Unwanted Husband

Unwanted Husband
Episode 56


__ADS_3

Mengguncang pendirian.


"Tidak, Tirta. Kau harus tetap di rawat disini hingga sembuh. Jangan membantah jika kau ingin berumur panjang, dan mengasuh putra kita," suara Hana, demikian sanggup membuat Tirta seolah berhenti bernapas.


Wanita itu datang, dan berkata dengan suara merdu nan lembut. Nadanya mendayu indah di telinga seorang Tirta Rahardja. Sejenak, segerombol rindu kian beranak pinak, menciptakan sensasi keinginan untuk memeluk dan merangkul erat tubuh kurus nan ringkihnya.


Sayang, fakta dan realita berhasil menampar Tirta, bahwa Hana tidak lagi menginginkan dirinya. Bukankah ini sangat keterlaluan? Disaat mereka saling menginginkan satu sama lain, situasinya tak mengizinkan, akibat mereka hanyalah sebatas mantan pasangan suami istri.


"Kau tak lagi berhak mengaturku, Hana. Semua keputusan ada di tanganku. Apapun yang aku lalukan, itu hakku untuk menentukan," ungkap Tirta dingin. Lelaki itu melengos, membuang muka tanpa satupun keinginan menatap Hana.


Bukan Tirta membenci Hana, melainkan lelaki itu tak ingin larut dan lepas kendali, hingga menginginkan Hana berada disisinya selamanya. Tidak. Tirta tak ingin itu terjadi dan egois.


Kebahagiaan Hana, adalah yang utama. Bukankah caranya ini adalah sebuah bentuk pengorbanan Tirta?


"Aku tahu," Hana tersenyum getir, "tetapi setidaknya aku mengingatkan, demi kebaikanmu," tambah Hana.


"Tak perlu repot-repot menyadarkan dan memberitahukan. Tidak usah pula kau terlihat lebih peduli, jika ujung-ujungnya, kau hanya akan menjatuhkan perasaanku!" seru Tirta dengan suara datar.


Mati-matian lelaki itu menahan perasaannya.


"Maaf, Saya pamit untuk keluar dulu. Tuan dan nyonya, silakan berbincang," ujar Dokter Ida secara tiba-tiba. Wanita itu keluar, meninggalkan ruangan dengan cara tidak nyaman.


"Untuk apa kau berdiri disana, Hana? Pergilah, aku bahkan sudah menuruti semua keinginanmu selama ini. Kali ini, pergi dan turuti semua keinginanku!" perintah Tirta dengan sorot matanya yang tajam.


Meski wajah pria itu pucat, namun itu tak membuat Tirta melunturkan dingin dalam bicaranya.

__ADS_1


Hana menunduk, dan keluar ruangan dengan perasaan nelangsa. Secuil kecewa akibat perlakuan Tirta yang tak sehangat dulu, membuat hati Hana menciut.


'Mungkinkah aku mampu mengembalikan keadaan seperti semula?'


Tanya Hana dalam batin.


Hana diam, terduduk pada kursi tunggu didepan ruang ICU. Wajahnya tak jauh berbeda dengan Tirta, pucat dan mengenaskan. Tetapi meski begitu, Hana tetap tegar. Wanita itu keras kepala dan tetap tak akan menyerah sebelum bisa meraih maaf dan kesempatan dari mantan suaminya itu.


Seorang perawat laki-laki dan dua perawat perempuan, melewati Hana dan hendak memasuki ruangan tempat dimana Tirta berada. Sepertinya, Tirta sudah akan dipindahkan ke ruang rawat yang baru saja di tata.


"Apakah Tirta akan dipindahkan sekarang?" tanya Hana, menghentikan langkah dua perawat yang berjalan beriringan.


"Iya, Nyonya. Jika Anda tak keberatan, anda juga bisa membantu memindah pasien," jawab perawat perempuan bertubuh pendek nan kurus.


Hana menunggu cukup lama hingga kemudian Tirta keluar, dan terlentang diatas brankar. Meski mantan suaminya itu tidak sedia menoleh padanya, namun Hana tetap berusaha mendampingi Tirta. Bahkan Amira yang baru-baru ini mengaku sebagai ibu Tirta, tidak hadir bertatap muka dengan Tirta sejak Tirta dinyatakan telah melewati masa kritisnya.


Setibanya di ruang rawat berkelas VVIP, Hana menatap barang-barang Tirta. Lelaki itu masih diam seribu bahasa. Tak berusaha berbicara dengan Hana.


"Tirta, kau mau makan?" tanya Hana, ketika wanita itu telah selesai beberes, wanita itu menyuruh pulang salah satu pelayan rumah, yang Johan tugaskan untuk menjaga Tirta.


"Pulanglah, Hana. Jangan membuatku memupuk perasaanku lebih subur lagi seperti dulu, bila akhirnya kau hempaskan dengan sangat kejam," ujar Tirta dengan suara datar.


Hana tersenyum lembut.


"Sekuat apapun kau berusaha menyingkirkan aku dari sini, aku tetap tak akan pernah pergi dari sini, Tirta."

__ADS_1


"Mengapa, Hana? Tidak cukupkah perlakuan jahatku selama lima bulan, dengan balasan derita lebih dari dua tahun lamanya?" tanya Tirta dengan tatapan dingin.


Jujur saja, Hana sedikit gentar. Namun wanita itu berusaha untuk tetap berani dan mengokohkan pendirian.


"Karena aku ingin merawatmu dan menebus semua dosaku padamu, Tirta. Bisakah, bila seandainya kita mulai semuanya dari awal?" tanya Hana mantap. Tatapan mata wanita itu lurus menghujam tepat pada tatapan mata Tirta.


Tirta terpana, dan mematung di tempatnya.


"Apa yang kau katakan, Hana? Kau membangkitkan dan menjunjung tinggi harapan yang sudah aku bunuh mati, lantas akan kau hempaskan kembali seperti empat bulan lalu? Jangan harap kau bisa melakukannya lagi," ungkap Tirta.


"Kau tak percaya? Kalau begitu, mari kita buat kesepakatan dan beri aku waktu untuk membuktikan perkataanku!" seru Hana dengan suara tegas.


Ada sorot mata teguh yang Hana miliki. Tirta saja bahkan tidak tahu, ini adalah sebuah candaan, atau keseriusan yang nyata.


"Apa yang kau mau, Hana? Katakan dengan lugas!" Seru Tirta, sambil memaksakan untuk duduk. Refleks, Hana membantu lelaki itu, untuk duduk, dengan menopang kepala dan sebagain tubuh Tirta, dengan menggunakan bantal.


"Aku ingin kembali seperti dulu, Tirta! Mari perbaiki hubungan yang telah hancur ini, demi Felix. Tidakkah kau ingin menambah satu anak perempuan yang lucu, sebagai adik kandung Felix? Maaf atas semua khilaf ku. Nyatanya, berpisah darimu sejak empat bulan lalu berhasil membuatku memahami, makna dari sebuah kehilangan, dan kehancuran yang nyata. Mari kita mulai semuanya dari awal," tegas Hana dengan suara parau.


Hana menangis, tak kuat menahan emosinya yang mulai rancak ketika bersama Tirta.


"Kau ... kau bercanda?" tanya Tirta kemudian.


"Aku, aku sudah memikirkan ini semua secara masak-masak, Tirta. Tidakkah kau menjumpai kesungguhanku?" tanya Hana, yang sanggup mengguncang pertahanan Tirta.


**

__ADS_1


__ADS_2