Unwanted Husband

Unwanted Husband
Episode 38


__ADS_3

Kepalsuan


Makan malam Tirta yang bisa dikatakan terlambat malam ini, terasa nikmat. Baru kali ini sepanjang sejarah, Tirta merasakan sebuah euforia yang dahsyat dalam hatinya. Ia pikir, dirinya akan memikirkan kembali permintaan istrinya untuk sebuah perpisahan.


Sayangnya, sikap Hana berubah lebih baik. Tak ada nada dingin dalam suaranya. Tak ada wajah judes dalam raut wajahnya. Juga tak ada kebencian yang menyala-nyala dalam pendar matanya. Harapan Tirta, ini adalah kesadaran penuh dirinya.


Mungkin karena Gihana melihat betapa Felix sangat menyayangi dirinya, hingga membuat Hana urung dalam meminta perpisahan. Baguslah. Setidaknya Tirta bisa bernapas lega kali ini.


"Kau lapar?" Hana bertanya pada Tirta, melihat suaminya itu makan dengan lahap dan banyak.


"Ya. Aku melewatkan makan siangku." Tirta menjawab, dengan makanan yang masih Ia kunyah. Tak hanya itu, tangan kiri Tirta masih setia memegangi putranya yang duduk tenang dalam pangkuannya.


Malam telah larut, Namun mata Felix masih cerah dan sesekali tertawa menatap papanya. Tak hanya itu, anak itu juga sesekali menyudutkan wajahnya ke arah ketiak Tirta, seolah harum keringat papanya adalah obat penenang untuknya.


"Kau mau makan juga, sayang?" Tirta bertanya pelan, menatap lembut dan penuh sayang pada Felix, sebelum kemudian menatap Hana dengan wajah berbinar.


"Apa dia belum makan malam?"


"Tadi tidak mau makan, hanya meminum susu satu botol sejak sore tadi. Entah, dia tiba-tiba mengamuk, Aku, Lila dan Haikal sampai kuwalahan dibuatnya." Jawab Hana.


"Baiklah, katakan pada Lila untuk membuatkan makan malam Felix. Setelah ini biar aku yang menyuapi. Mungkin dia menangis karena rindu padaku." Titah Tirta kemudian.


Hana mengangguk dan bangkit kemudian. Ia perlu membuat makan malam untuk Felix. Tak lupa, Hana juga membuatkan jus mangga untuk Tirta.


"Sayang, Kenapa kau seharian menangis? Oh bukan seharian, mama berkata kau menangis sejak sore tadi. Kenapa begitu? Kau merindukan papa?" Tirta bertanya sambil sesekali menyuapkan makanannya.


Lelaki itu seolah tengah berdialog dengan Felix, meski Felix menimpalinya hanya dengan gumaman tak jelas dan juga menepuk-nepuk pipi Tirta. Jangan tanya bagaimana ke depan. Andai ini akan terjadi selamanya, dan Felix memiliki adik bayi setiap tahunnya, mungkin akan semakin lengkap bahagia Tirta.

__ADS_1


Otak Tirta berfantasi tiba-tiba.


"Makan malam Felix sudah siap. Kemarikan Felix padaku. Biar aku saja yang menyuapinya." Hana berkata datar.


Tirta tak menjawab, segera memberikan putranya pada istrinya itu. Sayangnya, Felix memalingkan badan, menolak untuk diambil Hana.


"Ayolah sayang, biarkan papamu makan malam dengan nikmat. Mama akan menyuapimu." Ujar Hana kemudian. Tetapi lihat saja, Felix tetap berkeras hati menolak uluran kedua tangan Hana.


"Biarkan dalam pangkuanku saja, Hana. Kau bisa menyuapinya dari tempatku duduk. Tak apa, aku suka Felix yang manja." Tirta berkata.


"Jangan terlalu memanjakan Felix, Tirta. Itu tak bagus." Hana menjawab.


"Tak masalah, asal dia nyaman bersamaku. Aku ayahnya, Felix juga masih kecil, setelah agak besar nanti, aku akan mulai mendidiknya agak tegas." Tirta menimpali.


Alhasil, Felix Harraz Rahardja itu makan dengan tenang dalam pangkuan ayahnya. Begitu juga Hana yang sejak tadi membisu, membiarkan Tirta makan dan ia sendiri menyuapi putranya.


