
Nyaman yang mulai muncul.
Di sebuah kamar yang cukup luas, seorang pria tengah merebahkan dirinya diatas ranjang. Sebuah ingatan tentang masa lalu, menari di kepala Jefry, seolah Jef tengah bernostalgia dengan lembar demi lembar kenangan saat bersama Hana, sekitar kurang lebih sembilan tahun lamanya.
Gihana Atmadja, sosok satu-satunya wanita yang mampu membuat Jefry bergetar. Bahkan harum keringatnya saja, masih terngiang-ngiang di kepala Jefry hingga saat ini.
Sayangnya, takdir begitu jahat karena telah membuat Jefry berpisah dengan Hana. Pemaksaan yang dilakukan oleh mamanya Jef untuk melanjutkan studi ke London, membuat Jef tak memiliki waktu untuk berpamitan pada Hana.
Setelah mendapatkan undangan reuni saat itu, hati Jef yang semula kosong dan hampa, mendadak berwarna kembali. Terlebih, nama Gihana Atmadja tertera desana. Membayangkan. kembali bertemu dengan Hana, Jef seolah menemukan semangat baru.
Tetapi Jef sangat terpukul, saat mendapati nama Rahardja yang tersemat di belakang nama Gihana. Bahkan ketika Hana menikah dengan lelaki lain, Jef tak mendapatkan undangan.
Sekali lagi, Jef mendesah lelah. Hatinya terasa sulit menerima ini semua. Bila merebut istri orang tidak termasuk dalam daftar perbuatan yang melanggar, bisa dipastikan Jef akan dengan sukarela melakukan itu sekarang juga. Demi Hana, Jef ingin sekali menentang dunia dan membawa kabur Hana ke planet lain.
"Jef, kau belum tidur? Bukankah katanya kau lelah? Dan lagi, kau besok pagi ada jadwal bedah pasien, bukan?" Amira, ibu Jef datang dan menghampiri Jefry. Satu-satunya orang tua Jef yang masih tersisa, membuat Jef tersadar dari lamunannya.
"Aku tak bisa tidur, Ma. Mama tahu sendiri jika aku sulit tidur belakangan ini." Jefry menjawab pelan. "Mama sendiri kenapa tidak tidur?"
"Mama sulit tidur juga. Memangnya, apa yang kau pikirkan sampai kau sulit tidur juga?" Amira bertanya dan duduk tepat disamping Jef. Ranjang empuk berukuran king size itu, di duduki berdua oleh Amira dan Jefry.
"Aku memikirkan seseorang yang sudah lama aku tinggalkan, Ma. Dia kutemukan kembali, sayangnya, ia telah bersuami." Jef berkata, sambil memeluk mamanya dari arah samping.
"Jangan macam-macam, Jef. Jangan pernah sekali-kali kau mengejar wanita yang telah bersuami. Ingat, kau tidak boleh merendahkan dirimu sendiri di depan orang lain. Mama menyekolahkan dirimu hingga ke London, agar kau menjadi dokter dengan prestasi yang cemerlang. Jangan lupa juga, kau harus menjadi orang baik dan berpegang teguh pada prinsip dan pendirian. Mama hanya tidak mau nanti kau tersesat, nak." Amira menatap putranya penuh sayang. Satu-satunya anak yang Amira miliki, dan juga satu-satunya keluarga yang tersisa, hanyalah Jefry saat ini.
Tanpa Amira minta, perasaan rasa bersalah itu kembali muncul. Dada wanita itu mendadak nyeri, bila ia mengingat sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat dari Jefry. Jefry telah dewasa, harusnya Jefry tahu. Tetapi Amira hingga kini tak juga siap untuk mengatakannya pada Jef.
__ADS_1
'Kau sudah dewasa, nak. Tetapi Mama masih belum siap membuka tabir masa lalu Mama.'
Amira bermonolog di dalam hati.
"Aku tahu. Tetapi aku harus mencari tahu tentang keluarganya, Ma. Dia sudah mencuri hatiku tanpa sisa. Harusnya sembilan tahun itu adalah waktu yang cukup untuk bisa melupakannya, sayangnya, aku tidak mampu sampai sekarang," ungkap Jef.
"Memangnya jika boleh tahu, siapa sosok wanita yang sudah memiliki hati putraku ini?" Amira bertanya pelan.
