Jef, begitu juga Jef yang mencintaimu. Mungkin saja kisah lama akan terulang kembali," sahut Tirta kemudian.


"Jangan banyak bicara, Tirta. Kalimatmu itu sudah menunjukkan bahwa kau cemburu pada Tirta. Ingat satu hal, wanita adalah makhluk Tuhan yang paling peka. Aku yakin, cintamu sangat besar untukku. Iya, kan?" tanya Hana kemudian.


"Siapa bilang? Kau hanya terlalu percaya diri. Jangan terlalu tinggi dalam berkhayal, hanya!" seru Tirta mulai kehilangan kontrol dirinya.


Di tempatnya, Kara memijit pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri. Mengapa kunjungannya kemari, justru menimbulkan perdebatan Hana dengan Tirta?


"Stop! Kepalaku bisa meledak sekarang juga bila kalian meneruskan untuk berdebat. Jika kalian nekat terus berdebat, aku akan menikahkan kalian kembali," kata Tirta, berhasil membuat sepasang mantan pasangan itu bungkam

__ADS_1


"Tak masalah, om. Nikahkan aku dengan Tirta. Masalah akan selesai!" Seru Hana di depan Tirta dan Kara.


**


__ADS_2