Unwanted Husband

Unwanted Husband
Episode 55


__ADS_3

Tak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang Jefry, selain menyaksikan Hana terluka. Cinta memang cinta, tetapi tak mungkin juga Jef menyaksikan Hana tertekan dan terhanyut dalam luka yang ia rasakan sendiri. Ada banyak pertimbangan yang Jefry ambil.


Sebuah tindakan medis yang Jefry ambil, kini berhasil membuat Tirta sedikit membaik. Lelaki itu bahkan menunjukkan perkembangan yang bagus, dan berhasil melewati masa-masa kritisnya.


Jefry tersenyum, ketika mengingat bagaimana ibunya juga menekan dirinya, bahkan sempat mengancam bunuh diri. Tak hanya itu, Jefry juga menertawakan dirinya sendiri yang kelewat bodoh, karena sempat berpikir untuk melenyapkan Tirta dengan dalih penyakitnya.


Pada dasarnya, Jefry adalah orang baik. Cinta buta yang menyebabkan lelaki itu terobsesi pada Hana. Kini, lelaki itu tersadar, bahwa sebaiknya dirinya membantu sang ibu untuk meraih maaf pada Tirta, sang kakak.


Jangan tanya sakitnya, karena nyatanya, Jefry perlu berdamai dulu dengan kenyataan dan takdir. Jefry yakin, ia tak salah mengambil keputusan.


"Jef?" Amira datang, membawa sekotak bekal makan berisi nasi dan lauk sayuran dan oseng daging. Tak lupa, ada satu kotak lagi berisi buah.


"Aku tak lapar, Ma. Bawa pergi saja, atau berikan pada Hana," jawab Jefry kemudian.


"Hana bahkan sudah makan. Oh ayolah, kau belakangan ini mendadak suka abai terhadap kesehatanmu. Ayolah, jangan membuat mama khawatir. Kakakmu belum juga pulih sepenuhnya, jadi jangan sampai kau sakit dan berhasil membuatku tak tenang," ungkap Amira, yang kemudian membuka kotak bekal makan putranya.


"Ma, aku sedang tak ingin makan. Bisakah Mama mengerti? Oh ya, Mama sudah bertemu dengan Tirta secara sadar?" tanya Jefry untuk mengalihkan perhatian ibunya.


Gerakan tangan Amira terhenti, ketika mendengar tanya sang putra.


"Mama tak berani menemuinya, Jef. Hana Lin juga Beluma berani bertemu dengan lelaki itu. Entahlah, semua orang yang harusnya bersikap baik padanya, nyatanya telah melukainya, termasuk Mama dan Hana. Setelah ini, Mama tak yakin ia tidak memiliki trauma menjalani sebuah hubungan dengan wanita," jawab Amira kemudian.


"Baiklah, jangan risau. Aku akan membuat dia menerima dan memaafkan Mama," sahut Jefry, yang berhasil menerbitkan senyum pada bibir Amira.

__ADS_1


**


Makna kehampaan dalam sebuah kehidupan adalah, ketika kita dihadapkan pada sebuah kesendirian yang sesungguhnya. Dunia memang beragam isinya, sesama makhluk di dunia berseliweran untuk meramaikan panggung dunia, namun kita merasa sendiri dalam keramaian itu. Itulah makna kehampaan. Hanya ada ruang kosong, hanya ada kesendirian tanpa batas waktu.


Tirta merasakan tubuhnya berat, dengan kepala yang hanya sedikit berdenyut nyeri. Pandangan pria itu mengabur, ketika pertama kali Tirta membuka matanya. Ada rasa sepi perlahan, ketika ia tersadar dan berhasil melewati masa kritisnya.


Mungkin, Johan dan Haikal masih mengurus pekerjaan masing-masing. Tirta tak menuntut mereka untuk selalu ada untuk Tirta. Yang membuat Tirta merasa sepi adalah, tak ada satu orangpun yang menungguinya ketika dirinya telah tersadar. Sebatang kara, itulah istilah yang pantas disematkan untuk ayah satu anak itu.