"Kau sudah kenyang? Jika mengantuk tidurlah. Felix biar aku yang mengasuhnya." Hana bertanya, memecah kebisuan panjang diantar mereka.


Mendadak Tirta canggung dengan sendirinya. Entah bagaimana caranya, ia merasakan telah jatuh cinta layaknya remaja yang baru dilanda kasmaran. Ingin rasanya Tirta mengutuk dirinya sendiri. Benar-benar membuat malu.


"Tidak. Aku akan menemani Felix bermain hingga mengantuk. Kau jika lelah tidurlah dulu." Tirta berkata, seraya menatap istrinya lembut.


"Aku akan menemani kalian." Timpal Hana. Mata wanita itu, menatap dalam kebersamaan anak dan suaminya.


Terbersit sebuah beban yang tiba-tiba menghantamnya. Sebuah perpisahan yang Hana inginkan, Hana ragu untuk memintanya lagi. Namun membersamai Tirta juga bukanlah sesuatu yang mudah untuk dipaksakan. Jujur saja, hatinya masih dipenuhi rasa marah dan kecewa pada Tirta, meski Tirta sudah menunjukkan bahwa ia sudah banyak berubah.


Ini masalah hati, dimana ia perlu mengutamakan kenyamanan untuk Felix. Untuk egois, Hana tak bisa. Semua ia lakukan demi Felix.

__ADS_1


Tadinya setelah Tirta pulang dari kantor, Hana berniat untuk tetap bersikap layaknya hari-hari biasa, bersikap ketus pada Tirta, dan juga marah-marah pada suaminya itu.


Namun semua itu tiba-tiba urung ia lakukan, lantaran Felix yang begitu tenang saat berada di dalam pelukan Tirta. Tirta pun juga sangat menyayangi putranya, Hana akan merasa bersalah sekali.


"Hana? Kau melamun? Apa yang kau pikirkan?" Tirta bertanya, disela-sela dirinya sibuk menemani Felix bermain. Lelaki itu juga menemukan Hana yang tatapannya penuh beban. Seperti sedang tertekan, Hana memang seperti tampak tidak baik-baik saja, meski sikapnya sudah mulai membaik terhadap Tirta.


"Tidak ada. Aku hanya berpikir, mungkin kau kelelahan usai kerja, dan pulang masih mengajak Felix bermain. Jika kau tak kuat mengantuk, aku tak apa menemani Felix sendirian." Hana menjawab.


Tirta tertawa renyah, dengan sorot matanya yang mulai nampak bahagia. Ada banyak keinginan yang Tirta miliki, salah satunya adalah di khawatirkan istrinya. Kini semua menjadi kenyataan. Sedikit perhatian Hana, mampu membuat hati Tirta merasa berbunga-bunga.


"Tak masalah. Aku sudah terbiasa tak tidur malam. Kau tahu? Bahkan aku tak bisa tidur setiap malam, jika aku melewatkan obat penenang yang dokter resepkan. Saat bersamamu, kau tahu sendiri sebelum kau pergi, aku bahkan hanya tidur tiga atau empat jam saja semalam."


"Ya sudah jika kau tidak mengantuk. Sebentar, aku akan ke kamar." Ujar Hana.


Tirta pun ikut bangkit, berniat menyusul istrinya ke kamar utama.


"Tunggu, Hana. Aku akan membawa Felix ke kamar. Bagaimana jika kita tidur bertiga?" tanya Tirta.


"Baiklah." Hana menjawab pelan, menatap Tirta sekilas sebelum ia kembali menuju ke kamar utama.


Tirta dan Felix bermain, hingga larut malam dan Felix mengantuk. Keduanya tak sengaja terlelap bersama diatas ranjang.


Hana menatap anak dan suaminya dengan perasaan yang berkecamuk. Antara benci dan kasihan, Hana tak tahu lebih dominan yang mana perasaannya. Melihat keduanya sangat dekat lahir batin, membuat Hana merasa perih. Bagaimana mungkin ia mengutamakan perasannya, sementara Felix pasti akan menderita nanti.


Dengan mendesah parah, Hana menyelimuti ayah dan anak yang tengah terlelap bersamaan itu. Sikap baiknya hari ini, hanyalah sebuah kepalsuan yang mampu membolak balikkan dunia Tirta.


Hana tak menyangka, dirinya termasuk orang yang lebih kejam dari suaminya di masa lalu. Hana sadar itu.

__ADS_1


**


__ADS_2