
"Maaf, tuan. Apa yang menjadi dugaan anda, nyatanya berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada. Bukan tuan Tirta yang tak menginginkan nyonya Hana, Melainkan nyonya Hana yang tidak menginginkan Tuan Tirta saat ini. Bila dua tahun lalu tuan Tirta yang berlaku kasar pada nyonya, maka sejak kepulangan nyonya Hana, nyonya Hana lah yang membenci tuan Tirta dan sering menyakiti hati suaminya itu dengan kata-kata kasar." Ungkap seorang wanita berseragam suster.
Di sebuah bangunan yang tak jauh dari rumah Tirta, Kara berdiri menghadap ke arah jendela, menatap bunga hias yang tertanam berjejer di taman. Lelaki itu sengaja datang kemari dua hari, setelah Hana pergi. Tirta hanya ingin tahu, benarkah Tirta sudah berubah setelah Hana Kembali.
"Baiklah, terima kasih. Kembalilah dan bekerja dengan baik pada mereka. Tetap kontrol dan awasi apa saja yang mereka lakukan. Jangan kecolongan satu informasi sekecil apapun, mengerti? Laporkan setiap kejadian padaku. " ujar Kara pada seorang bawahannya.
"Ingat, jangan sampai Hana terluka di tangan suaminya. Biar bagaimana pun, aku khawatir Tirta mengulang kesalahan yang sama."
"Baik, tuan." Wanita itu menunduk, mundur dua langkah sebelum akhirnya ia berbalik dan berlalu dari sana.
Sebagai lelaki yang pernah merawat Hana dan putranya, jujur saja Kara memiliki simpati yang tinggi terhadap putri Daniel itu.
**
Sudah dua Minggu berlalu semenjak perdebatan Tirta dan Hana sepulang Hana dari acara reuni. Keduanya juga selalu banyak diam, menjalankan aktivitas secara monoton. Oh bukan, bukan keduanya. Melainkan Hana yang semakin hari semakin menjaga jarak dengan Tirta.
Sepagi ini, Tirta sudah siap dengan pakaian yang rapi. Kemeja biru muda dengan setelan jas dan celana hitam, membuat Tirta terlihat lebih segar. Kulitnya sudah mulai normal dan tak sepucat semalam. Rona wajahnya kembali seperti sediakala.
Lelaki itu tengah berpapasan dengan pengasuh Felix, yang tengah menyuapi Felix. Tatapan yang semula datar, selalu berubah melembut setiap kali memandang Felix.
"Hai, sayang. Kau sedang sarapan? Apa menu sarapan mu pagi ini?" Tanya Tirta ketika menyapa Felix. "Oh, wortel dan bayam. Apa ini nikmat?" Tanya Tirta kemudian.
"Pastikan makanannya habis, Lila." Ujar Tirta pada Lola, pengasuh Felix.
"Baik, Tuan." Lila mengangguk dan menunduk dalam. Ia tak pernah berani menatap majikan laki-lakinya.
"Dimana istriku? Kau melihatnya?" Tanya Tirta kemudian.
__ADS_1
"Sudah siap di meja makan, tuan." Jawab Lila. Tidak mengangguk dan segera berlalu menuju ke meja makan. Tak lupa, Lelaki itu mengecup lama kening Felix yang asik bermain sambil makan.
Setibanya di meja makan, Hana sudah duduk dan menunggu kedatangan Tirta. Sejak bangun tadi, Tirta sudah tak menemui Hana di kamar. Semakin hari, Hana semakin tak tersentuh. Pernah suatu waktu, Tirta meminta Hana untuk melayaninya. Namun nihil, Hana selalu menghindar dan enggan melayani suaminya itu.
Dua tahun Tirta sama sekali tidak menyewa wanita penghibur untuk menyalurkan hasrat kelelakiannya. Lelaki itu lebih memilih menyalurkan nafsunya di kamar mandi seorang diri. Entah bodoh atau bagaimana, Tirta hanya merasa dirinya perlu menjaga kesetiaan terhadap Hana.
"Pagi, Hana. Kau ada acara siang ini?" Tanya Tirta kemudian. Tak lupa, lelaki itu juga menatap Hana intens, yang setiap hari semakin cantik saja. Sayang, Hana tak mau memandang kebaikan suaminya itu.