Diam-diam, Tirta begitu merindukan sosok Felix. Anak itu biasanya akan rewel bila tidak bertemu dengan dirinya. Sedang apa putranya itu sekarang? Tirta mengulas senyum ketika otaknya mengingat pahatan wajah Felix yang demikian mirip dengannya.


"Tuan, anda butuh sesuatu? Tiga puluh menit lagi, anda akan dipindahkan ke ruang rawat VVIP seperti yang tuan Johan pesan. Disana, anda baru bisa dibesuk. Maaf jika anda sendirian di ruangan ini. Jika tak keberatan, anda bisa meminta tim perawat untuk menjaga anda," ucap salah satu perawat yang wara-wiri ke dalam ruangan Tirta, untuk mengecek perkembangan Tirta selama lima belas menit berturut-turut.


"Tinggalkan aku sendiri. Aku lebih suka sendiri. Jika aku butuh sesuatu ataupun bantuan, aku akan menekan tombol darurat," jawab Tirta kemudian.


Selepas kepergian perawat tadi, Tirta terdiam sebentar, Hinga akhirnya pintu dibuka dari luar. Sosok Dokter Ida tersenyum lembut, menghampiri Tirta dengan senyum keibuan.


"Bagaimana perasaan anda saat ini, tuan Tirta? Apakah sudah merasa lebih baik?" tanya Dokter Ida ramah.


"Lebih baik. Ngomong-ngomong, terima kasih sudah merawatku dengan baik, Dokter Ida. Terima kasih sudah mengambil tindakan medis untuk membuatku sembuh perlahan," ujar Tirta, dengan raut wajah yang demikian tulus.


"Sama-sama, Tuan. Tetapi jika boleh jujur, saya hanya membantu merawat anda disini. Selebihnya, ada sosok lain yang lebih berjasa, yang dengan berani mengambil tindakan medis secara ekstrim, dibantu dengan beberapa tenaga medis dari luar negeri terbaik, yang di datangkan oleh sosok itu juga," ungkap Dokter Ida.


Kening Tirta berkerut dalam.

__ADS_1


"Siapa?"


"Dokter Jefry Nicholson Manovti," jawab Dokter Ida.


Wanita itu menyadari, ada raut tak suka pada wajah Tirta. Rumornya yang ia dengar dari Haikal, Tirta tak memiliki hubungan baik dengan ibu kandungnya, apalagi dengan adiknya yang tak Tirta kenal. Tirta juga menolak keras kehadiran keluarganya, akibat masa lalu kelam yang pernah Tirta lalui.


"Putra Amira Manovti?" tanya Tirta memastikan.


Dokter Ida merutuk dalam hati, saat mendadak Tirta berubah dingin, tak ada sinar kehangatan dari matanya.


"Iya, Tuan. Beliau yang memanggil Dokter-dokter ahli penyakit yang anda derita," Jawab Dokter Ida datar.


"Aku minta tolong, Dokter, tolong panggilkan Haikal dan Johan untuk datang kemari. Aku ingin pulang dan ingin menjemput Felix segera," kata Tirta, mengalihkan pembicaraan. Lelaki itu amat sangat tak nyaman melakukan pembahasan tentang dua orang yang dikatakan Dokter Ida.


"Tetapi, anda belum sembuh dan pulih total, Tuan," bujuk Dokter Ida.


"Aku bisa dirawat jalan di rumah saja, Dokter Ida. Obatnya hanya satu, aku ingin Felix. Itu saja," sahut Tirta.


"Tetapi .... " Dokter Ida tak melanjutkan kalimatnya, ketika Tirta menyela dengan cepat.


"Jangan membantahku kali ini, Dokter! Aku tidak .... " kalimat Tirta terhenti, saat sebuah suara lembut, menyapanya.


"Tidak, Tirta. Kau harus tetap di rawat disini hingga sembuh. Jangan membantah jika kau ingin berumur panjang, dan mengasuh putra kita," suara Hana, demikian sanggup membuat Tirta seolah berhenti bernapas.

__ADS_1


**


__ADS_2