"Dia, Gihana Atmadja. Tetapi sebuah nama belakang yang disematkan padanya oleh suaminya, membuatnya tidak bisa menerimaku lagi," ujar Jef.
"Memangnya, siapa nama belakang suaminya?" Amira bertanya pelan.
"Rahardja. Nama suaminya adalah Tirta Rahardja, dan nama wanita itu adalah Gihana Atmadja Rahardja," jawab Jef.
Tanpa Jefry sadari, kilat mata mama Jef itu mendadak penuh dengan kerumitan.
**
Sepanjang perjalanan, Hana hanya terdiam tepat disamping suaminya. Tunggal Daniel itu takut jika nanti setelah tiba di tempat, Tirta meminta haknya sebagai suami. Hana tak ingin suaminya itu menyentuhnya lagi, terlebih, Hana masih belum memakai kontrasepsi untuk mencegah kehamilan.
Sebuah tujuan perpisahan yang membuat Hana kokoh bertahan tak ingin disentuh suaminya, membuat wanita itu membekukan hatinya. Andai saja Hana bisa sedikit saja memberikan celah bagi Tirta, atau kesempatan kedua untuk memperbaiki diri, mungkin ia bisa kembali memiliki cinta untuk Tirta.
"Apa yang kau pikirkan, Hana? Kau baik-baik saja?" tanya Tirta kemudian. Lelaki itu merasa tak nyaman juga saat melihat Hana bertingkah layaknya seseorang yang sedang tertekan.
"Aku baik-baik saja, Tirta," Hana menatap Tirta sekilas, sebelum kembali lurus pandangan ke depan.
__ADS_1
"Tetapi kau sepertinya agak lain. Apakah kau sebenarnya enggan berlibur? Apa aku memaksamu?" Tirta bertanya datar.
"Aku, aku hanya sedang merasa lelah. Mungkin karena aku belum tidur siang," bohong Hana.
"Kau terbiasa tidur siang?" tanya Tirta kemudian.
"Tidak. Biasanya tidak begini. Hanya saja, karena tadi cukup lama bertemu Jane, jadi aku kelelahan dan ingin tidur," jawab Hana.
"Apakah kau sengaja bertemu dengan Jefry di rumah Jane?" Hana dibuat terkejut oleh pertanyaan Tirta.
"Tidak. Jef datang begitu saja, begitu aku tahu dia datang, aku segera pulang," jawab Hana datar.
Bukan sesuatu yang mengherankan lagi, bila Tirta tahu semua yang Hana lakukan. Ada sopir yang memantau semua aktivitas Hana di luar rumah. Hana semakin tak bebas dan tak memiliki privasi di mata Tirta.
"Bagus. Jangan ada pengkhianatan untuk sebuah rumah tangga, Hana. Aku ingin memperbaiki hubungan denganmu. Kau tahu, selama kau pergi dua tahun lamanya, aku begitu mendambakan rumah tangga yang utuh dan berhasil hingga kita menua bersama," ungkap Tirta.
Hana hanya tersenyum, senyum penuh kepalsuan. Andai Tirta tahu, hati Hana saat ini berteriak kencang, sebuah teriakan yang mengucapkan bahwa Hana tak akan membiarkan itu semua terjadi. Sayangnya, Hana seolah tak mampu mengatakannya.
"Hana, aku ingin memiliki banyak anak darimu. Bagaimana menurutmu?" tanya Tirta tiba-tiba.
"Terserah kau saja," lirih Hana. Wanita itu kemudian sedikit memejamkan mata, berpura-pura mengantuk agar suaminya itu tidak melanjutkan perbincangan.
"Kau mengantuk? Bersandar lah di bahuku," ujar Tirta kemudian. Hana menurut saja, tak ingin membantah karena itu hanya akan membuang tenaganya.
Baru saja Hana merebahkan kepalanya di bahu suaminya, Hana merasakan sebuah kenyamanan yang selama ini tak pernah ia dapatkan. Ini terasa aneh, namun rasa nyaman itu berhasil membuat Hana mengantuk sungguhan. Bukankah ini ajaib? Dan Hana tertidur dengan sendirinya, dalam pelukan Tirta dan bersandar di dada suaminya itu.
__ADS_1
**