Unwanted Husband

Unwanted Husband
Episode 32


__ADS_3

Reuni 2


"Hai, Gihana, apa kabarmu?" Suara bariton itu? Astaga, jantung Hana nyaris copot saat itu juga, akibat dari keterkejutannya.


Tanpa Hana sadari, ada seseorang yang menguping dan melihat semua yang ia lakukan, dan ia bicarakan.


"Jef?" Hana mencicit lirih, ketika suara itu datang menyapa gendang telinganya dengan lembut. Masih sama, selembut dulu.


Jane yang menyadari ada canggung yang tercipta, segera berdehem untuk menetralkan suasana. Biar bagaimana pun, Jane tahu bagaimana masa lalu Gihana.


"Gihana baik, Jefry. Kau dimana saja sejak tadi? Sepertinya aku tak melihatmu." Jane yang berinisiatif menjawab, karena Hana hanya bungkam sejak tadi.


"Oh, aku menanyai Hana, Jane. Mengapa kau yang menjawab? Boleh aku bergabung dengan kalian?" Lelaki yang dipanggil Jef itu, bertanya dengan tatapan yang tak lepas dari Hana.


"Boleh, Jef. Silahkan. Tak ada yang melarang." Hana menjawab tenang. Nada bicaranya terdengar santai dan biasa. Memang, sekarang memang tak ada perasaan apapun untuk Jef.Bagi Hana, Jef hanyalah teman sekolahnya dulu.


"Oh terima kasih. Kau sepertinya datang sendiri. Dimana suamimu?" Tanya Jef yang tidak tahu apapun tentang cerita suram rumah tangga Hana.


"Dia sedang ada pekerjaan dan tidak bisa aku ajak serta untuk hadir. Jadi aku datang sendiri." Hana menjawab bohong.


Wanita itu tak menyangka, ia akan benar-benar menjumpai Jef lagi. Meski ia sudah tahu karena nama Jef juga tertera dalam surat undangan reuni, namun menjumpai Jef secara langsung, cukup membuat Hana terkejut.


"Kau tak ingin turun untuk dansa, Jane? Dan kau juga Hana?" Tanya Jef.


"Aku tak sedang datang bersama suamiku, Jef. Jane juga masih melajang tanpa kekasih saat ini. Jadi tak mungkin berdansa." Jawab Hana skeptis.


Dulu, Hana dan Jef memang memiliki kisah cerita sewaktu keduanya sama-sama duduk di bangku sekolah menengah atas. Jefry yang notabenenya diatas satu angkatan Hana, sempat tertarik dan jatuh hati pada Hana. Siapa sangka, setelah Jef lulus dan Hana baru naik ke kelas dua belas, Jef melanjutkan studi kedokteran di London kala itu. Mereka berpisah tanpa Jef pamit pada Hana. Pergi begitu saja.


"Oh begitu? Aku juga sedang datang sendiri. Diantar kalian, ada yang mau berdansa denganku?" Tanya Jef pada keduanya.

__ADS_1


"Oh, tidak. Kurasa Jane lebih bersedia. Aku lebih suka duduk dan menikmati kopiku. Jangan khawatir, aku akan tetap disini." Ungkap Hana. Wanita itu lantas menyesap kopi hitamnya dengan anggun.


Jef yang melihat Hana, meneguk salivanya yang terasa menggumpal di tenggorokan. Setelah sekian lama, Jef rupanya masih memiliki reaksi yang sama seperti delapan setengah tahun yang lalu.


"Kau ini apa-apaan? Lebih baik kau saja, Hana. Aku tak bisa dansa, kau tahu itu sejak dulu." Jane berkata, seraya memukul pelan lengan Hana. Ia tak habis pikir pada sahabatnya itu. Bisa-bisanya Hana menyuruhnya berdansa.


"Tak masalah, Jane. Jef orang yang baik, dia pasti akan mengajarimu." Hana menjawab sambil tertawa renyah.


Sebagai seorang wanita yang masih berstatus sebagai istri dari Tirta Rahardja, Hana berpikir ia tak mungkin sembarangan untuk berdansa dengan pria lain. Lagi pula, Hana tak memiliki rasa apapun lagi terhadap pria yang meninggalkan dirinya di masa lalu. Setiap laki-laki yang sudah membuatnya terluka, Hana kehilangan rasa dihatinya begitu saja. Begitulah karakter seorang Hana.