"Tidak. Aku hanya di rumah seharian." Jawab Hana.
"Tidak ingin berkunjung ke rumah Papa dan Mama? Maksudku, ke kediaman Adi Prama?" Tanya Tirta lagi.
Lelaki itu berubah total. Dalam dua Minggu ini, Tirta lah yang semakin gencar mendekati Hana. Tak hanya itu. Lelaki itu juga semakin lembut memperlakukan Hana, seolah Hana adalah sebuah harta paling berharga dan bisa hilang kapan saja.
"Tidak. Mama dan Papa sedang pergi keluar kota untuk urusan pekerjaannya." Hana menjawab apa adanya.
Hana menatap suaminya cukup lama. Gadis itu merasa aneh dengan sikap Tirta padanya hari ini. Entahlah. Yang jelas, Hana khawatir bila suaminya memiliki niat buruk padanya.
"Kau baik-baik saja, Tirta?" Tanya Hana kemudian.
"Ya. Aku baik tentu saja. Kenapa kau bertanya begitu?" Tanya Tirta lagi.
"Tak biasanya kau begini." Tukas Hana.
"Dan ini akan menjadi kebiasaan untuk selamanya. Dengar, aku ingin rumah tangga kita harmonis dan menjadi keluarga yang berhasil." Tirta berkata santai, namun hal itu cukup membuat Hana tak karuan.
"Aku sudah memikirkan semuanya, Tirta. Lebih baik kita berpisah. Bila kau ingin rumah tangga ini berhasil, maaf aku tak bisa." Ungkap Hana.
__ADS_1
"Sepagi ini jangan membuat ribut, Hana." Tirta menyahuti. Sekuat apa pun Hana memintanya berpisah, Tirta tak akan mengabulkannya.
"Aku tak mungkin menjalani rumah tangga tanpa cinta di dalamnya, Tirta. Dua Minggu ini aku telah banyak berpikir, dan memikirkan semuanya. Dan aku sudah yakin dengan keputusanku. Aku sudah memaafkan dirimu. Aku juga sudah berpikir bahwa kita masih bisa menjalin hubungan baik selepas bercerai nanti." Hana menatap Tirta dalam.
Nada bicara Hana tak lagi sedingin kutub Utara. Biasa dan terdengar santai.
"Dalam mimpimu, Hana. Maaf jika itu, aku tak bisa mengabulkannya." Ujar Tirta.
"Dan kau akan menyiksa batinku setiap hari? Aku bisa kehilangan kewarasan otakku jika aku hidup dengan lelaki yang tak aku cintai. Sudahlah, Tirta. Aku bicara baik-baik, semata karena aku sudah memaafkan dirimu sepenuhnya. Tetapi untuk hidup bersama seperti yang kau damba, maaf aku tak bisa." Sahut Hana.
"Kumohon, jangan mengekang aku untuk terus berada di rumah ini, demi kebahagiaanmu. Demi cinta, lelaki akan selalu mengabulkan apapun yang diminta oleh wanitanya."
Mendadak Tirta kehilangan selera makan.
"Apa kau meminta perpisahan karena Jefry?" Tanya Tirta.
"Tidak. Ini tak ada hubungannya dengan Jef atau siapa pun itu. Ini murni keinginanku. Tak ada tekanan ataupun alasan lain. Setelah kita berpisah, aku pastikan aku tak mungkin menikah lagi." Hana berkata, sambil menatap serius Tirta. Hatinya seolah beku.
"Cobalah untuk membuka hatimu, Hana. Aku bahkan tak bisa marah padamu sekalipun kau meminta sesuatu yang tak bisa aku kabulkan." Tirta berkata, lantas bangkit dan berniat ingin pergi. Namun langkahnya terhenti karena Hana menimpali kalimatnya.
"Maka kau akan melihat aku menderita selamanya di sisimu, Tirta. Semua pilihan ada di tanganmu." Ungkap Hana dengan suara lirih.
Hati Tirta terasa nyeri seketika.
**
Jangan lupa tinggalkan jejak, ya. Terima kasih sudah ikuti ceritaku sejauh ini, terutama pembaca setia yang sering tegur kesalahanku. Makasih banyak buat kalian. Semoga ke depan, aku bisa memperbaiki diri supaya bisa lebih baik tulisannya. Sampai jumpa di part berikutnya.
__ADS_1