"Tidak, Hana, Jef. Terima kasih. Dan kau, lebih baik kau saja yang menemani Jef berdansa, Hana. Tak ada salahnya. Lagipula hanya berdansa." Jane kembali mendorong Hana. Sayangnya, Hana menatapnya tajam.


"Aku menunggu saja keputusan kalian." Jef berkata santai. Lelaki itu intens memandang Hana.


"Jangan macam-macam, Jef. Aku masih istri orang." Hana berkata datar. Tetapi yang ada, itu justru semakin menantang jiwa Jef saat ini.


"Kita hanya akan berdansa, Hana. Bukan untuk tidur bersama ataupun melakukan hal yang intim. Lagipula ini adalah tempat yang ramai." Jef menjawab masuk akal. Dan Hana tak bisa berkata lagi, ketika Jef menarik tangannya.


Dengan menatap tajam Jane yang terkikik kegirangan, Hana meninggalkan meja dan turun ke lantai dansa yang tak jauh dari meja Jane. Jane hanya duduk mengawasi, dengan menyalakan pematik korek untuk menghisap rokoknya.


"Kita hanya berdansa, tak akan ada apa-apa, oke?" Jef memastikan Hana agar Hana tak menolaknya. Akhirnya, Hana tak menolak dan pasrah saja. Ia pikir, baiklah, hanya berdansa dan tidak lebih.


"Baiklah. Asal kau menjaga batasanmu, aku tak akan masalah." Ungkap Hana kemudian.


Keduanya lantas berdansa bersama, tanpa ada perbincangan apapun cukup lama. Hingga kemudian suara Jef memecahkan kebisuan panjang keduanya.


"Bagaimana kabarmu, Hana?" Tanya Jef yang berdansa pelan dengan Hana.


"Untuk apa bertanya lagi, Jef? Jane sudah menjawab tanyamu tadi." Jawab Hana. kemudian.

__ADS_1


"Tapi aku tak puas dengan jawaban Jane. Aku ingin mendengarnya sendiri darimu." Ungkap Jef kemudian. Lelaki itu tak sedikitpun melepaskan pandangannya dari wajah cantik Hana. Cantik dan menawan hati. Itulah isi pikiran Jef.


Hana memang tampil lebih memukau daripada sewaktu SMA dulu. Bahkan, tubuh wanita itu lebih menarik dan lebih sintal, padat berisi, dan lebih seksi daripada saat terakhir kali Jef bertemu dengannya.


"Aku baik. Sangat baik." Hana menjawab apa adanya.


"Aku tahu kau baik, tapi tidak dengan rumah tanggamu." Jef menimpali.


"Kau kenapa bicara begitu?" Tanya Hana, yang sedikit gentar bila Jef mendengar cerita tentang rumah tangganya.


"Kau tak akan datang sendiri tanpa suami, jika rumah tanggamu sedang baik-baik saja." Jawab Jef dengan cerdas.


"Sudah aku katakan, dia sibuk dengan pekerjaannya. Kenapa kau berpikiran yang macam-macam tentang suamiku?" Tanya Hana tak mengerti.


"Kau yakin ingin mendengar jawabanku, Hana? Kau ingin tahu mengapa aku berpikiran yang tidak-tidak tentang dirimu?" Jef bertanya balik.


Jef menatap sepasang mata bening yang penuh luka itu. Sejak dulu, Hana memang tak pandai menyembunyikan kilat emosinya. Jef saja hapal dibuatnya. Kilat luka itu, cukup membuat Jef penasaran. Hal itu juga cukup membangkitkan sesuatu yang sudah tidur lama dalam dada lelaki itu.


"Ya, katakan saja." Hana menatap Jef lekat seraya terus bergerak dalam dansa ringan. Wanita itu mulai sedikit terganggu karena pertanyaan aneh Jef.


"Aku berpikiran buruk tentang rumah tanggamu, karena aku masih memiliki rasa itu padamu, Hana. Tidakkah kau mampu menangkap gelagat itu dariku?" Jef menjawab dengan suara yang khas dan dalam.


Duarrr ...


Jantung Hana mencelos, wanita itu segera menghentikan gerakan dansanya dan mundur dua langkah dari Jef.


'Tidak, ini tidak bisa dibiarkan.'


Hana membatin.

__ADS_1


Tanpa Hana sadari, seseorang telah memotret dirinya ketika ia masih berdansa dengan Jef.


**


__ADS_2